Search

Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Ketika Syekh Qardhawi Akui Kesalahan Fatwanya

Posted by Zam on Sunday, June 9, 2013


Syekh Dr Yusuf Qardhawi adalah ulama besar Sunni. Ia merupakan ketua Persatuan Ulama Dunia. Doktor fikih dari Universitas Al Azhar, Kairo, kelahiran 9 September 1926 di desa kecil bernama Shafth di tengah Delta Nil, Mesir, ini telah menulis puluhan buku dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Pandangannya selalu menjadi fatwa dan rujukan umat Islam dunia. Fatwa-fatwanya bukan hanya seputar ibadah dan muamalah, tapi juga mencakup berbagai masalah, dari politik, demonstrasi hingga revolusi rakyat melawan rezim penguasa yang zalim.

Qardhawi bahkan tidak hanya berfatwa, tapi juga ikut aktif dalam kegiatan politik. Itulah sebabnya, ketika pecah revolusi rakyat Mesir untuk menjatuhkan rezim Presiden Husni Mubarak pada awal 2011, ia pun terbang dari Qatar (tempatnya bermukim) ke Kairo. Ia bergabung dengan rakyat Mesir ikut berdemonstrasi. Selain memberi orasi di depan para demonstran, ulama berusia 87 tahun itu juga memimpin shalat Jumat di lapangan Tahrir. “Mubarak harus mundur dari kursi presiden,” katanya dalam khotbah Jumat, ketika itu. Alasannya, rakyat telah mencabut mandatnya kepada sang pemimpin Mesir itu.

Terhadap konflik di Suriah, Qardhawi juga mengeluarkan fatwa mengenai boleh dan tidaknya unjuk rasa melawan rezim penguasa. Menurutnya, menjatuhkan sebuah rezim dibolehkan alias halal manakala ada kezaliman dan penghilangan terhadap hak asasi manusia. Atas dasar itu, Qardhawi yang hafal Alquran pada usia 10 tahun ini memperbolehkan aksi unjuk rasa, bahkan revolusi melawan penguasa yang dianggap zalim, terutama mereka yang menyengsarakan rakyat, seperti rezim Presiden Bashar Assad.

Barangkali, karena fatwanya yang memperbolehkan menjatuhkan rezim Assad itulah Syekh Qardhawi kemudian mengakui kesalahan fatwa sebelumnya yang pernah ia ucapkan. Pada 2006, Qardhawi menyatakan wajib hukumnya mendukung Hizbullah dan pemimpinnya, Syekh Hasan Nasrullah dalam menghadapi serangan Israel ke Lebanon. “Saya pernah membela-selama bertahun-tahun-Hasan Nasrullah yang menamai partainya Partai Allah (Hizbullah), padahal partai itu adalah partai tirani (thoghut) dan partai setan. Mereka membela Bashar Assad,” katanya dalam sebuah pidato di Qatar, beberapa hari lalu.

“Saya (waktu itu) harus berlawanan dengan para ulama dan syekh besar di Arab Saudi untuk membela Hizbullah. Namun, ternyata para syekh (ulama) Saudi lebih dewasa daripada saya. Mereka berpandangan lebih jauh ke depan. Mereka (ulama Saudi) terbukti mengetahui siapa sebenarnya Hizbullah itu,” lanjut Qardhawi mengoreksi fatwanya yang pernah mendukung Hizbullah dan Hasan Nasrullah.

Dalam konflik di Suriah sekarang ini, Hasan Nasrullah secara terang-terangan menyatakan mendukung rezim Bashar Assad yang dinilai Qardhawi sebagai penguasa zalim. Tentara Hizbullah dan Bashar Assad saling membantu merebut Kota Qusair dari tangan para pejuang revolusi Suriah. Qusair adalah kota strategis bagi Assad untuk mempertahankan kekuasaannya. Pasukan Assad menyerang dari udara, sementara tentara Hizbullah dari darat. Puluhan orang tewas dalam pertempuran ini. Sebagian besar adalah para pejuang revolusi Suriah.

Syekh Qardhawi bukan hanya mencabut fatwa dukungannya terhadap Hasan Nasrullah dan Hizbullah, melainkan juga terhadap Iran. Katanya, dalam sebuah pidato di Qatar, “Selama ini dan sudah berlangsung bertahun-tahun saya menyerukan pendekatan antarmazhab (taqrib bainal madzahib). Untuk itu, saya terbang ke Iran saat dipimpin Presiden Mohammad Khatami. Mereka telah menertawakan saya dan banyak orang seperti saya. Mereka sebenarnya berpura-pura ketika menginginkan pendekatan antarmazhab.”

Pengakuan Syekh Qardhawi mengenai kesalahan fatwanya tadi kontan saja menjadi berita besar di berbagai media Arab, baik cetak, online, maupun televisi. Bukan hanya menjadi berita, mereka juga menurunkan berbagai ulasan dari sudut pandang yang berbeda-beda. Tapi, intinya hanya satu bahwa para ulama dan pemimpin Arab, terutama dari negara-negara Teluk, kini dihantui kekhawatiran mengenai semakin meluasnya pengaruh Syiah di kawasan Timur Tengah. Mereka munuduh Iran ingin menciptakan poros Syiah Teheran-Damaskus-Beirut. Apalagi, Iran selama ini secara terang-terangan juga membela rezim Presiden Bashar Assad.

Menurut pengamat Timur Tengah Abdul Rahman Al-Rasyid, Syekh Qardhawi tidak salah ketika melemparkan keinginannya untuk mendekatkan mazhab-mazhab dalam Islam. Ia juga tidak salah ketika menyerukan perlunya saling bahu-membahu antarpemimpin Muslim. Ide Syekh Qardhawi, lanjut Al-Rasyid, adalah sangat baik dan terpuji. Yang salah adalah ia (Qardhawi) kurang memahami strategi politik yang dimainkan oleh para pemimpin negara-negara di Timur Tengah, terutama para pemimpin Iran.

Yang jelas, pernyataan Syekh Qardhawi yang mencabut fatwa dukungannya terhadap Hizbullah di Lebanon Selatan dan Syekh Hasan Nasrullah serta keraguannya terhadap pendekatan antarmazhab dengan para ulama Iran akan berpengaruh luas terhadap perkembangan di kawasan Timur Tengah. Kawasan panas ini akan terus bergolak. Bukan hanya menghadapi penjajahan dan pendudukan oleh Zionis Israel, tapi juga kekhawatiran terjadinya gesekan antara penganut Sunni dan Syiah, seperti yang kini sedang berlangsung di Irak, Suriah, Lebanon, dan Bahrain. Wallahu a'lam.[]

Penulis : Ikhwanul Kiram Mashuri
Sumber : Resonansi Republika
More about → Ketika Syekh Qardhawi Akui Kesalahan Fatwanya

8 Orang Terkaya di Dunia

Posted by Zam on Monday, May 20, 2013


Bloomberg Billionaire Index merilis daftar orang-orang terkaya dunia, Jum'at (17/5) lalu. Namun, dalam daftar itu ada satu orang paling kaya yang terlewatkan.

Inilah 8 orang terkaya di dunia; peringkat 8 hingga peringkat 2 sama dengan 7 orang terkaya versi Bloomberg:






Orang terkaya nomor 8:

David Koch
Kekayaan: US$ 45,2 miliar (Rp 429,4 triliun)




Orang terkaya nomor 7:

Charles Koch
Kekayaan: US$ 45,2 miliar (Rp 429,4 triliun)




Orang terkaya nomor 6:

Ingvar Kamprad
Kekayaan: US$ 55,5 miliar (Rp 527,25 triliun)




Orang terkaya nomor 5:

Amancio Ortega (Rp 577,4 triliun)
Kekayaan: US$ 56 miliar




Orang terkaya nomor 4:

Warren Buffett
Kekayaan: US$ 59,6 miliar (Rp 566,2 triliun)




Orang terkaya nomor 3:

Carlos Slim
Kekayaan: US$ 72,1 miliar (Rp 684,9 triliun)




Orang terkaya nomor 2:

Bill Gates
Kekayaan: US$ 72,7 miliar (Rp 690,6 triliun)




Orang terkaya nomor 1:
Anda, jika menunaikan shalat Fajar
Kekayaan: Lebih dari dunia seisinya

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
“Dua raka’at shalat Fajar lebih baik dari pada dunia dan seisinya” (HR. Muslim, Tirmidzi, An-Nasa'i dan Ahmad)
More about → 8 Orang Terkaya di Dunia

Curhat atau Ghibah?

Posted by Zam on Thursday, May 2, 2013


Saya masih ingat kata-kata ustadzah saya sewaktu mentoring di SMA dulu. “Mau apapun yang diomongkan tentang seseorang, baik itu keburukan atau kebaikannya sekalipun, kalau orang tersebut tidak ridha, maka itu bisa menjadi ghibah, dek”.

Saya yang waktu itu masih duduk dikelas satu SMA hanya manggut-manggut mendengar kata-kata ustadzah, seolah paham dengan apa yang beliau katakan. Tapi pada akhirnya saya terjerumus juga. Dengan dalih curhat, saya seolah melegalkan ghibah saya terhadap seseorang. Mungkin awalnya hanya membicarakan kebaikan, tapi lama-lama menjerumus kesemua celah orang tersebut.

Contohnya begini. “Eh, si Fulan itu shalih, rajin, pinter, tapi kok yaa... bla... bla....” dan akhirnya kata “tapi” nya lebih banyak.

Atau seperti ini: “Aku kemaren di-sms si Fulanah. Dia mengatakan aku begini dan begini” sambil menunjukkan sms, sementara yang di “curhatin” penasaran melihat hpnya.
“Iya, aku kesel sama Fulanah. Masak ngatain aku seperti itu”

Tuh, ujung-ujungnya ghibah kan???

Ghibah, ya ghibah. Dalam bahasa lainnya ada yang menyebut dengan kata nggosip, nggunjing, atau bahasa gresiknya ngerasani. Membicarakan orang lain tanpa sepengetahuannya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Apakah kalian mengetahui apakah ghibah itu?’ para sahabat menjawab ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Kemudian beliau bersabda ‘Kamu menceritakan tentang saudaramu sedang ia tidak senang (jika hal itu diceritakan).’ Ditanyakan kepada beliau : ‘Bagaimana jika yang aku katakan ini benar adanya?’ Beliau bersabda: ‘Apabila engkau mengatakan sesuatu (yang buruk) kemudian itu benar, maka kamu telah ghibah, dan apabila yang kamu katakan itu tidak benar maka kamu telah menuduhnya (memfitnahnya).’ (HR. Muslim)

Kalau dalam hadits di atas dikatakan “kamu menceritakan saudaramu sedang ia tidak senang jika hal itu diceritakan”. Itu artinya entah itu berupa kebaikan atau keburukan orang tersebut selama orang itu tidak ridha hal itu diceritakan maka akan menjadi ghibah.

