Search

Showing posts with label Kejiwaan. Show all posts
Showing posts with label Kejiwaan. Show all posts

Surat Al Fatihah Yang Mengandung Obat bagi Jiwa dan Raga

Posted by Zam on Wednesday, December 4, 2013

Kandungan Al Fatihah yang mampu menyembuhkan hati merupakan kandungannya yang paling komplit. Sumber penyakit hati dan deritanya ada dua macam: Ilmu yang rusak dan tujuan yang rusak. Dari dua sumber ini muncul dua penyakit lain: Kesesatan dan kemarahan.

Kesesatan merupakan akibat dari ilmu yang rusak, sedangkan kemarahan merupakan akibat dari tujuan yang rusak. Dua jenis penyakit ini merupakan inti dari semua jenis penyakit hati. Hidayah ke jalan yang lurus men-jamin kesembuhan dari penyakit kesesatan. Karena itu memohon hidayah ini merupakan doa yang paling wajib bagi setiap hamba, yang juga diwajibkan atas dirinya setiap malam dan siang, dalam setiap shalat dan saat terdesak keperluan.

Sedangkan penegasan iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in secara ilmu dan ma’rifat, amal dan kondisional, menjamin kesembuhan dari penyakit hati dan tujuan yang rusak. Sebab tujuan yang rusak ini berkaitan dengan sasaran dan sarana. Siapa yang mencari tujuan yang pasti akan terputus dan fana, menggunakan berbagai macam sarana untuk dapat meraihnya, maka hal itu justru akan menjadi beban baginya dan tujuannya jelas salah.

Inilah keadaan setiap orang yang tujuannya untuk mendapatkan hal-hal selain Allah dari kalangan orang-orang musyrik, orang-orang yang hanya ingin memuaskan nafsunya, para tiranyang menopang kekuasaannya dengan segala cara, tak peduli benar maupun batil. Jika ada kebenaran yang menghambat jalan kekuasaannya, maka mereka mendepaknya. Jika tidak mampu mendepaknya, mereka akan menepis kebenaran itu, layaknya pemelihara sapi yang menyingkirkan sampah di kandang. Jika mereka tidak bisa melakukannya, mereka menghentikan langkah di jalan itu lalu mencari jalan lain. Dengan cara apa pun mereka siap menolaknya. Jika ada kebenaran yang mendukung kekuasaan, mereka mendukungnya, bukan karena itu merupakan kebenaran, tapi karena kebenaran itu yang kebetulan sejalan dengan tujuan dan nafsunya.

Karena tujuan dan sarana yang dipergunakan rusak, maka mereka adalah orang-orang yang paling menyesal dan merugi, jika tujuan yang mereka raih meleset. Merekalah orang-orang yang paling menyesal dan merugi di dunia, yaitu jika kebenaran dikatakan benar dan kebatilan dikatakan batil. Yang demikian ini seringkali terjadi di dunia. Penyesalan ini akan semakin nyata tatkala mereka meninggal dunia dan menghadap Allah serta berada di alam Barzakh.

Begitu pula orang yang mencari tujuan yang tinggi dan sasaran yang mulia, namun tidak menggunakan sarana yang mendukungnya untuk meraih tujuan itu, dia hanya mendugaduga sarana yang digunakannya itu akan mendukungnya. Keadaan orang ini tak jauh berbeda dengan orang yang pertama. Dia tidak akan mendapatkan kesembuhan dari penyakit ini kecuali dengan obat iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in.

Obat ini mempunyai empat komposisi: Ibadah kepada Allah, perintah dan larangan-Nya, memohon pertolongan dengan beribadah kepada-Nya, tidak dengan hawa nafsu, tidak dengan pendapat manusia dan pemikirannya, tidak dengan diri manusia dan kekuatannya. Inilah unsur-unsur yang terkandung di dalam obat iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in. Jika unsur-unsur ini diramu oleh seorang dokter yang berpengalaman, tentu akan menjadi obat yang sangat mujarab.

Hati itu mudah terjangkiti dua macam penyakit yang kronis. Jika seseorang tidak mengobatinya, tentu dia akan binasa, yaitu riya’ dan takabur.

Obat riya adalah iyyaka na’budu, sedangkan obat takabur adalah iyyaka nasta’in. Seringkali kami mendengar Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Iyyaka na’budu menolak penyakit riya’, dan iyyaka nasta’in menolak penyakit takabur.”

