Search

Pimpinan KPK Sudah Lama Pecah? Ini Penuturan Sumber Internal

Posted by Zam on Friday, March 29, 2013


Pernyataan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad, bahwa ada kelompok yang akan mengkudeta dirinya, sangat mengejutkan publik. Benarkah pimpinan KPK sudah lama pecah dan siapakah pelaku “konspirasi” yang akan mengkudeta Abraham?

Juru Bicara KPK Johan Budi mengaku di internal KPK kerap terjadi perbedaan. Perbedaan itu, menurutnya bisa terjadi, termasuk saat pelaksanaan ekspose atau gelar perkara.

"Perbedaan pendapat itu biasanya ada dalam bentuk ekspose," kata Johan, Jumat (29/3), dikutip dari Tribunnews.

Saat disinggung di perkara mana perbedaan sangat besar di level pimpinan, Johan enggan membeberkannya. Dia berdalih lantaran dirinya tidak pernah ikut dalam ekspose

Kendati demikian, Johan tetap prihatin melihat perbedaan yang ada saat ini. Menurutnya selaku pegawai internal KPK, pihaknya menganggap perbedaan itu sudah cukup mengkhawatirkan.

"Saya prihatin dengan kondisi seperti ini dan semua pegawai juga prihatin dengan kondisi seperti ini," ujarnya.

Sebelumnya, Abraham menuding ada upaya untuk melakukan kudeta terhadap dirinya. Modusnya, ia mencurigai, ada pihak-pihak tertentu yang dengan sengaja mengarahkan pelaku pembocor surat perintah penyidikan (sprindik) Anas Urbaningrum kepada dirinya.

"Kebocoran sprindik adalah skenario untuk menjatuhkan dan membungkam saya dari KPK," kata Abraham dalam pesan singkatnya kepada wartawan di Jakarta, Rabu (27/3). [JJ/Trb/bsb]
More aboutPimpinan KPK Sudah Lama Pecah? Ini Penuturan Sumber Internal

Mush’ab bin Umair, Cerminan Diri Pemuda Islam

Posted by Zam on Thursday, March 28, 2013

“Aku telah mengetahui Mush’ab ini sebelumnya. Tidak ada pemuda Mekkah yang lebih dimanja oleh orang tuanya seperti dia. Kemudian ia meninggalkan semua itu karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya”
(Rasulullah)

Mush’ab bin Umair seorang remaja Quraisy yang mempunyai nama paling harum. Wajahnya yang rupawan, penampilannya yang selalu rapi, wangi, berasal dari keluarga bangsawan yang sangat dimanja oleh ibunya. Keberadannya selalu dinanti karena kecerdasan akal dan keanggunan penampilannya.

Dalam perjalanan hidupnya, para sejarawan dan periwayat menjelaskan bagaimana sosok seorang Mush’ab yang hidup dengan kecukupan harta, dengan kasih sayang sangat dari ibunya. Kemudian ia rela meninggalkan semuanya demi kecintaannya pada Allah dan Rasul-Nya. Kehidupannya berubah drastis setelah ia memutuskan secara sembunyi-sembunyi masuk Islam. Sampai kemudian berita keislamannya itu terdengar hingga ke seantero Mekkah, termasuk ibunya. Ibunya lalu mengurungnya dalam sebuah ruang di rumahnya. Kemudian karena kecerdikannya ia berhasil mengelabui ibu dan para penjaga rumahnya hingga ia berhasil meloloskan diri. Ia pun ikut hijrah ke Habasyah bersama sahabat atas titah Rasulullah.

Beberapa tahun kemudian Mush’ab kembali dari Habasyah. Ia akhirnya bertemu dengan ibunya yang membuatnya hampir dikurung lagi. Kemudian ibunya berkata “Pergilah sesukamu! Aku bukan ibumu lagi”. Mush’ab lalu menimpali “Wahai ibunda, saya ingin menyampaikan nasihat kepada ibunda. Dan ananda merasa kasihan kepadamu. Saksikanlah bahwah tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya”.