Saudaraku, saking tercelanya ghibah, Allah mengumpamakan seorang yang ghibah, seperti memakan bangkai saudaranya. Seperti yang tertera dalam al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 12 yang artinya “.... dan janganlah menggunjing satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka makan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha penerima taubat lagi maha penyayang”

Dalam ayat tersebut dijelaskan bagaimana seorang yang menggunjing saudaranya seperti seorang yang makan bangkai saudaranya yang kita pun merasa jijik dengan hal itu. Hayoo apa kita mau memakan bangkai saudara kita sendiri? Bangkai ayam saja kita ndak mau apalagi ini bangkai saudara kita sendiri?

Saudaraku, sungguh sangat beda tipis antara ghibah dan curhat. Kalau curhat, tujuan kita adalah untuk mencari akar permasalahan dan solusi terhadap orang tersebut, sedang ghibah hanya untuk mencari aib dan kekurangan sudara kita. Namun kalau kita tidak hati-hati kita bisa terjerumus kedalam jurang ghibah yang siksanya sangat pedih.

Mungkin kita awalnya berniat curhat, tapi kalau curhatnya terus menerus tentang si Fulan atau Fulanah atau kalau kita tidak hati-hati maka lama-lama tanpa kita sadari akan menjadi ghibah.

Akhwati fillah, di dalam kitab Riyadush Shalihin dijelaskan, ada beberapa ghibah yang diperbolehkan dengan tujuan yang sah menurut ketentuan syar’i, hal ini dikarenakan enam sebab :

Yang pertama pengaduan, yakni pengaduan orang yang terdzalimi kepada hakim atau penguasa. Misalkan si fulanah mengadukan si fulan kepada orang tuanya karena telah didzolimi olehnya. Dengan harapan akan ada solusi dari orang tua.

Yang kedua meminta bantuan agar dapat mengubah kemungkaran atau agar dapat mengembalikan orang yang bermaksiat kepada kebenaran. Misalkan “si fulan telah melakukan begini, maka cegahlah”

Yang ketiga meminta fatwa. Misalkan “si dia mempunyai masalah seperti ini, bagaimana menurut pendapatmu?”

Yang keempat memperingatkan kaum muslimin dari keburukan atau memberikan nasehat kepada mereka. Yaitu dengan beberapa cara, antara lain:
- Menetapkan cela terhadap perawi hadits yang memang memiliki cela.
- Bermusyawarah tentang kekeluargaan melalui perkawinan seseorang, penitipan seseorang, interaksi atau kehidupan bertetangga lainnya.
- Apabila orang yang mengerti agama berinteraksi dengan orang yang suka berbuat bid’ah atau dengan orang yang fasik sehingga dikhawatirkan ada akses buruk bagi orang yang mengerti agama tersebut.
- Seorang yang tidak menjalankan tanggung jawab atau amanah kekuasaan, baik karena memang tidak layak atau memang karena pemegang jabatan tersebut memang fasik atau lalai.

Yang kelima seorang fasik yang menampakkan kefasikan atau bid’ah seperti membanggakan diri dengan meminum-minuman keras, menyandera orang, memungut pajak liar, merampas harta orang, senang berbuat aniaya dan sebagainya.

Dan yang keenam, identitas. Apabila seeseorang sudah dikenal dengan ciri-ciri tertentu sehingga menjadi identitas, seperti si bisu, si mata juling, dan sebagainya.

Itulah enam faktor yang menjadikan ghibah diperbolehkan oleh kesepakatan oleh para ulama. Selain dari itu tidak diperbolehkan. Meskipun niatnya curhat mengenai seseorang. Karena curhat yang tidak hati-hati dan tidak membawa mashlahat atau kebaikan apapun bagi yang curhat, pendengar curhatan atau orang yang menjadi objek curhat akan menjadi ghibah juga.

Semoga ini dapat menjadi bahan renungan kita bersama. Agar lebih hati-hati lagi dalam menjaga lisan, berkata-kata, walau cuman hal yang sepele. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa dia mendengar Rasulullah bersabda “Kadangkala seorang mengatakan hal yang sepele, tetapi bisa mengakibatkan ia terjeremus kedalam neraka yang lebih jauh jaraknya daripada jarak antara timur dan barat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Waallahu a’lam bish shawab. [Ukhtu Emil]
More about → Curhat atau Ghibah?

Birrul Walidain

Posted by Zam on Friday, April 19, 2013


Dikisahkan bahwa Abdullah bin Umar melihat seorang pemuda yang thowaf sambil menggendong ibunya. Setelah selesai thowaf pemuda tersebut mencari Abdullah bin Umar. “Hai Abdullah bin Umar, apakah yang aku lakukan ini bisa membalas kebaikan ibuku?” tanya pemuda itu ketika berhasil menemui Abdullah bin Umar.

Abdullah bin umar lalu diam sejenak, lalu berkata “Hai pemuda, seandainya engkau sa'i antara shafa dan marwah, engkau mabit di muzdalifah, wuquf di arafah dan itu engkau lakukan sambil menggendong ibumu, maka sedikitpun tak akan bisa menggantikan satu nafas ibumu saat melahirkan”

Sungguh perjuangan yang luar biasa dari seorang ibu hingga tak dapat terbalaskan dengan apapun. Oleh karena itulah mengapa Rasulullah menyebut kata ibu sebanyak 3 kali dalam haditsnya. Meskipun perjuangan seorang ayah juga besar. Seorang ayah berjuang mati-matian bekerja demi menghidupi keluarga.

Maka tak sepatutnyalah kita menyakiti perasaan ibu dengan mendurhakainya. Seperti yang terjadi di zaman sekarang. Banyak anak yang tega membentak ibunya, malu karena profesi ibunya, bahkan sampai tega membunuhnya. Dalam Al Qur’an ditegaskan bahwa berkata “ah” saja tidak boleh, apalagi sampai membentaknya, menyakiti perasaanya.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al Isra' : 23)

Saudaraku... ridha Allah tergantung pada ridha orang tua. Apapun yang kita lakukan kalau orang tua ridha, insya Allah, Allah pun akan ridha selagi itu masih dalam hal kebaikan. Begitu pula dengan murkanya. Maka jangan sekali-kali kita menyakiti perasannya dan membuatnya murka.

Saudaraku, sungguh tak ada satu amalpun yang dapat menggantikan jasa dan jerih payah mereka. Bahkan kisah seorang pemuda di atas. Maka setidaknya, kita jadikan diri kita sebagai jalan bagi kedua orang tua kita masuk surga. Diantaranya adalah dengan menjadi anak yang shalih. Seperti yang disebutkan Rasulullah dalam haditsnya, “Jika seorang manusia mati, terputus darinya amalnya kecuali dari 3 (perkara) : shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfa’at dan anak shalih yang berdo’a baginya”. (HR. Muslim).

Dalam hadits tersebut disebutkan bahwah salah satu amal yang pahalanya terus mengalir adalah anak shalih yang mendoakan kedua orang tuanya. Maka jika kita merenungi hadits tersebut, tak sepantasnya kita mendurhakai kedua orang tua kita dengan menjadi anak yang tidak shalih.

Yang kedua adalah menjadi penghafal Qur’an. Dengan menjadi penghafal Qur’an, maka kita akan menghadiahkan kepada orangtua mahkota kemuliaan yang cahayanya lebih terang daripada cahaya matahari di dunia.

“Penghafal Al Qur’an akan datang pada hari kiamat, kemudian Al Qur’an akan berkata: Wahai Tuhanku, bebaskanlah dia, kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah (kehormatan), Al Quran kembali meminta: Wahai Tuhanku tambahkanlah, maka orang itu diapakaikan jubah karamah. Kemudian Al Quran memohon lagi: Wahai Tuhanku ridhailah dia, maka Allah meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu, bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga), dan Allah menambahkan dari setiap ayat yang dibacanya tambahan nikmat dan kebaikan” (HR. Tirmidzi)

Wallahu a'lam bish shawab. [Ukhtu Emil]
More about → Birrul Walidain

Terapi Galau dari Al Qur'an

Posted by Zam on Wednesday, April 17, 2013


Masa muda adalah masa-masa mengukir prestasi. Namun, masa muda juga identik dengan kelabilan emosi sehingga kita sering menjumpai remaja dan pemuda yang dilanda galau. Bahkan mereka mendemonstrasikan kegalauannya melalui media sosial, terlihat dari status-status mereka di facebook, misalnya.

Tapi sepertinya bukan hanya kaum remaja yang kelabilan emosinya menonjol, orang dewasa yang harusnya menjadi panutan pun sering kali mengalami desperate yang bukan hanya merugikan dirinya tapi juga orang lain. Tuntutan hidup seringkali membuat orang semakin bejibun dengan problematika yang penuh konflik dan tantangan.

Ketika aku masih duduk di bangku SMP dulu, aku juga mengalami masa yang sangat desperate. Saat itu lingkungan super duper tidak mendukung perjalananku beranjak gede hingga hal yang sering kita dengar bagi remaja yang frustasi –'suicide'– menghinggapi.

Untunglah aku kemudian mendapatkan obat untuk galau yang menimpaku. Di saat itu Allah menunjukkan hal lain yang kini aku teringat dan ingin kubagi pada siapapun, khususnya mereka yang mengalami "galau" sedang ada pada ranking teratas perasaan hati.

Jawaban galau itu tidak lain adalah Al-Qur'an. Waktu itu kutemukan artikel pada sebuah web, yang saat ini sudah tidak ada lagi. Syukurlah aku telah menulisnya dan simaklah kawan...

Kenapa Aku Diuji ?
QS. Al Ankabut : 2-3

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?”

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
“Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”

Kenapa Aku Tidak Mendapatkan Apa Yang Aku Idam-idamkan?
QS. Al Baqarah : 216)

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Kenapa Ujian Seberat Ini ?
QS. Al Baqarah : 286

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".

Bagaimana Menyikapi Rasa Frustasi ?
QS. Ali Imran : 139

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِي

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”

Sungguh, Aku Tak Dapat Bertahan Lagi …. !!!
QS. Yusuf : 87

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir".

Bagaimana Aku Harus Menghadapi Persoalan Hidup ?
QS. Ali Imran : 200

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.”

Apa Solusinya ?
QS. Al Baqarah : 45-46

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu´,”

الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”

Siapa Yang Menolong Dan Melindungiku?
QS. Ali Imran : 173

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
“(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung".

Kepada Siapa Aku Berharap?
QS. At Taubah : 129

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
“Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ´Arsy yang agung".

Apa Balasan Atau Hikmah Dari Semua Ini?
QS. At Taubah : 111

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.”