Jika seseorang diberi kesembuhan dari penyakit riya’ dengan iyyaka na’budu, diberi kesembuhan dari penyakit takabur dan ujub dengan iyyaka nasta ‘in, diberi kesembuhan dari penyakit kesesatan dan kebodohan dengan ihdinash-shirathal-mustaqim, berarti dia telah diberi kesembuhan dari segala macam penyakit. Namun di antara orang-orang yang mendapat kenikmatan juga ada yang mendapat murka. Mereka adalah orang-orang yang tujuannya rusak, yang sebenarnya mengetahui kebenaran namun menyimpanginya. Ada pula di antara mereka yang adh-dhallin (sesat), yaitu mereka yang memiliki ilmu yang rusak dan tidak mengetahui kebenaran.

Tentang surat Al Fatihah yang mengandung obat bagi penyakit badan, maka akan kami jelaskan seperti yang telah dijelaskan As-Sunnah dan dikuatkan ilmu medis serta berdasarkan pengalaman. Di dalam Ash Shahih disebutkan dari hadits Abul-Mutawakkil An-Najy, dari Abu Sa’id Al-Khudry, bahwa ada beberapa orang dari shahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang melewati sebuah perkampungan Arab dalam perjalanannya.

Para penduduk kampung itu tidak mau menerima mereka sebagai tamu, apalagi menjamu. Pada saat yang sama pemimpin mereka disengat hewan. Maka penduduk kampung mendatangi mereka dan bertanya, “Adakah kalian mempunyai mantera atau adakah di antara kalian yang bisa menyembuhkan dengan mantera?”

“Ya, ada. Tapi karena kalian tidak mau menjamu kami, maka kami tidak mau mengobati kecuali jika kalian memberikan imbalan kepada kami.”

Maka penduduk kampung itu sepakat untuk memberikan beberapa ekor kambing. Maka setiap orang di antara para shahabat itu membacakan Al Fatihah. Seketika itu pula pemimpin kampung itu bangkit, seakan-akan sebelumnya dia tidak pernah sakit. Kami berkata, “Janganlah kalian terburu-buru menerima imbalan ini sebelum kita menemui Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.”

Setelah bertemu beliau, mereka menceritakan kejadian ini. Beliau bersabda, “Apa pendapat kalian kalau memang Al Fatihah itu benar-benar merupakan ruqyah? Terimalah imbalan itu dan sisihkan bagianku.”

Hadits ini menjelaskan keampuhan Al Fatihah yang bisa menyembuhkan sengatan hewan, sehingga ia berfungsi sebagaimana obat, atau bahkan lebih mujarab daripada obat itu sendiri. Padahal orang yang disembuhkan itu tidak terlalu tepat untuk disembuhkan dengan cara tersebut, entah karena penduduk kampung itu bukan orang Muslim atau karena mereka orang-orang yang kikir. Lalu bagaimana jika yang disembuhkan tidak seperti mereka?

Sedangkan dari teori medis, dapat dibuktikan sebagai berikut, bahwa sengatan itu berasal dari hewan yang mempunyai racun, yang berarti mempunyai jiwa yang kotor dan terbentuk karena amarah, lalu menyalurkanunsur racun yang panas lewat sengatan itu. Jika jiwa yang kotor ini terbentuk bersamaan dengan terbentuknya kemarahan, maka ia akan merasa senang jika dapat menyalurkan racun ke tempat yang layak menerimanya, sebagaimana orang jahat yang merasa senang jika dapat menyalurkan kejahatannya terhadap orang yang layak menerimanya. Bahkan dia merasa tersiksa jika tidak bisa menyalurkan kejahatannya itu kepada seseorang.

Prinsip penyembuhan ialah dengan menggunakan kebalikannya dan menjaga dengan sesuatu yang serupa. Kesehatan dijaga dengan sesuatu yang serupa dan penyakit disembuhkan dengan kebalikannya. Ini merupakan hukum sebab-akibat yang sudah diatur sedemikian rupa oleh Allah Yang Maha Bijaksana. Namun hal ini tidak akan berhasil kecuali dengan kekuatan jiwa pelakunya dan reaksi penerimanya. Jika jiwa orang yang disengat tidak layak menerima ruqyah itu dan jiwa yang membacakan ruqyah tidak mampu memberikan pengaruh apa-apa, maka kesembuhan tidak akan berhasil.

Jadi di sini ada tiga unsur: Kesesuaian obat dengan penyakit, kesungguhan orang yang mengobati dan orang yang diobati bisa menerimanya. Jika tidak ada kelaikan pada salah satu unsur ini, maka kesembuhan tidak akan terjadi.