Mush’ab bin Umair syahid tatkala membawa panji Islam dalam perang Uhud. Dalam perang tersebut digambarkan bahwa Mush’ab dengan gagah berada di garda paling depan melindungi Rasulullah di saat semua pasukan turun dari medan perang. Ia tetap bertahan melindungi Rasulullah. Hatinya selalu mencemaskan keselamatan Rasulullah. Ia kemudian menerobos pasukan lawan. Pasukan tersebut menebas tangan kanannya hingga putus. Ia lalu merangkul panji tersebut dengan tangan kirinya. Setelah tangan kirinya terhunus pedang lawan hingga putus ia lalu mendekap dengan dadanya. Ia kemudian syahid setelah pasukan lawan menusuk punggungnya. Dan akhirnya panji Islampun jatuh bersama robohnya dirinya.

Setelah peristiwa tersebut Rasulullah beserta para sahabat menyisir medan perang. Kemudian menemukan Mush’ab dalam keadaan telungkup. Ketika hendak dishalatkan Rasulullah dan para sahabat tak menemukan kecuali sehelai kain yang jika digunakan untuk menutup kepalanya maka kakinya akan terbuka dan jika digunakan untuk menutup kakinya maka kepalanya akan terbuka. Rasulullah lalu menyuruh para sahabat untuk menutupkan kain tersebut pada kepalanya dan menutupkan idzkhir (rumput berbau harum yang digunakan dalam penguburan).

Sungguh kisah yang mengharukan dari perjalanan hidup sosok Mush’ab bin Umair. Seorang pemuda yang penuh semangat. Kecerdasan akalnya dan keanggunan penampilannya mampu memukau setiap orang. Ia selalu menjadi buah bibir dikalangan masyarakat. Hingga ia banyak dicari. Kehadirannya selalu dinanti.

Dari kisah Mush’ab di atas kita dapat mengambil pelajaran berharga. Yang pertama ia merupakan figur pemuda yang patut dijadikan teladan. Meski dia berasal dari keluarga bangsawan, kaya, cakep, cerdas dan sangat dimanja ibunya, ia rela meninggalkan semuanya dan hidup serba kekurangan. Hingga suatu saat Rasulullah dan para sahabat menemukannya dengan memakai jubah penuh tambalan.

Barang kali kalau di zaman sekarang ia sudah menjadi sosok artis. Dikagumi banyak orang. Di mana-mana selalu menjadi perbincangan. Namun ia tidak silau dengan semuanya. Hatinya telah menetapkan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. “Tidak ada ilah kecuali Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusannya”. Itu yang selalu diucapkannya. Hingga syahid menghampirinya.

Yang kedua, semangat, kecerdasan, dan keanggunan penampilannya menjadi cerminan bagi kita (terutamana bagi aktivis dakwah) bagaimana seharusnya kita menjadi pemuda Islam yang akan meneruskan perjuangannya menegakkan panji islam dimuka bumi ini. Dengan keanggunan penampilan yang dihiasi dengan kecerdasan akalnya itulah yang membuat Mush’ab banyak dicari. Kata-katanya mampu menyihir setiap pendengarnya. Hingga dakwahnya mudah diterima di kalangan masyarakat. Wallahu a'lam bish shawab. [Ukhtu Emil]
More aboutMush’ab bin Umair, Cerminan Diri Pemuda Islam

3 Tokoh Nasional Ini Membenarkan Adanya Konspirasi

Posted by Zam


Ketika Anis Matta pertama kali melontarkan kata “konspirasi” pada pidato perdana sebagai Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), 1 Februari lalu, banyak pihak mencibirnya. Namun, belakangan ini, adanya konspirasi dibenarkan oleh sejumlah pihak termasuk tiga tokoh nasional berikut ini.

Erlangga Mohamad
Mantan Sekretaris Jenderal KAHMI Erlangga Mohamad meyakini adanya konspirasi ketika KPK menetapkan Anas Urbaningrum sebagai tersangka. Ia juga meyakinkan KAHMI bahwa penetapan Anas sebagai tersangka itu adalah konspirasi.

“Saya sedang konsolidasi. Menyadarkan teman-teman bahwa penetapan Anas ini konspirasi. Harus ada reaksi ke KPK. Kita akan melakukan aksi,” tegas Erlangga, 22 Februari lalu.