Kawan... kapanpun galau mendatangimu, kembalilah kepada Al-Qur'an. Dan temukan jawaban serta solusinya di sana. [Gresia Divi]
More about → Terapi Galau dari Al Qur'an

Jujur dalam Berbisnis

Posted by Zam on Sunday, March 31, 2013


Kalau kita memulai pembicaraan tentang jujur dalam berbisnis, maka kita mulai dengan mendefinisikan apa itu sesungguhnya jujur. Kalau kita lihat arti kata jujur dalam bahasa Arab, ash-shidqu berarti al-ikhbaru, memberikan informasi, menyampaikan tentang sesuatu dimana apa yang disampaikan itu sesuai dengan kenyataan.

Dalam dunia bisnis juga seperti itu, kita harus berbuat jujur, misalnya dalam menjual produk makanan atau minuman. Kemasan yang dijual harus sama dengan isinya, sesuai hasil laboratorium hasilnya baik maka dicantumkan baik berarti dia jujur. Sementara itu jika berbeda maka itu maka penjual itu sedang berbohong

Di dunia marketing kalau dia mengatakan sesuatu untuk mempromosikan produk nyata maka sesungguhnya dia lakukan haruslah sesuai. Jika berbeda saat itu maka dia berbohong.

Bagaimana kita bisa jujur dalam berbisnis
Ada satu hal yang harus kita fahami bahwa sebagai seorang muslim itu ada proses dan tujuan.

Bisnis adalah bagian dari ibadah yaitu untuk mencari nafkah menghidupi dirinya, keluarga , anak anaknya dan orang orang yang ditanggungnya sehingga terhindar dari meminta minta, dan menggantungkan orang lain.

Dilihat dari tujuan baik, maka prosesnya harus juga baik. Kalau yang kita lakukan berbohong bisa jadi akan menghasilkan yang haram atau bisa jadi tidak berkah.

Jangan pernah merasa rugi dalam berbuat jujur
"Berbisnis dengan bohong saja rugi bagaimana dengan jujur?" itu adalah mitos yang harus kita buang jauh jauh dari dalam pikiran kita. Dengan berbohong maka dunia akhirat kita sudah rugi

Seperti dalam al Quran surat Mutaffifin: “Celakalah bagi orang orang yang curang dalam menakar dan menimbang”

Sementara dalam hadist disebutkan betapa mulianya pedagang yang jujur.

"Pedagang yang jujur itu nanti pada hari kiamat ia mendapatkan naungan, di saat orang lain kepanasan" []


Disarikan dari ceramah Ust. Farid Dhofir, Lc, MSi
pada acara Lazuardi Suara Surabaya dengan tema "Jujur dalam Berbisnis"


More about → Jujur dalam Berbisnis

Pengennya Sih Nikah Sama Ikhwan, Tapi...

Posted by Zam


Banyak sekali, bahkan hampir semua akhwat ingin juga mendapat suami seorang ikhwan. Tidak terkecuali diriku. Tapi apakah semudah itu? Ternyata tidak, setelah itu kualami sendiri. Maka bersyukurlah bagi saudari-saudariku yang telah mendapatkan seorang ikhwan.

Di awal-awal mengikuti taklim pekanan, persepsi yang ada di otak bahwa pernikahan adalah pemetaan dakwah. Wow, aku setuju sekali. Siapapun deh, asal ikhwan dan itu bisa memperkuat dakwah ini. Begitu lama maindset itu bersemayam, hingga... giliranku tiba. Keinginan untuk memperluas dan memperkokoh dakwah ini dengan membentuk keluarga dakwah. Hmmmm... apakah terlalu idealis?

Setelah sekian lama ternyata banyak hal yang mengagetkan maindset ku yang ketiduran itu. Teringat kisah shahabiyah yang dituturkan dari lisan murabbiyahku saat itu. Shahabiyah yang maharnya begitu agung, keislaman suaminya. Hingga Tsabit –seorang perawi hadits- meriwayatkan dari Anas, "Sama sekali aku belum pernah mendengar seorang wanita yang maharnya lebih mulia dari Ummu Sulaim, yaitu keislaman suaminya." Selanjutnya mereka menjalani kehidupan rumah tangga yang damai dan sejahtera dalam naungan cahaya Islam. Kesekian kali kisah Ummu Sulaim itu kudengar dan baru kali itu kufikirkan, bisakah aku sepertinya? Allah... sulit sekali.

Umumnya seorang akhwat juga akan mencari pendamping hidup yang juga bisa menguatkannya dalam jalan dakwah sekaligus yang bisa membimbingnya dan merengkuh perjuangan bersama. Apakah dia rela jika dia pun harus berjuang lebih untuk merengkuh suaminya agar bersama di jalan dakwah yang ia jalani hingga satu frekuensi dengannya? Serasa memulai lagi dari nol. Tapi pun bukan suatu kemustahilan jika dakwah mereka juga bisa jauh lebih melejit dibandingkan perjuangan pasangan ikhwan akhwat. Laksana kisah suami Ummu Sulaim – Abu Thalhah yang begitu luar biasa dalam dakwahnya.

Tapi lagi-lagi kukatakan itu sulit, bagi seorang aku yang mungkin amalannya jauh sekali dibandingkan Ummu Sulaim. Realita hidup tak sesederhana itu. Tapi kisah Ummu Sulaim patut dijadikan penguat. Mungkin di saat-saat seperti itu seorang akhwat sedang diuji keimanannya -percaya dan yakin– akan janji-janji Allah.

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ ۖ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ ۚ أُولَٰئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ ۖ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).” (QS. An Nur:26)

Tapi apa pun itu, tulisan ini kuakhiri dengan mengingat kembali kekuatan “mimpi”. Karena mimpi hidupku sudah setengah jalan kulalui dan tak ada kata penyesalan karena setiap hal dengan maksimal (all out). Kini tinggal setengah jalan lagi hidupku dan tak akan kusiakan. Dengan siapa pun itu, harus mempunyai berjuta planning. Agar jika sekali terjatuh, kau punya kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa kau rengkuh. Maka, bermimpilah tentang keluarga, masyarakat, dan negara yang ingin kau bentuk karena mimpimu itu bukan hal yang keliru. [Gresia Divi]
More about → Pengennya Sih Nikah Sama Ikhwan, Tapi...

Kematangan Tarbiyah Menyikapi Keputusan Jamaah

Posted by Zam on Tuesday, March 26, 2013


“Perbedaaan adalah sumber kekayaan dalam kehidupan berjamaah. Mereka yang tidak bisa menikmati perbedaan itu dengan cara yang benar akan kehilangan sumber kekayaan. Dalam ketidaksetujuan itu sebuah kepribadian akan tampak ke permukaaan: apakah kita matang secara tarbawi atau tidak."
(Anis Matta)

Dengan opening seperti di atas, apa yang Anda fikirkan setelah membacanya. Wah... sepertinya bakal serius dan terasa berat tulisan saya kali ini. Mungkin asumsi itu benar. Tapi semoga tidak mengurungkan niat untuk membaca hingga akhir, tentu saja.

Mengapa tiba-tiba terbesit ide untuk menuliskan ini? Bermula dari cerita salah satu kawan duduk saya dalam majelis iman, liqo'at pekanan. Jum’at sore, ketika pertemuan kami kali itu hampir berakhir, kawan saya tersebut mengurai sebuah cerita. Dia punya seorang teman yang berdomisili di kota yang cukup jauh dari tempat kami tinggal. Sebab jarak, hubunganpun lebih sering dilakukan via telepon. Tak jarang mereka berdua saling berbincang, bertukar fikiran dan sesekali berargumentasi. Berdebat, lebih sering orang menyebutnya. Hal yang lumrah, meski mereka berdua satu harakah, satu jamaah. Jamaah Tarbiyah.

Hingga suatu ketika, kata-kata tercetus tanpa diduga. “Apa kubilang, Pak Raden (Presiden terkini Republik Mimpi) itu antek Yahudi. Apa orang-orang jamaah kita tidak bisa melihat itu? Bagaimana mungkin jadi referensi pilihan “wajib” saat Pilpres kemarin..?? Lha coba sekarang, kita lihat kondisi jamaah kita..”babak belur” dihajar dari segala arah. Untunglah, tak kucoblos foto Pak Raden saat di bilik suara ketika itu!” Dan kawan saya hanya terbengong di ujung telepon. Tanpa sadar hatinya bimbang. Sudah salah pilih juga kah ia saat pilpres waktu itu?

Begitulah... cerita tentang teman jauh kawan saya itu sepertinya sering kita dengar atau bahkan mungkin kita terlebih saya pribadi, pernah terbesit untuk menjadi “calon” pelaku ketidak taatan pada hasil syuro para qiyadah. Pada keputusan jamaah. Sebab tak jarang kenyataaan seperti ini terjadi dalam perjalanan pergerakan dakwah kita. Sebab kenyataan seperti ini lumrah terjadi sebagai implikasi dari fakta yang lebih besar yakni adanya perbedaan pendapat yang menjadi ciri kehidupan majemuk. Demikian Anis Matta menyebutnya dalam bukunya Menikmati Demokrasi. Dan jamaah tarbiyah ini termasuk dalam kategori tersebut. Betapa tidak, para penumpang dalam gerbong kereta pergerakan dakwah ini begitu bervariasi. Semua yang hadir dan berpartisipasi dalam dakwah ini berasal dari latar belakang keluarga, sosial, dan tingkat pengetahuan yang berbeda. Dan tentu saja, tingkat kematangan tarbawi yang berbeda. Meski, proses tarbawi berusaha menyamakan sudut pandang berfikir kita sebagai kader dengan merumuskan konsep manhaj dakwah yang jelas. Namun dinamika personal tiap kader, pola menejerial organisasi, dan local culture wilayah dakwah masing–masing masih akan tetap memberi ruang bagi adanya kemungkinan munculnya perbedaan. Begitu ulasan Anis Matta dalam buku tersebut, mengenai fenomena ini.

Anis Matta juga menambahkan, ada empat hal yang mesti kita lakukan seandainya suatu ketika fenomena seperti ini “menggoda” ketsiqohan kita atas keputusan jamaah.

Pertama, merenungi dan bertanya secara jujur pada nurani kita apakah pendapat yang kita anggap lebih baik dari keputusan jamaah adalah berasal dari sebuah upaya “ilmiah” seperti kajian, pengalaman dan pembuktian lapangan yang bisa kita jadikan landasan yang kuat sehingga layak bagi kita untuk “ngotot” mempertahankannya. Dan semoga bukan hanya sekedar “lintasan fikiran sesaat” saat syuro berlangsung atau saat sebuah keputusan diumumkan. Alangkah tak pantas sebagai kader yang berilmu ngotot mempertahankan pendapat tanpa landasan yang kuat. Bahkan bila pendapat kita berasal dari proses ilmiah yang intens dan sistematis maka selayaknya yang dicontohkan para ulama, ketawadhu’an. Dengan berpegang pada kaidah “Pendapat kita memang benar, tapi mungkin salah. Dan pendapat mereka memang salah, tapi mungkin benar."

