Search

Kecele, KPK Urung Sita Kotak Sepatu LHI

Posted by Zam on Wednesday, May 1, 2013


Mungkin ini untuk pertama kalinya penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kecele saat 'memburu' alat bukti. Kendati sudah mempersiapkan berita acara penyitaan, penyidik KPK urung menyita deposit box milik Luthfi Hasan Ishaaq (LHI) di Bank Mandiri, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Pasalnya, alih-alih berisi barang berharga, deposit box tersebut ternyata berisi kotak sepatu.

Kuasa hukum LHI Mohammad Assegaf menyampaikan, sebelumnya KPK menerima informasi bahwa LHI memiliki deposit box di Bank Mandiri pusat. Karena itu usai pemeriksaan LHI, Selasa (30/4) lalu, tim penyidik KPK mengajak LHI ke Bank Mandiri untuk membuka deposit box tersebut.

“Bahkan KPK sudah mempersiapkan berita acara penyitaan. KPK juga menyiapkan mobil khusus untuk membawa barang sitaan itu,” kata Assegaf, Rabu (5/1) di Jakarta.

LHI sendiri, menurut Assegaf, lupa kalau memiliki deposit box di Bank Mandiri. Dia juga tidak tahu isi deposit box tersebut. Karena sejak pertama kali menggunakannya tahun 2005, dia tidak pernah menjamahnya lagi.

Ketika dibuka dalam deposit box itu ternyata berisi sebuah kotak sepatu berwarna putih dengan tulisan VINCCI di bagian depan kotak. Dalam kotak sepatu itu hanya berisi amplop kosong Bank Mandiri, amplop kosong bank HSBC, amplop kosong bertuliskan cek multiguna Bank BNI, serta laporan rekening HSBC atas nama Luthfi Hasan Ishaaq.

Karena tidak jadi disita KPK, kotak tersebut kemudian dibawa oleh tim hukum LHI yang saat itu mendampinginya ke Bank Mandiri.

Seperti terekam di media sosial, sebagian masyarakat menilai wajar KPK kecele karena LHI tidak bersalah sehingga tidak akan ada alat bukti yang bisa ditemukan. Rekaman pembincaraan LHI – Mentan yang pernah disebut-sebut pada Februari lalu pun akhirnya diralat bahwa KPK tidak memiliki rekaman tersebut. [JJ/Trb/Dkw/bsb]
More aboutKecele, KPK Urung Sita Kotak Sepatu LHI

Beginilah Cara Muslim Myanmar Balas Biksu Budha

Posted by Zam


Dalam dua tahun terakhir, citra biksu Budha Myanmar identik dengan provokator penyebar kebencian dan pembantaian terhadap umat Islam. Meskipun tidak semua biksu terlibat gerakan 969, Wirathu dan kawab-kawan telah mengubah wajah pelontos biksu menjadi beringas dan menakutkan.

Lalu bagaimana umat Islam membalas kekejaman biksu-biksu Myanmar itu? Sebuah laman facebook yang menyerukan penghentian pembunuhan Muslim Myanmar mengunggah foto-foto interaksi umat Islam dan biksu Budha. Dalam foto-foto itu terungkap bagaimana Muslim Myanmar memperlakukan para biksu dengan baik.

Diantaranya, terlihat umat Islam memberikan sedekah kepada para biksu Buddha. Di bagian lainnya, terdapat keakraban antara ulama dengan biksu yang sedang menghadiri suatu acara.

Foto yang diunggah di laman Facebook STOP Killing Muslims in Burma itu diberi judul "How Muslims handle with Buddhist monks. So why you hate them?" oleh pengelolanya.
Interaksi umat Islam - biksu Budha di Myanmar

Sayangnya, persahabatan yang terlihat di foto tersebut ternyata berbanding terbalik dengan realitas di Myanmar. Polisi Myanmar melaporkan, Selasa (30/4) kemarin, kerusuhan antar umat Muslim dengan mayoritas Buddha muncul di kawasan komersial kota Oakkan. Kota ini berjarak 100 kilometer utara Yangon, ibu kota Myanmar.

Sekelompok umat Budha bersenjatakan batu merusak masjid dan kemudian menghancurkan puluhan toko kaum muslim. Seperti dilansir Republika, pemicu kerusuhan ini hanya karena adanya isu seorang perempuan Muslim sengaja menabrak biksu Budha yang sedang meminta di jalan. [AM/Rpb/bsb]
More aboutBeginilah Cara Muslim Myanmar Balas Biksu Budha

Iklan Ayu Azhari, Tempo Fitnah PKS Lagi

Posted by Zam


Sebuah iklan provokatif dari Tempo tampil di faceboook sejak Rabu (1/5). Dengan judul "Ayu Azhari Diperiksa KPK" iklan yang juga disertai foto Ayu Azhari itu mengatakan Ayu Azhari sering diundang Partai Keadilan Sejahtera (PKS) melalui Ahmad Fahatah. "Sering diundang Ahmad Fathanah terkait acara PKS, Ayu Azhari pun dipanggil KPK. Kenapa?" demikian bunyi iklan tersebut.