Bahkan, Erlangga sempat minta KPK dibubarkan. “Kalau seperti ini kerja KPK. Kita minta KPK dibubarkan saja. Kita konsolidasi itu,” tandasnya.

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

Meskipun tidak menyebut kata “konspirasi” dengan tegas, isu kudeta yang dikeluarkan oleh Presiden SBY mengesankan adanya konspirasi yang ingin menjatuhkannya di tengah jalan. Sontak, isu yang digulirkan istana itupun menuai kontroversi hebat pada dua pekan lalu.

Puncaknya, isu kudeta itu mereda pada 25 Maret lalu. Rumor adanya kudeta pada hari Senin itu tidak terbukti. Sejumlah elemen masyarakat yang tergabung dalam Majelis Kedaulatan Rakyat Indonesia (MKRI) hanya menggelar aksi simpatik dengan membagi-bagikan paket sembako kepada warga miskin. Sesudah itu mereka berorasi menyuarakan ketidakpuasan atas kinerja pemerintah, sebagaimana unjuk rasa pada umumnya.

Abraham Samad

Setelah kata “kudeta” hilang dari istana, kini giliran Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad menggunakannya.

Abraham menuding ada upaya untuk melakukan kudeta terhadap dirinya. Modusnya, ia mencurigai, ada pihak-pihak tertentu yang dengan sengaja mengarahkan pelaku pembocor surat perintah penyidikan (sprindik) Anas Urbaningrum kepada dirinya.

"Kebocoran sprindik adalah skenario untuk menjatuhkan dan membungkam saya dari KPK," kata Abraham dalam pesan singkatnya kepada wartawan, kemarin (27/3). [JJ/bsb]
More about3 Tokoh Nasional Ini Membenarkan Adanya Konspirasi

Berdakwah dengan Pena

Posted by Zam


Jalinan aneh ini, getar ini : cinta. Dalam segala keterbatasan, kita telah mencoba menebarkannya di jalan – jalan berliku, yang kita lalui. Percayalah, selalu akan sampai pada seseorang.
(Helvy Tiana Rosa, Risalah Cinta)

Membaca dan menulis. Yang pertama, sejak masih belia saya menyukainya. Bahkan hingga kini. Mulai LKS atau kitab setiap mata pelajaran, majalah Mentari, majalah Bobo, Harian Jawa Pos, semua saya baca. Bahkan hingga Salah Asuhannya Abdul Muiz atau Sitti Nurbayanya Marah Rusli saya lahap semua saat sekolah lanjutan tingkat pertama. Hanya mungkin yang tak pernah tersentuh, buku psikologi dan manajemen diri yang murni dengan bahasa baku dan kaku yang terlampau sulit saya pahami hingga kini. Menginjak masa SMA dan bangku kuliah sepertinya semangat baca saya makin menggila. Apalagi semenjak mengenal Harakah Dakwah. Tak pelak, saya tersadar terlampau banyak buku–buku dahsyat yang menggiurkan dan terlampau sayang untuk dilewatkan.

Sedangkan menulis, jujur saya tidak benar–benar menyadari jika saya menyukainya. Meski mengisi diari sudah menjadi kebiasaan yang tak terlewatkan kala masih di bangku sekolah. Saat kuliah, tulisan–tulisan iseng saya hanya menempel di Mading kamar mungil yang saya sewa. Tidak lebih dari itu. Kini Allah memudahkan jalan bagi saya, ada pintu terbuka bagi saya untuk lebih serius menggoreskan pena.

Menulis. Ternyata bukan pekerjaan sederhana. Dengan menulis tanpa sadar kita sedang mendulang pahala. Bagaimana bisa…??. Semua berawal dari niat. Jika niat menulis kita tulus untuk menyampaikan kebaikan. Bukan sekedar demi uang dan kebanggaan. Apapun bentuk tulisan itu, entah puisi, cerpen, novel, artikel ataupun berita tentang kisah nyata. Saya punya keyakinan jika setiap untaian kata penuh makna yang coba kita ciptakan bisa dipastikan akan membekas dalam bagi yang membacanya. Maka sejak pertama yang mesti ditata saat menulis tak hanya sejumlah buku atau artikel yang akan kita jadikan sebagai panduan dan referensi semata. Yang lebih penting dari itu semua. Tentu saja, niat. Saat hanya Ilahi yang jadi motivasi sejati maka keberkahanpun akan datang menghampiri.