Kedua, bertanya kembali dengan lebih jujur pada diri kita. Apakah pendapat yang kita bela tersebut adalah sebuah “kebenaran objektif” murni atau malah telah terkontaminasi “obsesi jiwa” yang kadang sadar atau tidak sadar mendorong kita untuk terus “ngotot” mempertahankan pendapat kita sebagai bentuk pembelaan terhadap eksistensi diri pribadi.

Ketiga, seandainya kita tetap yakin bahwa pendapat kita lebih benar dari apa yang sudah menjadi keputusan jamaah, maka kita mesti tetap percaya bahwa mempertahankan kesatuan dan keutuhan shaff jamaah sangat jauh lebih penting dan utama jika dibandingkan sekedar memenangkan satu pendapat yang boleh jadi sejatinya memang benar. Sebab perlu kita ingat kembali bahwa berkah dan pertolongan Allah hanya turun pada jamaah yang bersatu padu bukan yang bercerai berai. Yang bahkan jika terbukti keputusan syuro tersebut keliru, maka dengan keutuhan dan keutuhan shaff jamaah yang kita jaga akan mudah bagi jamaah untuk mengurangi dampak negatif dari kekhilafan tersebut. Baik dengan mengurangi tingkat resiko yang timbul atau menciptakan kesadaran baru dalam jamaah yang bisa jadi tak akan pernah tercapai jika tanpa pengalaman “jatuh” seperti itu. Hingga hati tiap kader akan lapang menanti rahasia hikmah yang telah disiapkan Allah atas apa yang terjadi.

Keempat, sesungguhnya dalam mengelola ketidaksetujuan syuro itu kita telah dipaksa belajar banyak hal tentang makna iman, tentang makna ikhlas yang tiada batas, tentang makna tajarrud melawan hawa nafsu, tentang menjaga keutuhan ukhuwah, tentang kerendahan hati, tentang cara menempatkan diri secara tepat dalam kehdupan berjamaah, tentang tradisi ilmiah yang harus dilestarikandan kelapangan hati yang tak terbatas, hingga tentang betapa ilmu yang kita miliki terbatas jika dihadapkan pada ilmu Allah, dan tentu saja tentang makna tsiqoh pada keputusan jamaah

Dalam tulisannya tersebut ustadz Anis Matta pun mengingatkan, jangan pernah merasa lebih besar dari jamaah atau merasa lebih cerdas dari kebanyakan orang. Sebaliknya, yang mesti kita lakukan adalah memperkokoh tradisi ilmiah kita. Memperkokoh tradisi pemikiran dan perenungan mendalam. Begitupun di saat yang sama, kita makin melapangkan hati kita untuk menampung segala bentuk perbedaan yang mungkin timbul. Dan tak lupa pula dengan segala kerendahan hati kita yakin ada begitu banyak ilmu, rahasia serta hikmah dari Allah Subhanahu wa Ta'ala yang mungkin belum tampak saat ini dan justru akan datang saat hari-hari mendatang.

Dan pada akhirnya pilihan sikap kita dalam mengelola ketidak-sepakatan kita atas keputusan jamaah benar-benar akan menyingkap tabir diri kita sebagai mana telah saya kutip di awal, semua bakal nampak: apakah sejatinya, kita telah matang secara tarbawi atau tidak? [Kembang Pelangi]
More about → Kematangan Tarbiyah Menyikapi Keputusan Jamaah

“Curhat” Syeikh Buty yang Membuat Air Mata Berderai

Posted by Zam on Monday, March 25, 2013


Tidak seperti biasanya, tahun-tahun lalu pada awal bulan Desember hujan sudah mengguyur kota Damaskus, musim dingin sudah sangat terasa, puncak-puncak gunung sudah terlihat putih dengan salju, jalan-jalan lembab, basah, suasana taman begitu indah, meskipun terasa dingin menusuk sampai ke sum-sum. Namun tahun ini (2012, red) tidak demikian, berbeda. Sudah beberapa hari memasuki bulan Desember, tapi matahari masih melotot panas, tidak ada hujan, bahkan awan-awan hitam pembawa hujan yang datang dari arah Turki serta-merta bubar ketika sampai di atas langit Damaskus.

Fenomena menyakitkan itu merambas ke semua lini kehidupan, sampai sayur-sayuran yang ditanam di daerah subur Ghutah terpaksa diairi dengan air laut. Dua minggu lalu Kementrian Auqaf yang membawahi seluruh masjid di Syria menganjurkan semua masyarakat untuk melaksanakan shalat Istisqa di masjid masing-masing, dan insya Allah Jumat ini serentak diseluruh Syria melakukan salat Istisqa.

Negeri Syam (Sebutan untuk Syria, Palestina,Lebanon dan Jordan zaman dulu, tapi sekarang sebutan ini hanya khusus untuk Damaskus), sebuah negeri yang didoakan oleh Rasulullah ,”Allahumma bariklana fi Syamina haza,(Ya Allah berkahilah negeri Syam kami ini)” tiga kali beliau mengatakan itu, dan terakhir beliau mengatakan,”Wafi Yamanina (dan Negeri Yaman kami juga)”, sejak dahulu Syam banyak sekali memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki negeri manapun di muka bumi, dan semoga kebaikan ini akan selalu terlimpahkan kepada negeri ini sampai akhir zaman. Ulama dan pemimpinnya yang bisa membuat hati kita terasa “dingin”, semoga selalu tercurahkan kepada negeri akhir zaman ini.

Tidak ada hujan sudah memasuki bulan Desember merupakan musibah besar, yang membuat para pemimpin negeri itu berpikir keras, mulai dari presiden sampai ke ustad-ustad di musalla kecil di kampung-kampung. Prof.Dr.Muhammad Saed Ramadhan Buty, salah satu ulama kharismatik yang juga ketua ulama Syria, beliau adalah diantara ulama yang menjadi penyetir kehidupan sosial masyarakat di Syira. Siapa yang tidak kenal kepribadian yang begitu mempesonakan itu, kalau waktu ta’ziah wafatnya syeikh Abul Hasan al Kurdy di masjid besar Bani Umayyah syeikh Naiem Araksusy mengatakan, “Ustad saya ini, adalah gambaran tabi’in yang berjalan di abad dua satu,” mungkin kata-kata itu juga sangat tepat disematkan kepada syeikh kita ini, syeikh Al Buty.

Senin malam, beberapa hari yang lalu, seperti biasa kami menghadiri pengajian “Tarikh Tasyri Islamy” di jami Al Iman bersama syeikh Buty yang dihadiri ratusan jamaah dari semua kalangan. Tapi hari ini pelajaran tidak seperti biasa, beliau menceritakan sedikit tentang ujian yang dialami Imam Ahmad bin Hambal demi mempertahankan kebenaran yang diyakininya, bahwa Qur'an itu kalam Allah, dan kalam itu sifatNya, jadi bukan makhluk, gara-gara keyakinan itu beliau harus mengalami penyiksaan luar biasa. Setelah itu syeikh Buty mengatakan, “Cukup di sini dulu pelajarannya, malam ini saya ingin “curhat” sama kalian, saya sudah beristikharah untuk ini, dan saya akan mengatakannya kepada kalian semua, demi Allah saya mengatakan ini semua bukan karena saya dengki atau iri kepada siapapun, tetapi semua ini saya katakan karena rasa cinta saya kepada negeri ini, kepada pemimpin negeri ini, dan kepada kalian semua rakyat di negeri ini, demi Allah dalam hidup ini saya tidak pernah dengki kepada siapapun Alhamdulillah, setiap saya melihat ada seorang muslim yang tidak berjalan pada jalan yang digariskan agama, batin saya menangis dan saya selalu mendoakan dia, dan kalau saya melihat sebaliknya hati saya senang dan saya juga mendoakan dia semoga selalu istiqamah, demi Allah saya tidak rela kalau ada diantara umat Islam itu yang dibakar api neraka!!” kata-kata itu terucap dengan terbata-bata, air mata menetes jelas di pipi beliau yang lahir setahun setelah sumpah pemuda Indonesia dideklarasikan, diiringi isak tangis jamaah.

Ada beberapa hal yang menjadi stressing-point “curhat” beliau malam itu, dan menurut beliau itulah sebab kenapa Allah “mengobrak-abrik” awan hujan dari langit Turki ketika tiba di atas kota Damascus.

Pertama: Pemerintah mengeluarkan Kepres bahwa mahasiswi dan guru-guru dilarang memakai cadar di kelas pada saat terjadinya proses belajar mengajar dan di ruang ujian, dan Kepres ini tidak dipermasalahkan oleh ulama-ulama, bahkan syeikh Buty mendukung hal ini, karena belajar adalah salah satu dispensasi yang membolehkan wanita membuka wajahnya di depan laki-laki, menurut pendapat ulama yang mewajibkan wanita menutup wajah. Tetapi Kepres ini disalahgunakan oleh Kementrian Pendidikan Syria yang diisi oleh orang-orang sekuler, dengan memecat seribu lebih pegawai di wilayah departemennya dan guru-guru dari sekolah-sekolah, dengan alasan mereka memakai cadar. Beliau mengatakan, “Tidak mungkin ada guru yang memakai cadar waktu mengajar, apalagi yang diajar itu cewek semua, kalau ada itu orang “gila”!. Ini adalah sebuah kezaliman, wanita-wanita yang kehilangan pekerjaannya itu terzalimi, doa orang terzalimi tidak akan ditolak oleh Allah, bayangkan kalau seribu wanita shalihah itu bangun tengah malam dan berdoa, apa yang akan terjadi!!!Takutlah kalian kepada Allah wahai manusia!! Kembalikan wanita-wanita itu ke pekerjaan mereka!”.

Kedua: Ada sebuah sinetron serial di televisi yang menentang Qur'an, ada adegan dalam percakapan dalam sinetron lokal itu yang mengatakan Qur'an itu buku lama, tidak pantas lagi dipakai hari ini. Beliau mengatakan, “Wallahi, sinetron ini mengajak perang sama Allah, kitab Allah dihina seperti itu, saya menganjurkan kepada semua artis, sutradara, produser serta semua pihak yang berkaitan dengan itu agar bertaubat, dan menarik kembali statemen yang diucapkannya itu. Demi Allah mereka itu semua saudara-saudara kita, saya mencintai mereka semua, makanya saya katakan ini, bukan karena saya dengki atau iri, tidak sama sekali, tapi ini semua bukti cinta saya kepada mereka semua”.

