Search

Showing posts with label HIV/AIDS. Show all posts
Showing posts with label HIV/AIDS. Show all posts

Penderita AIDS Di Timur Tengah Terus Meningkat 100%

Posted by Zam on Wednesday, December 4, 2013

Jumlah angka statistik penderita sindrom yang menyerang imun tubuh manusia ‘HIVAIDS’ di negara-negara arab menunjukan kenaikan 100% dibandingkan tahun 2001 lalu, jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat.

Para pengamat kesehatan di Timur Tengah mengkritik sikap pemerintahan Arab yang cenderung mengabaikan penyebaran virus mematikan ini, menurut mereka pemerintahan Arab masih percaya terhadap norma-norma sosial konservatif dalam masyarakat Arab mampu mencegah tingkat penularan virus HIV AIDS.

Mereka meminta pemerintahan di dunia Arab untuk segera memerangi penyebaran penyakit ini, yang dapat menjadi wabah mematikan di masa mendatang seperti yang terjadi di banyak negara-negara Afrika bagian selatan.

Tercatat jumlah penderita HIV AIDS di dunia ini mencapai 35 juta orang pada tahun 2011, setengah dari mereka adalah wanita dan sepersepuluh dari jumlah tersebut anak-anak.

Pada tahun 2012, sebanyak  2,3 juta orang dilaporkan terjangkit virus HIV AIDS, sedangkan sebanyak 1,6 juta orang meninggal akibat virus tersebut. Sbanyak setengah penderita AIDS di dunia Arab adalah perempuan. (Aljazeera/lndk)

Berikut beberapa fakta mengenai AIDS di wilayah Timur Tengah:

1. Diperkirakan penderita virus HIV AIDS di dunia Arab mencapai 250 ribu jiwa.

2. Dua puluh ribu orang diantaranya adalah anak-anak di bawah usia 15 tahun .

3. Setiap tahun terdapat lebih dari 32 ribu orang terjangkit virus mematikan ini.

4. Sebanyak 3000 orang anak-anak terjangkit penyakit ini di tahun 2013

5. Prevalensi penyakit ini di dunia Arab antara orang dewasa adalah 1:1000

6. Sebanyak 17 ribu orang meninggal akibat penyakit ini, 1800 diantaranya adalah anak-anak.

zahid
sumber : http://www.eramuslim.com/berita/penderita-aids-di-timur-tengah-terus-meningkat-100.htm#.Up9gvKTGhYA, akses tgl 04/12/2013.
More about → Penderita AIDS Di Timur Tengah Terus Meningkat 100%

Menkes Iran Sebut HIV/AIDS Naik 80% Setiap Tahun, Kebanyakan Karena Seks

Posted by Zam

Menteri Kesehatan Iran Hassan Hassemi menyatakanbahwa dalam 11 tahun pengidap HIV/AIDS di Iran naik 9 kali lipat. Sekarang, menurut Hashemi, penularan lebih banyak karena hubungan seksual.

“Terdapat kenaikan 9 kali lipat jumlah orang pengidap AIDS dalam kurun waktu 11 tahun terakhir dengan pertambahan 80% setiap tahunnya,” jelas Hashemi.

Ia menyatakan kekhawatirannya akan peningkatan drastis kasus infeksi HIV/AIDS di negaranya dan menuding tabu sebagai penyebab penderita AIDS tidak mendapatkan perawatan semestinya.

“Sekarang ini orang-orang di Iran takut AIDS karena informasi yang keliru dan klaim tidak ilmiah. Itu kenapa masalahnya masih menjadi tabu,” kata Hashemi dalam sebuah acara memperingati Hari AIDS Sedunia Ahad (1/12/2013) lapor media setempat dikutip The Guardian.

Menurut menteri kesehatan itu, sebagian besar orang tidak sadar bahwa mereka terinfeksi.

Sebelumnya, penyakit AIDS cenderung ditularkan oleh pemakaian alat suntik bersama di kalangan pencandu narkoba. Tetapi sekarang, menurut Hashemi, penularan lebih banyak karena hubungan seksual. Ironisnya, sekitar 5% penderita HIV/AIDS adalah pekerja anak-anak.

Laju peningkatan kasus infeksi HIV/AIDS di Iran, kata Hashemi, melebihi laju inflasi dan kenaikan harga rumah.

Stigma sosial menyebabkan penderita AIDS di Iran disembunyikan dan diasingkan oleh keluarganya.