Siapa yang bisa memahami hal ini, tentu dia bisa memahami rahasia ruqyah tersebut, bisa membedakan antara yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat dan bisa mencocokkan obat dengan penyakit yang hendak diobati, seperti penggunaan pedang untuk memotong barang yang memang bisa dipotong dengan pedang itu.

Sedangkan dari kesaksian pengalaman, maka cukup banyak orang yang mengalaminya. Saya sendiri pernah mempunyai pengalaman dalam penggunaan Al Fatihah sebagai ruqyah ini dengan hasil yang benar-benar menakjubkan, terutama pada saat-saat saya menetap di Makkah. Suatu saat saya sakit yang benar-benar amat menyiksa, hingga hampir-hampir saya tidak bisa menggerakkan badan karenanya. Padahal saat itu saya harus mengerjakan thawaf dan lain-lainnya. Maka saya segera membaca Al Fatihah, lalu mengusapkan telapak tangan ke bagian-bagian tubuh yang sakit.

Seakan-akan dari bagian yang sakit itu ada kerikil yang jatuh. Pengalaman seperti ini tidak terjadi hanya sekali saja, tapi beberapa kali. Pernah juga saya mengambil air Zamzam lalu membacakan Al Fatihah pada air itu dan saya meminumnya. Hasilnya, saya merasa mendapat kekuatan baru yang tidak pernah kurasakan yang seperti itu. Tentu saja semua ini harus didasari kekuatan iman dan keyakinan yang benar.

sumber : http://www.fimadani.com/surat-al-fatihah-yang-mengandung-obat-bagi-jiwa-dan-raga/, akses tgl 06/06/2013.

More aboutSurat Al Fatihah Yang Mengandung Obat bagi Jiwa dan Raga

[Penelitian] Galau Dapat Menular. Awas! Jangan Share Status Galau

Posted by Zam on Monday, November 25, 2013

Jamban Panyileukan – Penelitian terbaru menunjukkan bahwa depresi dan kondisi emosi bisa menular antara satu sama lain.

Para peneliti mengatakan bahwa mengubah lingkungan adalah cara yang dapat digunakan sebagai bagian dari pengobatan untuk depresi karena kerentanan seseorang terhadap depresi dapat berfluktuasi dari waktu ke waktu.

Sebagaimana dilansir Daily Mail (19/4), penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Clinical Psychological Science. Untuk itu, dokter Gerald Haeffel dan Jennifer Hames dari University of Notre Dame di Indiana, Amerika, pun memutuskan untuk menyelidiki apakah mungkin depresi bisa menular selama transisi kehidupan seperti di masa perkuliahan awal di universitas.

Peneliti kemudian mengamati 206 mahasiswa yang dipasangkan secara acak sebagai teman sekamar, semuanya baru saja memulai tahun pertama mereka di universitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang tinggal dengan teman sekamar yang rentan depresi, mulai mengikuti cara berpikir dan mengembangkan tanda-tanda depresi. Sebaliknya, mereka yang ditempatkan sekamar dengan orang yang tidak rentan depresi mengalami penurunan risiko depresi. Dr Haeffel mengatakan temuan ini memberikan bukti untuk teori penularan antar emosi manusia. Inilah alasan mengapa seseorang bisa tertular virus galau jika berada di dekat orang yang galau.(Ayyas/merdeka)

sumber : http://www.shoutussalam.com/2013/04/penelitian-galau-dapat-menular-awas-jangan-share-status/, akses tgl 26/11/2013.
More about[Penelitian] Galau Dapat Menular. Awas! Jangan Share Status Galau

Hidup lebih Nikmat dan Bahagia dengan Rizki Halal

Posted by Zam on Thursday, November 21, 2013

AKHIR-AKHIR ini, publik dihebohkan dengan berita tentang aliran dana ilegal yang diterima oleh sebagian kalangan artis. Tentu ini bukan berita mengejutkan. Pasalnya, perilaku haram di negeri ini yang dilakukan beberapa kalangna pejabat sudah menjadi menu utama warta berbagai media. Apalagi belakangan ini, dimana korupsi baik secara langsung maupun tidak, sering menyeret kaum hawa, utamanya dari kalangan artis.

Pembelaan dari beberapa artis pun muncul sebagai headlineberita dan program talkshow di media. Pada intinya, para artis menolak jika dirinya disebut menerima uang haram dengan pekerjaannya sebagai artis. Mereka berdalih bahwa mereka melakukan itu semua secara profesional, sesuai prosedur dan kesepaktan kerjasama.