Ketiga: Seruan Kementrian Awqaf (Kementrian Agama) untuk salat Istisqa di masjid masing-masing. Kemudian beliau membacakan bab salat Istisqa dari kitab “Umdat Salik”, bagaimana tata cara melakukan salat Istisqa. Salat Istisqa adalah salat minta hujan, salat dua rakaat dan dua khutbah seperti khutbah jumat, hanya saja ada beberapa hal lain yang harus dilakukan sebelumnya, yaitu seluruh masyarakat berpuasa selama tiga hari sebelum salat itu dilaksanakan, dalam tempo tiga hari itu semua masyarakat dari presiden sampai anak-anak yang baru baligh agar bertaubat dan mengembalikan hak-hak orang lain yang diambilnya. Tepat pada hari ketiga, semua masyarakat keluar ke tanah lapang atau tempat lain yang bisa untuk berkumpul semua orang, semua berpakain yang tidak mewah, anak-anak kecil, orang-orang tua, wanita-wanita berhaid sekalipun agar hadir, dan hewan-hewan ternak juga dibawa, bahkan masyarakat non-muslim juga boleh ikut, karena semuanya adalah korban karena tidak ada hujan, begitulah tata cara salat Istisqa. Tindakan Kementrian Auqaf sangat tepat, tetapi salah kalau mewajibkan setiap masjid selepas jumatan untuk salat Istisqa, beliau mengatakan, “Tindakan Kementrian Auqaf benar, tetapi caranya salah, yang hadir jumatan mah orang-orang yang ingat Tuhan, sedangkan orang-orang yang kita harap mereka bertaubat dan mengembalikan hak-hak orang mana pernah ke masjid! Kalau mau melakukan salat Istisqa, lakukan yang benar, sesuai ketentuan dan tuntunan agama, jangan suka hati kita. Ok saja kalau tidak mau melakukan seperti mazhab Syafii yang saya bacakan barusan, silahkan anda lakukan berdasarkan mazhab Hanafi, yang tidak mewajibkan salat dua raakaat, tetapi cukup khutbah saja dan kemudian berdoa sama-sama, tetapi tata cara lain sama semua seperti pendapat ulama mazhab Syafii. Kalau begini caranya hanya akan manjadi bahan olok-olokan “mereka”, karena sudah salat Istisqa tetapi tidak turun hujan, “mereka” akan mengatakan “Alah, sudah ku bilang nggak ada hujan karena lapisan ozon menipis, karena ini lah, karena itu.., lihat saja itu ulama-ulama sudah pada salat Istisqa, tapi tetap saja hujan tidak turun!”. Dulu pada masa pemerintahan Presiden Hafez Asad pernah terjadi hal ini, dia menyerukan untuk salat Istisqa, dan berdasarkan tuntunan Rasul, kalian ingatkan itu, semua masyarakat berkumpul di masjid Bani Umayyah, lebih satu juta orang berkumpul, saat itu wali besar syeikh kita syeikh Hibal berdoa, dan kalian lihat kan, tiga hari kemudian hujan turun dengan deras dan bahkan turun salju beberapa hari kemudian! Pada malam duapuluh tujuh ramadhan Presiden Hafez Asad menyerukan kepada Menteri Penerangan untuk memutar kembali video salat Istisqa itu di stasiun televisi Syria, dan televisi menyiarkan video itu pada malam tersebut pada waktu salat Isya, langsung Presiden menelpon Mentri penerangan agar menyiarkannya setelah taraweh biar semua rakyat melihat, dan Alhamdulillah beberapa hari kemudia hujan mengguyur Damaskus! kalian ingat kan semua itu!”

Beliau menjelaskan tiga hal tersebut dalam “curhat”nya, tiga hal yang mengganjal hati beliau, kritikan kepada pemerintah yang tidak seharusnya diutarakan di depan umum, tapi tak tertahankan lagi, tidak semua orang berani berbuat demikian, bisa-bisa setelah bicara begitu pindah tempat tidur, dari rumah ke penjara bawah tanah, tapi beliau sudah pasrah, yang penting kebenaran sudah disampaikan, dan beliau mengatakan kalimat terakhir sebelum menutup pengajian dengan doa, “Saya menjamin, dan saya bukan orang yang tahu apa yang akan terjadi satu detik ke depan, tapi saya menjamin kalau hal yang saya katakan tadi kita laksanakan, hujan akan mengguyur Damaskus, Insya Allah”. Salah satu petikan doa beliau malam itu, “ Ya Allah, janganlah Engkau menyiksa bayi-bayi dalam susuan ibunya karena kesalahan kami, janganlah Engkau biarkan hewan-hewan ternak mati karena perbuatan kami….”.

Dalam Qur'an surat Nuh Allah berfirman melewati lisan nabi Nuh, “Minta ampun lah kalian kepada Tuhan kalian, sesungguhnya Dia Maha Pengampun, maka dia akan mencurahkan kepada kalian hujan dari langit dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untuk kamu kebun-kebun dan mengadakan untuk kamu pula (di dalamnya) sungai-sungai”. Ayat ini menjelaskan bahwa siapa yang ingin hujan, ingin kaya dan ingin punya anak agar dia banyak-banyak minta ampun kepada Allah (istighfar).

Maksiat kapada Allah adalah sumber musibah dan mala petaka, dan Taubat serta kembali kepada Allah adalah solusinya. Beberapa hal yang disebut syeikh Buty yang merupakan sumber musibah tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan “maksiat” yang dilakukan penduduk negeri kita, maka jangan heran kalau seakan-akan bumi dan langit memusuhi kita, gempa, gunung meletus, banjir dan seterusnya adalah buktinya. Wakil-wakil rakyat yang menjadi pemimpin “mengkhianati” rakyat dengan sengaja dan “tidak” sengaja, masyarakat yang “membudidayakan” lokalisasi dan perzinaan, pelajar yang mentuhankan akal, pembunuhan, kecurangan, dan seabrek maksiat yang disebutkan Imam Ibnu Hajar Haitami dalam buku beliau “Al Zawajir” sudah dikerjakan, just wait and see, janji Tuhan akan segera terjadi.

Dari “curhatan” syeikh Buty, ada dua hal yang ingin kami sampaikan, pertama kepada generasi muda, khususnya yang belajar di negeri-negeri para nabi,

- Agar “meng-indonesiakan” dulu ilmu yang dibawa dari Arab, sebelum ditransferkan kepada masyarakat Indonesia.

- Ajaran, dan akhlak yang diajarkan ulama-ulama di Arab jangan dipisah-pisah, jangan hanya mengambil ajaran dan ilmunya saja, tetapi akhlaknya ditinggal. Karena dengan cara itu misi “penyelamatan” tidak akan sukses.

- Ingat, diantara duaratus juta penduduk Indonesia, kamu yang terpilih menjadi wakil untuk memperbaiki yang harus diperbaiki di negeri ini.

- Dunia memang penting, tapi akhirat juga bukan hal yang boleh dicueki, mengumpulkan harta di tangan memang “wajib” dalam Islam, sehingga kita bisa mengelurakan zakat dan bisa naik haji, tetapi mengumpulkan harta dalam hati “haram” hukumnya.

- Sejak awal Negara Islam Madinah berdiri, Rasulullah menjadikan masjid dengan segala kekurangannya sebagai Islamic Centre, itu tugas utama hari ini, mengembalikan peran masjid sebagai Islamic Centre, bukan hanya sekedar tempat salat Jumat dan salat Jenazah.

Kedua, untuk para masyarakat, yang meliputi pemimpin sampai anak yang baru baligh, hanya ada satu jalan keluar dari semua krisis yang kita alami saat ini, yaitu taubat dan minta ampun kepada Allah, “mushalahah maállah wa shidqul ubudiyyah lahu...”. Wallahu a’lam. []

Penulis : Saief Alemdar
More about → “Curhat” Syeikh Buty yang Membuat Air Mata Berderai

Kau Ini Bagaimana?

Posted by Zam


Kau ini bagaimana?

Kau larang aku fanatik pada pendapat ulama mazhabku, tapi kau sendiri yang fanatik kepada pendapat ulama mazhabmu.

Jika ada permasalahan agama yang mana pendapat ulama mazhabku berbeda dengan pendapat tiga ulama mazhab yang lain maka kau bilang, “Kita harus mengikuti pendapat mayoritas ulama.”

Namun jika pendapat ulama mazhabmu berbeda dengan pendapat tiga ulama mazhab yang lain maka kau bilang, “Kita harus mengikuti dalil; karena kebenaran tidak berada dalam pendapat mayoritas.”

Kau ini bagaimana?

Kau bilang demokrasi haram, produk demokrasi haram, pemilu haram, tapi pemerintah yang terpilih dari produk haram itu kau anggap sebagai ulil amri yang tidak boleh sama sekali dikritik entah terang-terangan atau tersembunyi.

Kau ini bagaimana?

Kau bilang berfoto itu haram, tapi kau pampang foto-fotomu di facebook dan twitter.
Kau bilang musik itu haram dan mendengarkannya juga haram, tapi kau sendiri yang mendengarkan musik-musik barat dengan alasan belajar bahasa inggris di tempat kursusmu.

Kau ini bagaimana?

Kau bilang aku harus belajar hadits kepada ahlinya, tapi kau sendiri mempelajari hadits secara otodidak.

Kau bilang dosen-dosenku tak berilmu karena mereka berbeda mazhab denganmu, tapi kau sendiri juga tak pernah berguru kepada seorang ulama pun.

Kau ini bagaimana?

Kau bilang tidak boleh memvonis seseorang itu mati syahid dan sudah pasti masuk surga, tapi kau sendiri yang mengatakan bahwa ulama madzhabmu yang meninggal sudah pasti masuk surga.

Kau bilang juga tidak boleh memvonis seseorang itu mati dalam keadaan berbuat zhalim dan pasti masuk neraka, tapi kau sendiri yang mengatakan bahwa ulama yang bukan mazhabmu masuk neraka.

Kau ini bagaimana?

Kau bilang jangan mengungkit-ungkit kesalahan orang yang telah meninggal dunia karena urusannya terserah kepada Allah, tapi kau sendiri mengungkit-ungkit kesalahan ulama yang bukan mazhabmu.

Kau ini bagaimana?

Kau bilang peringatan hari ulang tahun proklamasi sebuah negara adalah bid’ah karena bertentangan dengan syariat Islam; tapi kau sendiri mendukung peringatan hari jadi negara ulama mazhabmu dengan dalih itu hanya sekadar kebiasaan.

Kau ini bagaimana atau aku yang harus bagaimana? []


Penulis : Yum Roni Askosendra
Pengurus Pusat KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia)

More about → Kau Ini Bagaimana?

Masihkah Kita Sia-siakan Makanan?

Posted by Zam on Saturday, March 23, 2013


Saat itu saya pulang dari kampus menggunakan bus Trans Jogja. Sebelum naik Trans, saya harus berjalan menuju halte yang terletak di depan gedung Wanitatama. Persis bersebelahan dengan kampus. Jaraknya lumayan jauh kalau dari dalam kampus. Saya harus berjalan di sepanjang trotoar kampus barat. Yang di sampingnya sengaja ditanami bunga-bunga.

Saya terus berjalan meunuju halte sambil sesekali melihat kebelakang. Tanpa sadar di depan saya ada seorang bapak-bapak usia 40 tahunan. Pakaiannya kotor. Rambutnya agak sedikit gondrong dengan badan yang kumuh dan tas selempang usang yang menggantung di badannya. Ia juga berjalan kebarat, tanpa alas kaki. Entah menuju kemana. Sedang saya berjalan gontai di belakangannya.