Sontak, iklan yang bernada fitnah itupun dipersoalkan di media sosial. "Kayaknya pemanggilan ayu, sudah disiapkan tempo utk memfitnah tambahan. Krn alasan dipanggil adalah nama ayu ada di phone book AF. Aneh," kata Bayu mengomentari iklan tersebut di facebook.

Seperti diketahui, Ayu Azhari tidak pernah diundang PKS. Wasekjen PKS Fahri Hamzah menegaskan hal itu, Rabu (1/5). "Nggak pernah PKS ngundang Ayu Azhari," kata Fahri seperti dikutip detikcom.

Fahri juga menegaskan Ahmad Fathanah yang menjadi tersangka kasus impor daging sapi bukan kader PKS. Kalau ada kedekatan Fathanah dengan eks Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq menurutnya itu hal lain.

Iklan Tempo
"Fathanah tidak pernah menjadi anggota PKS, dia bebas saja. Itu kan hubungan pribadi, kalau Anda dekat kan bukan berarti Anda orang PKS," tegas Fahri.

Lebih aneh lagi, materi iklan Tempo tersebut juga bertentangan dengan berita yang dibuat oleh Tempo sendiri pada hari yang sama. Dalam berita berjudul "Ayu Azhari Kenal Fathanah di Plaza Indonesia", Tempo memberitakan bahwa Ayu berkenalan dengan Fathanah pada November-Desember 2012. Artinya, Ayu hanya mengenal Fathanah selama satu bulan sebelum pria itu ditangkap KPK pada 29 Januari lalu. Mungkinkah dalam waktu satu bulan Ayu sering diundang terkait acara PKS seperti bunyi iklan Tempo?

Dalam berita lain yang juga ditulis Tempo pada hari yang sama, Ayu juga membantah pernah diundang dalam pertemuan Safari Dakwah PKS di Hotel Aryaduta, Medan. Ayu bahkan mengatakan komunikasinya dengan Fathanah terkait pekerjaannya sebagai artis. [IK/Fb/Tmp/bsb]
More aboutIklan Ayu Azhari, Tempo Fitnah PKS Lagi

Untukmu yang Sedang Dalam Penantian

Posted by Zam

Kepada para wanita yang belum menikah, penantian adalah hal yang pasti dilalui, entah itu lama atau sebentar. Dalam masa penantian itu, ada banyak hal yang mencuat dalam benak dan perjalanannya. Kebosanan, putus asa, atau bahkan kesabaran dan tawakal yang mengiringi setiap detiknya. Jenuh, kadang itu yang terlontar, pun tak ingin pula jika moment penentu masa depan kita itu juga kita lalui dengan sembarangan orang walaupun terkadang banyak faktor yang membuat kita harus terburu-buru untuk segera menikah. Tuntutan umur, keluarga, atau bahkan “intimidasi” adat dan tradisi. Akhirnya, tidak sedikit muslimah yang terpaksa menikah dengan orang yang tidak diinginkan, entah karena akhlaknya atau alasan lainnya.

Tentang penantian, sepertinya ada sebuah lirik seorang penyair yang bisa kita toleh, bisa menjadi masukan... Ebiet G.A.D. Ada dua pilihan yang bisa kita lakukan dalam masa penantian: menoreh manfaat atau merugikan diri.

Menunggu ada kalanya terasa mengasyikkan, banyak waktu kita miliki untuk berfikir
Sendiri seringkali sangat kita perlukan, meneropong masa silam yang telah terlewat
Mungkin ada apa yang kita cari, masih tersembunyi di lipatan waktu yang tertinggal
Mungkin ada apa yang kita kejar, justru tak terjamah saat kita melintas


Jika kita manfaatkan masa-masa penantian itu dengan positif, banyak hal yang bisa kita lakukan, entah untuk muhasabah atau pun meng-upgrade diri agar lebih berkualitas. Begitu pun sebaliknya, seperti pada syair selanjutnya.

Menunggu lebih terasa beban yang membosankan, banyak waktu kita terbuang tergilas cuaca
Sendiri seringkali sangat menyakitkan, meneropong masa depan dari sisi yang gelap
Mungkin ada apa yang kita takuti, justru t'lah menghadang di lembaran hari-hari nanti
Mungkin ada apa yang kita benci, justru t'lah menerkam menembusi seluruh jiwa kita
Mungkin ada apa yang kita takuti, justru t'lah menghadang di lembaran hari-hari nanti
Mungkin ada apa yang kita benci, justru t'lah menerkam menembusi s'luruh jiwa kita


Jika kita manfaat waktu penantian itu dengan hal yang negatif, bisa jadi kita justru terkalahkan oleh waktu itu sendiri.