Terbukti hati saya sering tertambat pada nama–nama penulis yang saya sebutkan ini. Helvy Tiana Rosa, Anis Matta, Salim A.Fillah, Habiburrahman El Shirazy dan M. Lili Nur Aulia. Betapa banyak pembaca yang merasa tercerahkan setelah membaca karya-karya mereka.

Helvy Tiana Rosa. Penulis wanita penggagas komunitas penulis sastra islami, Forum Lingkar Pena. Cerpen fenomenal beliau Ketika Mas Gagah Pergi telah sukses tak hanya membuat pembacanya menangis haru karena ending cerita yang cukup tragis. Namun, cerpen itu pula yang menggerakkan begitu banyak muslimah muda untuk berbondong-bondong memakai jilbab untuk menjaga kehormatan mereka. Begitupun tak sedikit lelaki muda yang merasa akan terlihat lebih “ganteng” saat mampu berislam dengan baik dan sungguh-sunguh sebagaimana karakter Mas Gagah yang ada di cerpen tersebut. Dan kabar terakhir menyebutkan, jika audisi pemain sedang digelar sebab cerpen tersebut akan segera diangkat ke layar lebar. Semoga berkahnya makin bertambah.

Anis Matta. Siapa yang tidak mengenalnya, terlebih dengan pemberitaan yang bertubi belakangan ini. Publik kini mengenalnya sebagai orator ulung hingga julukan Soekarno Muda melekat padanya. Tapi, beliau tak hanya mumpuni dalam hal berbicara saja. Beliau pun tak kalah fasih saat menguraikan ide-idenya dalam bentuk tulisan. Entah sudah berapa buku yang beliau rampungkan. Tapi yang pasti dari sekian banyak bukunya, Dari Gerakan ke Negara dan Menikmati Demokrasi menjadi bacaan wajib bagi para anggota KAMMI, sebuah organisasi mahasiswa tempat berkumpulnya para calon pemimpin negeri. Tema tulisan beliau pun bervariasi mulai tema cinta, motivasi, doa sehari-hari hingga konsep alur pemenangan dakwah. Semuanya tak pernah sepi peminat.

Salim A. Fillah, penulis muda yang bukunya banyak diminati. Usianya mungkin baru 29 tahun tapi pembaca bisa merasakan kedalaman dan ketajaman pola berfikir beliau jauh melampaui bilangan usianya. Beliau piawai memadukan dalil, kisah hikmah,dan sastra menjadi sebuah tulisan yang sarat dengan hikamah. Buku Dalam Dekapan Ukhuwah miliknya menuntun pembacanya memahami hakikat ukhuwah yang sejati. Dengan harapan agar membangkitkan kembali kekuatan ummat yang detik ini terserak-serak bagaikan buih yang tak berarti, sebagaimana yang beliau kutipkan dengan jelas hal tersebut pada bagian belakang sampul bukunya.

Habiburrahman El Shirazy, dengan panggilan Kang Abik ia lebih dikenal. Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih dan Dalam Mihrab Cinta adalah tiga buah novel karangannya yang banyak diburu pembaca. Bahkan ketiganya diangkat di layar lebar. Lewat sastra beliau berdakwah, berbagi kedalaman pengetahuan agama yang dimiliki. Sebab hal yang berbau syariah, hukum fiqih, dan muamalah tak selamanya harus disampaikan lewat mimbar- mimbar khutbah. Apalagi di negeri yang jumlah orang yang mampu pendengar yang baik tak banyak ditemui. Dan para duat sejati, pasti tak boleh kehilangan akal bagaimana hal-hal berbau agama tak kehilangan peminatnya. Dan lewat sastra itulah salah satu wasilahnya. Dan sejauh ini beliau belum terlihat gagal dalam mengusung ide dakwah tersebut.