Sampai di jalan depan gerbang rektorat tiba-tiba langkah saya terhenti agak dekat dari bapak itu. Saya mengamati bapak itu. Bapak itu masih terus berjalan sampai mendekati tempat sampah yang terletak di pojokan trotoar di depan pagar kampus. Tempat sampah itu tidak terlalu besar dengan sisa-sisa bebakaran di sekelilingnya.

Bapak itu lalu memilah dan memilih tumpukan sampah. Sedang saya terus mengamati bapak itu. Tadinya saya pikir bapak itu pekerja biasa. Karena biasanya saya menjumpai bapak-bapak seperti itu yang saya kira pemulung atau peminta eh ternyata beliau seorang kuli bangunan.

Deg!!! Saya terhenyak. Tak percaya melihat pemandangan di depan saya. Bapak itu mendapati sebuah bungkusan kertas minyak, entah apa isinya, sepertinya nasi sisa. Setelah itu membukanya dan memakannya langsung didekat tempat sampah itu. Setelah beberapa menit makan sambil berdiri, bapak itu melempar kembali kertas minyak di tempat sampah. Bapak itupun melanjutkan perjalanan entah menuju ke mana. Sedang saya meneruskan jalan kaki menuju halte.

Dalam hati saya masih tak percaya dengan apa yang baru saya saksikan. Perut saya ikut mual membayangkan bapak itu memakan makanan sisa dari bak sampah, di samping tempat sampah pula. Yang entah berapa ribu kuman dan penyakit yang bersarang di sana (semoga Allah melindungi bapak itu dari madlarat makanan tersebut).

Saya jadi teringat, makanan-makanan di asrama yang sering terbuang sia-sia. Saya jadi merenungi sikap saya memperlakukan makanan selama ini. Kadangkala kita mengambil makanan seenaknya, tanpa memperdulikan porsi perut atau selera kita. Tapi ternyata, makanan tersebut tidak termakan semua. Dan ujung-ujungnya masuk bak sampah.

Mungkin seandainya butir-butir nasi dan makanan sisa tersebut bisa bersuara, tangisnya akan terdengar oleh kita. Mereka menangis karena telah disia-siakan. Ia dicampakkan begitu saja. Padahal ia punya hak untuk dimakan. Ia juga punya hak untuk dibagi bersama saudara-saudara kita yang lain. Dan seandainya ia juga dapat berkata, mungkin ia akan mencemooh kita “hai manusia, tidakkah kau syukuri nikmat tuhanmu ini. Enkau membuangku sia-sia, sementara di luar sana banyak saudara-saudaramu yang tidak bisa makan?”

Kita sendiri kadangkala lalai untuk bersyukur. Kita yang dengan mudahnya mendapatkan nasi dengan aneka macam lauk yang dihidangkan di meja makan, kadang merasa jenuh, kadangkala merasa “kok cuman itu-itu aja makanannya.” Kalau bahasanya adik-adik asrama “yaaah itu lagi, itu lagi”. Sehingga kita lupa untuk bersyukur. Kita lupa bahwa diluar sana banyak saudara kita yang untuk mendapatkan sesuap nasi saja mereka tidak bisa. Kita lupa bahwa di luar sana banyak saudara-saudara kita yang kelaparan.

Saya membayangkan barangkali bukan hanya bapak itu yang memungut makanan sisa dari tong sampah. Barangkali masih banyak orang lain, terutama pemulung dan peminta-minta, yang karena keterbatasan  hingga tak mampu untuk membeli sesuap nasi. Meski aspek thayyiban tidak terpenuhi, bagi mereka, mengambil makanan sisa dari bak sampah adalah sebuah alternatif dalam keterpaksaan. Wallahu a’lam bish shawab. [Ukhtu Emil]
More about → Masihkah Kita Sia-siakan Makanan?

Kala Hati Terserang Virus Galau

Posted by Zam on Friday, March 22, 2013


“Aku nggak tahu, rasanya cuapeeekk buanget, rasa terlampau lelah dengan apa yang ada, yang jelas pengen bisa ngilang, pengen pergi ke tempat yang jauuh buanget, gak ada orang yang kukenal. Entahlah, ini karena ulahku atau memang terlalu banyak yang minta dipikirkan. Seolah ini tidak adil buatku. Ah… atau ini hanya aku yang terlalu lelah dengan keadaan. Ah… dek… ada kalanya aku ingin menjadi kanak-kanak kembali” sebuah SMS dari sobat kecilku membuatku terhenyak.

“Virus galau menghinggapinya,” pikirku. Tetapi, rupanya bukan dia seorang yang terserang. Tidak sedikit teman-teman yang juga pernah terkontaminasi virus yang sama.

Saudariku, cinta Allah begitu luas dan begitu besar sampai-sampai jika kita datang dengan berjalan, Allah akan datang kepada kita dengan berlari. Hanya saja kadang kita lupa dan terlalu lalai untuk mengingatNya atau menganggap bahwa ibadah kepadaNya hanya sebatas shalat dan puasa saja.

Saudariku, Allah ada di saat kapanpun dan di mana pun kita berada. Kapanpun kita membutuhkanNya, Dia selalu ada untuk kita. Tidak hanya saat kita bahagia Allah membersamai, melainkan juga ketika kita kalut, galau dan sedih, Allah selalu dekat dengan kita. Tinggal kita menyadarinya atau tidak. Lalu menjadikanNya sandaran dan tempat kembali. Jangan takut untuk meminta kepadaNya kala engkau butuh, karena Allah pasti akan mendengar do’amu.

Tidak ada hal yang lebih indah jika hari-hari kita digunakan untuk ibadah kepadaNya. Ibadah bukan hanya shalat dan puasa, tapi setiap langkah kita bisa dinilai ibadah jika kita melangkah daalam kebaikan, untuk kebaikan. Hati tidak tenang karena hati kita kosong dari mengingat Allah. Kita lupa bahwa hati kita adalah milik Allah. Maka jagalah ia, berikan ia makanan yang menjadi haknya, yakni dengan memperbaharui keimanan kita setiap waktu.

Saudariku, jika kita sering berdoa kepada Allah tapi Allah belum juga mengabulkan do’akita. Sehingga kita mulai engan lagi untuk berdoa. Saudariku, ingatlah mungkin Allah sedang mencoba kita sesabar apa dalam berdoa. Jika bukan hari ini doamu dikabulkan, mungkin Allah masih menyimpan doamu di lain hari di mana Allah akan memberikan itu di saat yang tepat, bahkan yang tidak pernah engkau sangka.

Jika memang Allah belum mengabulkan doamu, mungkin Allah cinta kepadamu Ingin mendengar engkau selalu berdo kepadaNya. Bisa jadi sudah lama engkau tidak meminta dengan sungguh-sungguh kepadaNya.

Namun kita juga perlu introspeksi diri, bahwa ketika Allah masih juga tidak mengabulkan doa, mungkin ada makanan yang tidak halal dalam tubuh sehingga Allah tidak mengabulkan doa.

Saudaraku, di balik doa yang tak terkabulkan, pasti ada hikmah yang tersembunyi yang telah Allah siapkan untukmu. Seekor kupu-kupupun tidak akan berubah menjadi indah jika tidak mengikuti proses yang telah Allah tentukan. Dia seekor ulat, ia “khusyu” dan “sabar” menjalani proses sebagai kepompong, barulah ia akan bermetamorvosa menjadi seekor kupu-kupu yang begitu indah.

Semoga Allah memberikan yang terbaik untukmu, Saudariku. [Retno Zuraida]
More about → Kala Hati Terserang Virus Galau

Menjadi Pribadi yang 100%

Posted by Zam

“Ummi, berapa persen cinta ummi kepada adek?” tanya seorang anak dengan gayanya yang polos.
“Cinta ummi kepada adek 100%,” jawab sang ummi.
“Kepada mas Umar?” tanya sang anak lagi sambil menunjuk kepada sang kakak yang berada tak jauh darinya.
“Kepada mas Umar juga 100%,” jawab ummi lagi.
“Lalu kepada abi, cinta ummi berapa persen?”
“Kepada abi juga 100%,” jawab ummi dengan penuh kesabaran.
“Berarti cinta ummi terbagi-bagi dong?”sang anak kembali bertanya.
“Tidak sayang. Cinta ummi kepada adek, mas Umar, dan abi semuanya 100%. Ummi mencintai adek dan mas Umar sebagai anak ummi 100%. Sedang ummi mencintai abi sebagai suami juga 100%.”

Tahukah Anda siapa sosok ummi di atas? Beliau adalah ustadzah Nunung Bintari, seorang ibu dari 10 bintang penghafal Qur’an. Sedikit cerita yang saya dapat dari ustadz Fatan beberapa hari yang lalu, memberi saya pelajaran bagaimana menjadi pribadi yang 100%. Yang artinya, di manapun posisi kita, apapun profesi kita, kita tetap berupaya 100%, berupaya dengan sepenuh hati untuk memenuhi kewajiban kita terhadap orang lain, kita tetap berupaya untuk memenuhi hak-hak orang lain terhadap kita dengan sepenuh hati.

Seperti yang sudah kita ketahui, ada dua hubungan harus kita penuhi hak-haknya dan kewajiban kita terhadapnya. Yang pertama hubungan secara vertikal, hubungan keatas, yaitu hubungan kita dengan Allah atau yang dalam bahasa Arabnya hablun minallah, di mana posisi kita adalah sebagai hamba yang harus mengabdikan diri pada-Nya. Allah punya hak terhadap kita, yakni hak dicintai, hak dipuji, hak untuk disyukuri setiap nikmat-Nya, dengan sepenuh jiwa kita. Sedangkan kewajiban kita sebagai hamba-Nya adalah mengabdikan diri sepenuhnya kepada-Nya, Dzat yang maha Rahim, yang telah menciptakan kita dan menganugerahkan segala kenikmatan yang tiada terhitung jumlahnya.

Yang kedua adalah hubungan secara horizontal, yakni hubungan kita kepada sesama manusia dan alam semesta atau yang sering kita kenal dengan hablun minannas. Setiap manusia punya hak terhadap kita dan kitapun punya kewajiban terhadap sesama manusia sesuai dengan posisi kita.

Misalkan sekarang kita menjadi guru. Maka jadilah guru yang 100%. Kalau tugas kita sebagai guru adalah menjadi tauladan yang baik dan mengajarkan ilmu kepada siswa, maka penuhi kewajiban tersebut dengan sepenuh hati. Sehingga secapek apapun kita menghadapi siswa kita tidak akan marah atau kesal. Karena mendidik siswa adalah tugas kita sebagai guru sedang mendapat pendidikan dengan setulus hati adalah hak siswa.