Padahal, di hadapan Allah kelak, pertanyaan soal rizki ini bukan semata-mata menyangkut soal profesional atau tidak, tetapi benarkah, jujurkah dan halalkah cara kita mendapatkannya.

Lebih dari itu, sekalipun sudah halal cara kita mendapatkannya, halalkah cara kita membelanjakannya, juga akan menjadi pertanyaan utama.

Jadi, mari kita bangun satu kesadaran bahwa mencari rizki dengan cara halal adalah lebih utama dari apa pun juga. Sebab, setaat apa pun kita beribadah jika haram rizki yang kita makan, semua hanya akan mendatangkan kesia-siaan.

Ibn Umar meriwayatkan, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang membeli pakaian dengan harga sepuluh dirham, satu dirham di antaranya uang yang haram, maka Allah tidak akan menerima sholatnya selama pakaian itu masih dipakainya. Kemudian Ibn Umar memasukkan jarinya ke dalam dua telinganya, lalu berkata, “Biarkanlah telinga ini tuli kalau tidak mau mendengarkan perkataan dari Rasulullah ini.” (HR. Bukhari).

Terlepas dari ‘kehebohan’ yang terjadi, sebagai seorang Muslim kita mesti melihat fenomena negatif tersebut sebagai bentuk ketidaksadaran akal terhadap arti dan hakikat rizki itu sendiri. Yang mana, semua itu terjadi disebabkan oleh rasa tidak peduli terhadap ajaran Islam, sehingga memandang materi sebagai tujuan hakiki. Di sinilah, ilusi tentang banyaknya materi sebagai sumber kebahagiaan kian kuat merasuki jiwa.

Pada akhirnya sampailah dalam sistem bawah sadar seorang manusia bahwa materi adalah segala-galanya. Mungkin ini tidak terucap dalam kata, namun nyata dalam pola pikir, sikap dan perbuatan. Sebagaimana hal itu nampak begitu jelas pada diri seorang Fir’aun, Qarun dan Haman. Ketiganya punya kuasa, berharta dan berpendidikan.

Namun ketiganya juga manusia pandir yang menegasikan iman, sehingga memandang benar segala kedurhakaan dan menganggap tinggi segala bentuk kekufuran. Merasa bahagia dengan gelimang harta walau jiwa meronta kesakitan karena larut dalam kedurhakaan. Inilah contoh jenis manusia yang sangat cinta kepada harta, hingga tak peduli halal atau haram.

Padahal, setiap makhluk telah Allah jamin rizkinya (QS. 11: 6), dan tidak satu pun makhluk akan meninggalkan dunia ini, kecuali telah sempurna rizki yang telah ditetapkan Allah baginya.

وَفِي السَّمَاء رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ

“Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rizkimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan.” (QS. Adz-Dzaariya [51]: 22-23).

Akan tetapi, karena ketakutan yang tidak berdasar, banyak di antara umat Islam yang meragukan kepastian ini, sehingga dalam mencari nafkah mereka tidak peduli pada halal haram, tetapi sangat fokus pada banyak dan menguntungkan, mudah dan cepat serta melalui cara apa pun juga.

Hakikat Rizki


Umumnya orang melihat rizki sebatas pada materi, angka, aset dan segala macam bentuk harta benda. Tidak heran, kalau ada orang mendapatkan uang dalam jumlah besar dikatakan mendapat rizki nomplok. Sebaliknya, yang sedang tidak memiliki uang disebut sial alias belum ada rizki. Padahal, rizki itu bukan semata-mata harta benda.

Secara bahasa rizki berasal dari kata Razaqa-Yarzuqu-Rizq yang berarti A’tha-Yu’thi-Tha’ yang artinya pemberian. Sedangkan secara istilah, rizki bisa dipahami sebagai sesuatu apa pun yang bisa dikuasai atau diperoleh oleh makhluk, baik yan gbisa dimanfaatkan atau tidak.

Sesuatu apa pun itu bisa dirinci sebagai segala hal yang bersifat halal dan haram, positif dan negatif, sehat dan sakit, cerdas dan tidak cerdas, tampan dan tidak tampan dan sebagainya. Semua itu bisa disebut sebagai rizki.

Dan, berbicara rizki semua telah ditetapkan oleh-Nya, lebih-lebih yang bersifat materi. Oleh karena itu, kita tidak boleh takut tidak mampu menghidupi anak keturunan kita hanya karena ketiadaan harta. Allah-lah yang akan mencukupi rizkinya.

وَلاَ تَقْتُلُواْ أَوْلاَدَكُم مِّنْ إمْلاَقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلاَ تَقْرَبُواْ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلاَ تَقْتُلُواْ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi.” (QS. Al An'am [6]: 151).