Nama yang terakhir mungkin lebih diakrabi oleh para pembaca setia majalah Tarbawi, Muhammad Lili Nur Aulia. Tulisan–tulisan jernih miliknya masih setia menghiasi lembaran majalah tersebut hingga kini. Kata–kata lembutnya seperti embun pagi yang menetes di jiwa pembacanya. Menyegarkan, menentramkan dan menginspirasi. Sering tulisan beliau mengajak pembaca untuk lebih dekat dan lebih dalam memandang suatu suatu kondisi, masalah dan berbagai hal yang kadang hanya dipandang sebelah mata. Tak sedikit pembaca yang mengakui jiwa dan hatinya tersentuh hingga berubah menjadi lebih bijak setelah membaca tulisannya.

Demikianlah sekian nama yang bisa jadi penyemangat dan sumbu motivasi bagi para penulis pemula seperti saya. Meski tentu saja motivasi paling sejati hanyalah Ilahi Robbi. Setidaknya dari mereka kita bisa belajar bahwa saat menulis kita tidak hanya sekedar merangkai kata-kata. Sebaliknya kita sedang menjalin benang–benang pahala yang bisa jadi dengannya pintu surga bisa terbuka. Sebab kita tak pernah tahu, entah di belahan dunia mana dan pembaca ke berapa yang merasa terinsinpirasi dan tercerahkan oleh tulisan kita. Maka sejatinya kita tak perlu ragu, sebab saat kita menuliskan kebaikan-kebaikan dengan penuh cinta dan niat tulus hanya untukNya, yakinlah.. percayalah akan sampai pada seseorang. InsyaAllah. Maka hanya satu kata dari saya, selamat dan semangat berdakwah dengan pena. [Kembang Pelangi]
More aboutBerdakwah dengan Pena

Pacaran, Couple-an, Kakak Adek-an?

Posted by Zam


“Bukan pacaran kok Ust…” kata salah seorang santriwati dalam sebuah sidang mahkamah santri.
“Lha kalau gitu namanya apa dek?” tanya saya. Santriwati tersebut diam. Kamipun juga diam menunggu jawabannya.
Couple, Ust” jawabnya. Saya dan yang lainnya langsung tertawa mendengar jawaban santriwati tersebut.
“Lha, apa bedanya couple sama pacaran?” tanya salah seorang ustadz.
“Beda Ust.…”
“Iya, bedanya apa?”
“Kalau couple itu suka sama suka tapi ga sampai yang kayak gitu-gitu,” sontak kami langsung ketawa lagi mendengar jawaban santriwati tersebut. Ada-ada saja. Pikir kami.

Lain lagi dengan santriwati yang ini.
“Kita ndak pacaran kok Ust”
“Lha terus apa? TTM-an? apa itu namanya couple-an? Atau, suami istri?"
“Nggak kok Ust, kita cuman kakak adek-an”
“Lha kok bisa?”
“Iya, soalnya usianya dia (yang ikhwan) lebih muda dari aku”

Ada-ada saja. Entahlah. Mungkin itu bahasa halus dari kata “pacaran”. Yang dipakai remaja, bahkan diantara kita, sebagai upaya untuk melegalkan hubungan yang tak semestinya dilakukan oleh lawan jenis yang bukan muhrim.

Istilah pacaran sendiri lahir dari orang Indonesia. Yang katanya sebagai upaya saling mengenal sebelum melangkah kejenjang pernikahan. Sedangkan kalau didunia barat dikenal dengan istilah “my boy” atau “my girl” yang artinya, menurut buku Fikih Gaul terbitan Syamil, laki-laki atau perempuan. Kalau yang ini lebih parah lagi, karena ketika seorang laki-laki mengatakan “Do You want to be my girl?” maka ketika si perempuan menjawab “yes” berarti dia sendiri telah merelakan dirinya untuk menjadi pelampiasan nafsu dari silaki-laki tersebut. Karena kata “my girl” di sini bukan seperti gaya pacarannya orang Indonesia yang kadang masih menjaga nilai-nilai "kesusilaan". Namun kata my girl disni berarti gadisku yang berhak atas hubungan layaknya suami dan istri.