Begitupula dengan posisi kita ketika sesampai di rumah. Misalkan posisi kita menjadi anak, anak punya kewajiban berbakti terhadap orang tua, sedang orang tua punya hak untuk dihormati, ditaati titahnya, dan ini juga berlaku bagi posisi yang lain baik dalam keluarga, masyarakat, profesi. Intinya, di manapun posisi kita, tetaplah menjadi yang pribadi yang 100%. 100% sesuai dengan posisi kita. Dengan demikian tidak akan ada yang terdzalimi karena semua hak-haknya terpenuhi. Wallahu a’lam bish shawab [Ukhtu Emil]
More about → Menjadi Pribadi yang 100%

Saat Getar Cinta Menyapa Jiwa

Posted by Zam on Wednesday, March 20, 2013


Fragmen 1

Ikhwan–akhwat aktivis dakwah, demikian orang lebih sering menyebutnya. Keduanya tampak terlihat sibuk. Mereka berdua menghabiskan hampir setiap waktu mereka di luar rumah. Di ruang kuliah, di masjid kampus, di rumah kontrakan yang jadi markas dakwah dan bahkan di arak-arakan jalanan saat mereka demontrasi. Sepenggal fase hidup mereka dipenuhi dengan Jadwal syuro, kajian, bakti sosial, outbond hingga aksi turun ke jalan. Selayaknya anak manusia seumur mereka, lumrah apabila ada “getar-getar” di antara mereka. Getaran tersebut tercermin dari perbincangan keduanya seperti ini :

[di Telepon]
Ikhwan : Assalamuaikum... apa kabar ukhtie…??
Akhwat : Wa’alaikum salam Akhi... Alhamdulillah, saya baik
Ikhwan : sedang sibuk..?? boleh minta waktunya..?? ana ingin “konsultasi nih”…..??
Akhwat : Ndak sibuk kok
Ikhwan : @@E$%^&^&*(((@))####..........ABCDEFG……..ZZZZZ
Akhwat : $%$]##$@@@&@*………….*dengan wajah semu merah diujung telepon )

[lain waktu lagi di INBOX chatting di dunia maya]
Akhwat : Met MILAD ya akhie... Barokallohu fi umrik
Ikhwan : Jazakillah ukhtie…..
Akhwat : oh ya... ini saya attach’kan nasyid special sbg hadiah...
Ikhwan : Jazakillah Ukhtie… akan saya ingat selalu…

[ Semua masih berlanjut seiring waktu lewat telepon, pesan singkat dan dunia maya... hingga suatu ketika...]
Akhwat : Apa tidak sebaiknya kita melabuhkan rasa di antara kita dalam pernikahan..?
Ikhwan : Menikah…??? Afwan, sepertinya saya belum siap…
Akhwat : …………??????????

Fragmen 2

Jaka dan Gadis. Keduanya sudah saling mengenal. Keduanya sering bertemu . Keduanya tak jarang saling membantu. Tak ada “getar” apapun diantara mereka, setidaknya itu yang Gadis rasa. Hingga suatu masa sang Jaka membuka suara….

Jaka : kutulis sebuah puisi untukmu… bacalah…
Gadis : baiklah…

[Lagi…]

Jaka : Sebuah puisi lagi ku kurangkai dengan penuh cinta... bacalah…
Gadis : Oh ya... baiklah

[Berkali sudah terjadi… entah sudah berapa bilah puisi... meski tak menumbuhkan apapun di hati Gadis… tetap saja Gadis merasa ini gilirannya angkat bicara]

Gadis : puisi- puisi itu sudah cukup kiranya… hanya saja ku ingin bertanya, keberanian... sudahkah itu kau punya???

Jaka : Menikah…??? Tak layak kiranya aku menduakan cintaNya.. aku belum sanggup.
Gadis : …???

Fragmen 3

Popeye dan Olive. Tak pernah sekalipun bertemu, apalagi bercakap panjang yang tak perlu. Lewat sang kawan, Brutus lah keduanya mengenal dan berbagi tahu. Cukup saja sampai di situ tak lebih dari itu. Hingga suatu waktu…

Popeye : Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bismillahirrahmanirrahim... maukah engkau menunggu... bila urusanku selesai, ku ingin menemui walimu untuk meminangmu. Maaf bila ada kalimat yang tidak berkenan di hatimu. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Olive : ………………………..??????????

Untuk ketiga kisah di atas ingin saya kutipkan puisi dari salah satu penulis favorit saya

Harapan tanpa iman
Adalah kekecewaan yang menunggu waktu
Kebahagiaan tanpa barakah
Bagai bayang-bayang tanpa cahaya
Orang suci
Menjaga kesuciannya dengan pernikahan
Menjaga pernikahannya dengan kesucian

(Salim A. Fillah)

Cinta itu untuk semua. Tak peduli apakah ia sosok seorang aktivis dakwah, mahasiswa yang study oriented semata, pekerja lulusan SMA, atau bahkan –maaf- pengangguran tanpa pekerjaan. Kesemuanya punya hak dan lumrah sesuai fitrah jika dihinggapi oleh rasa cinta yang tulus suci. Anis Matta menyebut dalam kumpulan tulisannya Serial Cinta, cinta adalah perasaan yang luhur. Perasaan yang luhur tersebut adalah gejolak kemanusiaan yang direstui di sisi Allah. Sebab karena direstui oleh Allah itulah Rasulullah bersabda “Tidak ada yang lebih baik bagi mereka yang sudah saling jatuh cinta kecuali pernikahan”. Dan jalan itulah selayaknya yang terbaik yang harus dipilih saat seseorang disinggahi rasa yang menggetarkan hati itu. Bukan. Bukan yang lain.

Dalam bukunya Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim , Salim A. Fillah mengutip sebuah laporan tentang tren HTS –Hubungan Tanpa Status- diantara para aktivis dakwah yang diliris majalah UMMI September 2006. Mungkin akan ada dan bahkan banyak yang akan keberatan dengan hal yang beliau tulis tersebut. Beliau mengemukakan bahwa ketika pembicaraan tentang pernikahan disisihkan dengan alasan menghambat produktivitas kader dakwah, tetapi ternyata kemudian banyak dari sebagian mereka mencarinya dari sumber- sumber yang men-sibgah mereka bukan dengan kata “tanggung jawab “ sebagaimana Islam dan dakwah yang mereka usung mengajarkan. Sebaliknya , sebagian mereka lebih memilih “having fun” seperti yang diajarkan syetan. Beliau juga menyampaikan bahwa menikah adalah keindahan, kecuali bagi yang memandangnya sebagai beban. Rumah tangga adalah kemuliaan kecuali bagi yang memandangnya sebagai rutinitas tak bermakna. Bagi aktivis dakwah, menikah, dakwah dan jihad adalah seiring sejalan. Sebab ia bukan buah yang dipetik atau istirahat yang diambil setelah lama berjuang. Sebab ia bukan terminal perjalanan. Sebab sejatinya ia lebih bisa disebut sebagai awal perjuangan.

Pada Akhirnya… tak memandang apapun predikat yang melekat pada diri seseorang . Tak peduli siapapun dia. Jika cinta dalam hatinya tulus. Maka bisa dipastikan ia akan menapaki jalan suci sebagai mana yang telah Rasulullah tunjuki dalam sabdanya di atas. Jalan suci pernikahan. Bukan jalan “permainan” hubungan tanpa status yang tak berujung. Wallahu ‘a’lam bis shawab. [Kembang Pelangi]
More about → Saat Getar Cinta Menyapa Jiwa

Srunen, Semangat Qur’an yang Tak Kenal Usia

Posted by Zam on Tuesday, March 19, 2013

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Tirmidzi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya.” Itu artinya, sebaik-baik muslim adalah muslim yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya. Tak memandang usia, waktu dan tempat. Dimanapaun kita berada, kapanpun dan berapapun usia kita, belajar al-Qur’an adalah prioritas utama sebelum kita mempelajari ilmu lain seperti matematika, fisika, dan ilmu dunia lainnya.

Hal ini juga berlaku pada wargra Srunen. Sebuah desa yang teletak sekitar 3 Km dari Merapi, tepatnya di daerah Cangkringan Sleman Yogyakarta. Cerita ini dimulai pada tahun 2010 saat terjadi erupsi Merapi. Sebagian masyarakat mengungsi ke Islamic Centre Yogyakarta. Ada sekitar 150 warga yang mengungsi ke sana, mulai bayi sampai mbah-mbah. Setelah dimusyawarahkan tim relawan Merapi IC akhirnya diputuskan untuk mengisi salah kegiatan pengungsi dengan belajar ngaji bersama dengan Tahsin Metode Qira’ati. Waduh, saya ndak bisa ngebayangkan waktu itu kalau ibu-ibu atau mbah-mbah diajar dengan metode itu. Saya yang waktu itu belum bisa ikut mengajar (karena belum taskhih) cuman bisa geleng-geleng kepala melihat teman-teman dengan sabar mengajar ibu-ibu bahkan mbah-mbah.

Selang beberapa bulan kemudian, setelah Merapi tak lagi beraksi, para pengungsi mulai kembali ke rumah semi permanen (shelter) yang didirikan oleh sebuah lembaga pertelevisian swasta. Sejak saat itulah saya mulai ikut mengajar setiap Selasa dan Kamis bersama tim Asma Amanina. Saya pun akhirnya merasakan sendiri tatkala membimbing mbah-mbah yang berusaha melafalkan huruf “fa” yang mereka lafalkan menjadi “pa”, “dlo” menjadi “lo”. Berulang kali saya mengajarkan huruf-huruf itu, mengulang-ulang huruf-huruf yang sama. Namun hasilnya tetap sama. Sama seperti minggu-minggu sebelumnya.

Sampai akhirnya satu tahun kemudian. Kami masih dalam perjuangan yang sama. Mengajar ibu-ibu dan mbah-mbah yang kulit tangannya sudah mulai keriput, matanya yang sudah tak lagi jelas untuk melihat, gigi-giginya yang mulai tanggal satu persatu hingga tersisa beberapa saja mengisi sela-sela gusi mereka yang sudah mulai menghitam. Yang membuat mereka sulit membaca, melafalkan dan mengingat huruf hijaiyah. Hingga waktu itu saya harus mengulang berkali-kali membimbing melafalkannya. Tanpa memperdulikan tiwasgas sebagai prinsip yang dipakai dalam belajar mengajar Qira’ati. Bagi saya yang penting mereka sudah mengenal huruf-huruf hijaiyah itu sudah hal yang luar biasa.