Ayat ini menjelaskan secara tegas, bahwa rizki yang bersifat materi yang dibutuhkan oleh jasad manusia, sungguh kita tidak boleh mengkhawatirkannya, meski terhadap anak keturunan kita, yang walau pun kita hidup mungkin dalam kesulitan. Karena Allah yang menjaminnya.

Oleh karena itu, haram seorang Muslim melakukan keburukan atas dasar apa pun juga. Apakah itu gaji kecil, alasan masa depan, kekurangan harta dan sebgainya. Seorang Muslim harus tetap dalam kebenaran dalam situasi dan kondisi apa pun juga.

Metode R-I-D-T

Lantas, jika demikian halnya, apakah kita cukup beribadah saja tanpa bekerja? Tentu tidak demikian pemahamannya. Seorang Muslim mesti meyakini janji Allah soal rizki itu telah dijamin oleh-Nya sebagai sebuah dasar untuk tidak melakukan tindakan keji dan terkutuk, seperti mencuri atau korupsi.

Di sisi lain, juga berfungsi sebagai motivasi, bahwa sekecil apa pun harta yang dimiliki, jika halal cara mendapatkannya, akhirnya kemuliaan dan kebahagiaan pasti akan datang juga. Dengan demikian maka mustahil seorang Muslim itu memelihara sifat malas dan serakah. Sebaliknya akan senantiasa tertib, giat, ulet dan teratur dalam soal mencari rizki. Atas dasar itu, seorang Muslim mesti memiliki metode yang benar dalam mencari rizki. Di antaranya bisa menerapkan metode berikut ini.

Pertama, memiliki rencana. “Apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. 62: 10).

Ayat ini secara eksplisit memberikan panduan jelas bahwa setiap Muslim itu harus mengutamakan ibadah dan memiliki perencanaan dalam soal mencari rizki setelahnya, sehingga begitu sholat usai dilaksanakan, tidak ada waktu terbuang, karena sudah ada perencanaan perihal dengan cara apa rizki yang Allah janjikan akan dicari, sehingga waktunya efektif dan efisien.

Kedua, doa. Tidak boleh seorang Muslim hanya bersandar pada kemampuan kerja dan rencananya saja. Tetap, sekalipun rizki telah dijamin, kita mesti berdoa, memohon kepada Allah soal rizki. Sebab, sekali lagi, rizki bukan semata-mata soal harta dan benda. Tetapi juga yang lain, sebut saja misalnya ilmu.

Oleh karena itu ada doa yang diajarkan kepada kita seperti ini; “Rabbi zidni ilma warzuqni fahmaa”. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu juga termasuk rizki. Berarti berdoa memohon tambahan rizki dalam makna khusus maupun luas, sangat dianjurkan di dalam Islam.

Ketiga, tawakkal. “Jika kalian bertawakkal dengan tawakkal yang sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberikan rizki kepada kalian, sebagaimana Dia telah memberi rizki kepada burung yang berangkat (pagi) dengan perut kosong, dan pulang dengan (perut) kenyang.” (HR. Tirmidzi dan Imam Ahmad).

Jika demikian adanya, akankah kita korbankan akidah dan iman kita hanya semata-mata soal materi yang merupakan bagian kecil dari rizki Allah yang begitu luas dan tak terbatas. Padahal jelas, sumber kebahagiaan dan kemuliaan seorang Muslim tidak terletak pada jumlah harta bendanya, melainkan pada ketakwaannya.

Lantas bagaimana jika rizki terasa sempit. Maka mari kita amalkan ayat Allah ;

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقاً نَّحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan sholat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. 20: 132).

Ibn Katsir menjelaskan bahwa shalat yang dimaksud ialah shalat malam. Kemudian Ibn Katsir mengatakan, “Yakni apabila kamu tegakkan shalat maka rizki akan datang kepadamu dari jalan yang tak pernah kamu sangka-sangka.”

Jadi, tidak patut seorang Muslim berbuat curang hanya karena takut miskin atau tidak akan hidup secara berkecukupan. Allah sudah menjamin. Oleh karena itu milikilah rencana sedini mungkin untuk hidup dengan rizki yang halal.*

Rep: Imam Nawawi
Editor: Cholis Akbar
sumber : http://www.hidayatullah.com/read/2013/11/11/7221/hidup-lebih-nikmat-dan-bahagia-dengan-rizki-halal.html, akses tgl 21/11/2013.

More aboutHidup lebih Nikmat dan Bahagia dengan Rizki Halal