Memang seharusnya kita tak membuang semangat masa silam
Bermain dalam dada, setelah usai mengantar kita tertatih-tatih sampai di sini


Di akhir lirik tersebut ada pesan terakhir yang diselipkan tentang semangat masa silam yang mengantarkan kita menjadi seperti sekarang, untuk tak membuang semangat itu sehingga kita tetap bertahan menjadi lebih baik hingga hari ini.

Bait syair Ebit mungkin memberi inspirasi bagi kita. Namun ada inspirasi yang jauh lebih hebat untuk menjadi pegangan kita dalam penantian. Inspirasi itu tidak lain adalah surat cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hamba-hambaNya yang beriman :

وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ حِينَ تَقُومُ وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا
“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada beberapa saat di malam hari dan di waktu terbenam bintang-bintang (di waktu fajar).” (QS. Ath Thuur: 48-49)

Dalam ayat tersebut, Allah mengarahkan Rasulullah dan kaum mukminin untuk bersabar. “Yakni bersabarlah terhadap gangguan mereka (orang-orang jahiliyah, kafir quraisy)” terang Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Sayyid Quthb dalam tafsir Fi Zhilalil Qur’an merinci lebih luas: “bersabar dalam menghadapi kesulitan, pendustaan dan cacian. Juga bersabar di jalan dakwah yang berat lagi panjang seraya menyerahkan persoalan kepada keputusan Allah”

Kata-kata Sayyid Quthb pada kalimat terakhir itulah yang perlu digarisbawahi dalam mengambil inspirasi penantian dari ayat ini: bersabarlah seraya menyerahkan persoalan kepada Allah. Sabar dan tawakal.

Langkah penantian seperti itulah yang dicontohkan Fatimah. Sebenarnya, Fatimah mencintai Ali. Tetapi ia diam. Ia tak pernah mengatakannya, juga tak pernah menjadikan alasan itu untuk menolak lelaki shalih yang lebih dulu datang melamarnya. Sebab ia tak tahu ketentuan Allah kelak seperti apa.

Jika kemudian Abu Bakar melamar Fatimah dan ditolak, Umar melamar juga ditolak, yang menolak adalah Rasulullah, bukan Fatimah. Sampai kemudian ketika Ali melamar Fatimah, Rasulullah menyetujuinya: ahlan wa sahlan.

“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ” kata Fatimah kepada Ali setelah keduanya menjadi suami istri.
“Kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku? dan siapakah pemuda itu?” Ali balik bertanya. Ia terkejut dengan apa yang didengarnya dari istri tercinta.
“Ya, karena pemuda itu adalah dirimu” jawab Fatimah sambil tersenyum.

Bisakah kita seperti Fatimah? Merangkai 3 hal dalam masa penantian, seperti petunjuk Allah dalam ayat di atas: bersabar, bertasbih, dan shalat malam. [Gresia Divi]
More aboutUntukmu yang Sedang Dalam Penantian

Para Istri Eyang Subur Akan Gugat MUI

Posted by Zam


Tujuh istri Eyang Subur mengaku kecewa dengan salah satu fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menyatakan suaminya hanya boleh menikah dengan empat orang istri. Istri-istri Eyang Subur menilai, fatwa MUI yang meminta Eyang Subur menceraikan empat dari delapan istrinya itu tak memiliki landasan hukum yang baku sesuai undang-undang negara.

"Kalau hukum sudah memutuskan untuk bercerai, tidak ada warga negara yang bisa melanggarnya. Tapi jika hanya fatwa, itu bisa dipertanyakan," ujar kuasa hukum istri-sitri Eyang Subur, Made Rahman, Rabu (1/5) siang.

Seperti dikutip dari detik.com, menurut Made, istri-istri Eyang Subur sudah meminta pertimbangan MUI terkait fatwa tersebut, namun MUI mengatakan fatwa sudah final. Karenanya, istri-istri Eyang Subur yang dipimpin oleh istri pertama Heri Mahwati berniat menggugat lembaga yang dipimpin KH Sahal Mahfudh tersebut.

"Kita sudah menyampaikan keberatan atas fatwa tersebut. MUI tidak menjawab karena katanya itu adalah fatwa final. Nah, kemungkinan saya akan menggugat MUI ke pengadilan agama paling lambat hari Senin (6/5)," tutur Made.

Istri Eyang Subur juga mengaku kecewa suaminya yang punya delapan istri dipermasalahkan, padahal banyak lelaki lain yang memiliki puluhan istri.

"Kenapa kita yang delapan yang dimasalahin? Banyak di luar sana ada yang punya 30 istri," kata Heri Mahwati. [AM/Dtk/bsb]
More aboutPara Istri Eyang Subur Akan Gugat MUI