Dari sini ada satu hal yang dapat kita jadikan pelajaran bersama yaitu tekad, semangat dan kesabaran mereka. Tekad dan semangat untuk tholabul ‘ilmi, semangat untuk bisa membaca al-Qur’an. Meski setahun sudah mereka bertahan di jilid satu. Meski setahun sudah mereka hanya belajar membaca a, ba, melafalkan alif, ba berulang-ulang. Bahkan dalam satu tahun itu ada yang baru sampai beberapa halaman saja. Itupun ada yang lupa ingat. Mereka yang dengan keterbatasan baik secara usia, fisik maupun materi, tapi tetap semangat dan sabar untuk terus belajar al-Qur’an. Keinginan dan tekad mereka untuk bisa melafalkan huruf-huruf bengkok itu begitu kuat. Keinginan untuk dapat membaca al-Qur’an lebih baik, keinginan untuk dapat lebih dekat dengan al-Qur’an dan keinginan untuk menjadi sebaik-baik manusia seperti yang disabdakan Rasulullah.

Lantas bagaimana dengan kita? Kita dengan segala kecukupan, seberapa besar usaha kita untuk memperbaiki bacaan Qur’an kita? Mampukah kita sesemangat mereka? Mampukah kita sesabar mereka yang dalam satu tahun hanya belajar melafalkan huruf alif, ba’. Dan mampukah kita setegar mereka? Mereka dengan tekad dan semangatnya tak pernah malu untuk belajar ngaji dan memperbaiki bacaan bersama kami yang usia kami jauh lebih muda dari mereka.

Waallahu a’lam bishshowab. Semoga ini dapat menjadi bahan renungan kita bersama. [Ukhtu Emil]

More about → Srunen, Semangat Qur’an yang Tak Kenal Usia

Cermin Hati dari Bumi Ruai Jurai

Posted by Zam on Sunday, March 10, 2013


Lampung. Mungkin bukan kota yang istimewa bagi sebagian pembaca. Ia sebuah bagian kecil dari luasnya bumi Allah Indonesia. Lalu apa istimewanya... hingga ia menjadi topik tulisan saya kali ini.

Jika bisa saya katakan di awal, kota ini menjadi salah satu bukti kebesaran Allah Rabb ‘alamin atas hikmah dalam firmannya: Wahai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal (QS. Al-Hujurat 13)

Mengapa demikian? sebagai jawabannya maka izinkanlah saya berkisah. Bermula dari aktivitas seorang muslimah di sebuah jejaring sosial yang mungkin bisa dikatakan cukup “padat” penghuninya di dunia maya. Sebagaimana kebanyakan orang, muslimah ini menjadikan media jejaring sosial tersebut sebagai sarana baginya untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan dunia yang lebih luas. Lewat media tersebut sang muslimah tersebut turut menyadari bahwa kepekaan satra dan jiwa menulisnya tersalurkan. Meski tak jarang pula sebagai manusia muslimah tersebut turut terinfeksi “virus ” negatif dari jejaring sosial yakni curcol (curhat colongan), sebagai mana jiwa-jiwa labil yang merupakan “penghuni ” strata kelas satu dalam dunia maya. Namun, tak bisa dinafikkan bahwa media jejaring sosial di dunia maya membantu seseorang untuk memperluas jaringan pertemanannya . Entah dengan orang-orang baru yang belum pernah dikenal sebelumnya atau bahkan menyambung dan mempererat kembali tali pertemanan yang sempat terputus sebab alasan apapun . Terlebih karena alasan jarak yang memisahkan .

Begitupun yang terjadi muslimah yang satu ini, lewat media tersebut salah satu fragmen kisah hidupnya dimulai. Pada suatu waktu, ada sebuah permintaan pertemanan dari satu akun dengan nama profil S.W.A ***sensored). Seperti biasa sebelum mengkonfirm pasti ia lihat sekilas profil si pengirim. Sejauh yang ia rasakan tak ada alasan untuk mengacuhkannya.

Tanpa terasa lambat laun waktu berlalu si muslimah sadar status-status yang dibuat temannya yang satu ini menggedor ruang bawah sadarnya jika teman yang satu ini tulisan-tulisannya sangat khas, penuh ide-ide semangat dan kental nuansa sastranya. Tak hanya itu temannya begitu banyak bisa jadi sebab “keramahan” yang sering sang teman tunjukkan dengan mengunjungi dengan me-like dan sesekali memberi komentar positif hampir pada setiap teman-temannya di jejaring sosial tersebut tanpa kecuali.

Sejauh waktu terlewat, semua terasa normal. Setiap rangkaian kata yang ditulisnya membawa pembacanya menghirup aura positif dalam memandang hidup dan yang terpenting dari semua kekhasan tulisannya adalah ia hampir selalu menghadirkan eksistensi Allah dalam kata-katanya. Terdengar klise mungkin, tapi faktanya teman-teman di dunia maya merasa nyaman dan tercerahkan. Sebagaimana yang selalu ia sampaikan mengenai visinya dalam menulis, harus ada dakwahnya dan membawa manfaat bagi semua.

Lalu dari semua itu apa istimewanya? Dan lagi, apa hubungannya dengan apa yang telah saya sampaikan di awal. Tentu saja ada. Bagi si muslimah, teman yang satu ini hampir bisa dikatakan membawa angin segar bagi hidup si muslimah di dunia maya. Pasti semua akan mengira, apa sebab interaksi dan kedekatan yang berlebihan yang sebagai mana yang jamak terjadi di dunia maya. Salah besar jika itu yang pembaca fikirkan. Interaksi mereka wajar saja sebagaimana biasa. Sebab keduanya tahu bahwa ada bingkai syariah yang harus ditaati. Tak wajar dan sukar diterima apabila yang terjadi sebaliknya jika keduanya mengaku sebagai anggota kafilah dakwah pengusung kelanjutan risalah anbiya’.

Waktu berlalu. Dan si muslimah baru menyadari jika tanah kelahiran si kawan ini dari sebuah daerah nun jauh di bagian pulau Sumatera. Di Lampung. Kota Bandar Lampung tepatnya. Seiring waktu satu per satu permintaan pertemanan dari banyak akun menghampiri muslimah tersebut. Dan bisa ditebak hampir semuanya dari daerah yang sama. Lampung. Meski, kota asalnya bervariasi namun muaranya sama yakni Bumi Ruai Jurai (*Lampung Pen.). Kini hampir sepertiga dari jumlah teman si muslimah di jejaring sosial dari Provinsi tersebut. Merasa terhubung dengan sebuah daerah yang tak pernah terfikir dalam benak si muslimah.Tak terasa tiba-tiba terbesit tanya dalam benak si muslimah. Ada apa di balik ini. Apa ini sebuah “kesengajaan dan kebetulan” dari Allah. Apa kisah ini berhenti sampai di situ. Tentu saja tidak.

Bilangan waktu pun terlewati kembali. Tulisan-tulisan si kawan tetap meluncur laksana deras hujan. Tapi kali ini mulai terasa tak biasa. Setiap kali tulisan itu muncul dan terbaca. Tulisan si kawan selayaknya cermin yang memantulkan bayangan yang sama dengan kondisi hati, jiwa dan jasad si muslimah. Apa anehnya, hal yang seperti itu lumrah terjadi di dunia nyata apalagi di dunia maya. Lumrah. Mungkin si muslimah akan setuju pendapat itu jika itu terjadi sekali, dua kali atau bahkan jika terjadi lima kali sekalipun. Tapi lebih dari sekedar lumrah jika terjadi berulang-ulang kali dan itupun tanpa ada saling komunikasi yang terjadi di antara keduanya. Tak berlebihan jika si muslimah makin bertanya-tanya. Muncul pertanyaan yang sama apa ini “kesengajaan dan kebetulan”. Maka setiap kali membaca tulisan-tulisan si kawan si muslimah mendongakkkan kepala berharap Robb nya mengirim sebuah isyarat sebagai jawaban atas pertanyaannya.

Tapi rupanya si muslimah tidak sendiri, si kawan yang di ujung seberang merasakan yang hal sama. Kesejiwaan tanpa bertemu. Keduanya sepakat. Itu mungkin sebabnya. Sebagaimana satu hal klasik yang terjadi di film-film. Tapi sebagai jiwa yang diterangi cahaya iman. Keduanya menemukan, Rasul mulia pernah mengatakan. "Ruh-ruh itu ibarat prajurit-prajurit yang dibaris-bariskan. Yang saling mengenal diantara mereka pasti akan saling melembut dan menyatu. Yang tidak saling mengenal diantara mereka akan saling berbeda diantara mereka." (HR. Al Bukhari/no. 3336 dan Muslim/no. 2638)

Begitupun yang penulis ternama Salim A fillah mensarikan hadits di atas bahwa ruh itu seperti tentara. Ada sandi di antara mereka. Jika sandi telah dikenali, tak perlu banyak lagi yang diketahui. Cukup itu saja. Mereka akan bersepakat. Mereka adalah sekawan dan sepihak. Mereka akan bergerak untuk satu tujuan yang diyakini. Jadi apakah yang menjadi sandi di antara para ruh? Iman. Tentu saja. Kadar-kadarnya akan menerbitkan gelombang dalam frekuensi yang sama. Jika tak serupa, jika sandinya tak diterima, ia telah berbeda dan sejak awal tak hendak menyatu.

Pasti semua mengira, kedua berjodoh barangkali. Aaiih.. bakal lebih manis dari itu sepertinya akhir kisah ini. Tabir misteri pertanyaan yang menggelayut di benak si muslimah selama ini mulai terkuak. Benarlah…. sepertinya Allah sengaja mempertemukan dan mempertemukan si muslimah dan si kawan dari Bumi Ruai Jurai ini. Sebab lewat perantara si kawan ini mimpi besar si muslimah akan digenapi. Semoga saja berakhir indah sebab kisah ini memang belum sampai pada ujungnya. Sebagaimana kita yakini dan percayai… takdir Ilahi sepenuhnya adalah misteri.

Berbaik sangka saja padaNya dan mendekat sepenuh hati demi mengharap ridhoNya. Tak perlu menutup pintu kesempatan untuk mengenal siapapun. Baik ataupun buruk setiap insan selayaknya cermin bagi saudaranya yang lain yang lewat cermin tersebut kita bisa belajar tentang kehidupan. Tak jarang mereka menjadi pintu perantara datangnya rizki yang telah Allah siapkan untuk kita. Maka kita tak perlu ragu untuk berinteraksi dengan siapapun dengan tetap terbingkai dalam syariat.

Sebagaimana nasehat si kawan bahwa kita tidak pernah tahu kejutan apa yang Allah siapkan bagi kita, yang atas izin si muslimah, tulisan tersebut saya kutipkan.

“Karena yang jauh bagimu.. adalah dekat bagi Allah.. dan yang tak mungkin untukmu.. juga teramat mudah bagi Allah.. maka lukislah impianmu.. dengan sabar dan mencintai sholat”

“Jangan khawatir saat hidup terasa tak bergerak.. khawatirlah jika kita tak bergerak mendekati Allah.. karena Dialah Pemilik semua perubahan. Tidak akan ada yang hilang dari sisi Allah.. tidak juga doa & harapanmu.. tersimpan utuh.. hingga tiba saatnya turun padamu seperti 'hujan' terindah” [Titin Yusuf]
More about → Cermin Hati dari Bumi Ruai Jurai