Sedangkan kata couple, TTM, kakak adek-an sendiri menurut saya cuman cabang-cabang dari kata “pacaran”. Couple, kalau diartikan secara harfiah berarti pasangan. Entah apapun itu bentuknya. Bisa pasangan sepatu, pasangan kaos, pasangan sandal (lho eh, bukan itu maksudnya.. hehe). Maksud saya sepasang manusia.

Pernah saya jalan-jalan ke sekitar Malioboro. Seorang penjual menawarkan kaos kepada saya. “Mau yang biasa apa yang couple mbk?” tanya bapak itu sambil memperlihatkan sederetan kaos Dagadu-nya. Ada yang satu jenis gambar, dan ada yang “couple” dengan dua kaos satu gambar yang bersambung. Untuk yang laki-laki bentuk kaosnya lebih gedhe, sedang untuk yang perempuan bentuknya lebih kecil dan lebih modis. Lantas apa hubungannya “kaos couple” sama kata “couple” itu sendiri? Ya biasanya kan kalau sudah sepasang kan kompak. Termasuk kompak dalam memakai kaos. Hehe.

Sebenarnya baik couple maupun kakak adek’an itu hanya merupakan kata lain untuk melegalkan hubungan lawan jenis yang jelas-jelas sudah diperintahkan Allah untuk dijauhi. Apapun bahasanya tetap saja ada rasa suka sama suka, tetep ada kata “aku suka kamu”. Meskipun tidak ada kata “maukah kamu menjadi pacarku”. Tapi diganti gini, “maukah kamu jadi couple;-ku?” atau “kita kakak adek-an saja ya”. Dan dalam hubungannya tetap seperti orang pacaran. Sms-an, ketemuan, saling ngasih hadiah, dan seterusnya. Jadinya sama saja kan?

Sedangkan TTM-an lebih parah lagi, dia bukan pacaran, bukan couple-an tapi bermesraan. Baik lewat sms, fb, atau secara fisik (haduuh, naudzu billah). Katanya sih teman biasa, tapi bahasa sms-nya “lagi ngapain kamu beb?” (emang bebek? Hehe)

Saudaraku… sebenarnya apapun bentuknya itu. Entah itu pacaran, couple-an, TTM-an, dan sejenisnya adalah sebuah hubungan yang dilarang oleh Allah. Karena dalam hubungan ini jelas tak luput dari zina baik itu hati, zina mata, zina telinga, dan zina secara fisik.

Zina hati yaitu ketika kita terus memikirkan si dia yang dapat melalaikan kita dari mengingat Allah. Kalau dalam lagunya duo maya gini, “aku mau makan, kuingat kamu, aku mau tidur kuingat kamu…” Lha kalau kayak gini, kapan ingat Allah?

Yang kedua, zina mata. Zina mata terjadi tatkala saling bertemu. Saling pandang, atau terus melihat foto si dia. Padahal dalam hadits Rasulullah mengatakan “Wahai Ali, janganlah pandangan pertama kau ikuti dengan pandangan berikutnya. Untukmu pandangan pertama, tetapi bukan untuk berikutnya.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al-Hakim sesuai dengan syarat Muslim). Mata yang seharusnya kita pakai untuk melihat ayat Al-Qur'an eh malah digunakan untuk ngeliatin foto si dia terus, atau mantengin fb buat mantau aktivitasnya si dia, hehe.

Yang ketiga, zina telinga. Zina telinga ini terjadi ketika saling ngobrol, atau saling teleponan. Dan yang terakhir zina secara fisik. Seperti pegangan tangan sampai berlanjut entah kemana.

Saudaraku masih ingatkah akan ayat ini? “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu masuk perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk” (QS. Al-Isra’ : 32). Dalam ayat tersebut dijelaskan, mendekati saja tidak boleh, apalagi sampai melakukan. Jadi apapun itu namanya pacaran, couple-an, kakak adekan, TTM-an, semuanya hanya upaya melegalkan hubungan lawan jenis yang menjerumuskan kita kedalam lembah perzinaan. Selain itu keduanya juga akan rugi waktu, uang, pikiran dan tenaga. Dan masih banyak mudlarat lain yang disebabkan oleh pacaran. Wallahu a’lam bish shawab. [Ukhtu Emil]
More aboutPacaran, Couple-an, Kakak Adek-an?