Redaktur: Shabra Syatila 
sumber : http://news.fimadani.com/read/2013/12/04/menkes-iran-sebut-hivaids-naik-80-setiap-tahun-kebanyakan-karena-seks/, akses tgl 04/12/2013.
More about → Menkes Iran Sebut HIV/AIDS Naik 80% Setiap Tahun, Kebanyakan Karena Seks

Miss Condom Indonesia

Posted by Zam

(Jamban Panyileukan) - Menteri Kesehatan Dr Nafsiah Mboi, sebagaimana dikutip Detik dalam Konferensi Pers Hari AIDS Sedunia di Sekretariat Komiter Penanggulangan AIDS Nasional, Jl Johar Menteng, Jakarta, Sabtu (30/11/2013), mengatakan tujuan Pekan Kondom Nasional adalah untuk mengurangi penularan virus HIV melalui perilaku seks berisiko.

Menkes beralasan, jika tidak ada program terobosan dalam penanggulangan AIDS maka pada tahun 2025 akan ada 1.817.700 orang terinfeksi AIDS. Menurutnya, satu-satunya cara untuk mencegah penularan itu adalah “dengan menggunakan kondom dari laki-laki yang berisiko kepada perempuan pekerja seks maupun istrinya.”(bbc.co.uk/indonesia, 25/6/ 2012).

Namun ternyata dibalik pernyataan Menkes yang mengundang kontroversial, ada udang di balik batu, sebab sebagaimana dijelaskan oleh Kementerian Kesehatan melalui Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen P2PL) saat memberikan penjelasan kepada DPR dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi IX DPR RI (2/12/2013) dinyatakan bahwa yang saat ini sedang berlangsung, Pekan Kondom Nasional (PKN), bukan Program Kemenkes RI. Pembagian kondom gratis bukan program Kemenkes. Ini adalah kegiatan swasta yang diselenggarakan perusahaan kondom. Tidak ada kebijakan Kemenkes terkait pembagian kondom ke masyarakat luas.

Nah lho? Kalau begitu atas nama apa Menkes bicara tentang PKN dan kondomisasi? Sedangkan PKN  bukan program Kemenkes?

Jika atas nama pribadi, berarti Menkes telah memanfaatkan jabatan untuk kepentingan diri sendiri dan bisnis perusahaan kondom. Atau Menkes telah menjadi model iklan dan ikon perusahaan kondom? Mengabdikan diri pada perusahaaan kondom dengan mengabaikan kepentingan rakyat bahkan berpotensi merusak generasi muda agar terinspirasi dan termotivasi menggunakan kondom sesuai fungsinya?

Mengapa Menkes begitu tega melakukan kebohongan publik? Mempengaruhi masyarakat terutama generasi muda dengan pemikiran sesat bahwa kondom aman untuk sex di luar nikah. Sama saja menyuruh ” berzinalah, berperilaku sex bebas lah sesuka kalian, ada pengaman sang kondom kok yang bisa didapat dengan gratis.”

Bukankah Menkes, sebagai seorang wanita tahu bahayanya sex di luar nikah terhadap masa depan seseorang? Bukankah sex di luar nikah berpotensi kehamilan yang digugurkan  dan membahayakan kesehatan reproduksi?

Bukankah Menkes sebagai seorang Ibu juga tak rela bila darah dagingnya terjerumus dalam pergaulan dan perilaku sex bebas? Apalagi bila sampai berhubungan sex dengan penderita HIV/Aids meski menggunakan kondom? Bukankah Menkes pun tahu banyaknya perusahaan kondom di dunia tetap tak  mampu mencegah penularan penyakit seksual HIV/Aids, herpes, raja singa dll? Bukankah Menkes pun tahu satu-satunya obat HIV/Aids hanyalah kematian?

Bukankah Menkes tahu? Pada Konferensi AIDS se-Dunia di Chiangmai, Thailand tahun 1995, diumumkan hasil penelitian ilmiah, bahwa kondom tidak dapat mencegah penularan HIV/AIDS . Sebab ukuran pori-pori kondom jauh lebih besar dari ukuran virus HIV. Ukuran pori-pori kondom sebesar 1/60 mikron dalam kondisi normal dan membesar menjadi 1/6 mikron saat dipakai. Sedangkan ukuran virus HIV hanya 1/250 mikron. Jelas virus HIV sangat mudah bebas keluar masuk melalui pori-pori kondom. Maka, jika dikatakan kondomisasi dapat menangkal penularan virus HIV/AIDS, itu jelas menyesatkan dan membodohi masyarakat.

Bersyukur sekali sekarang PKN telah dihentikan. Ke depannya semoga tidak akan pernah ada lagi upaya-upaya kondomisasi atau semacamnya meski dalam ” lipstik ” yang berbeda, yang pada hakikatnya sama dengan membodohi, membohongi bahkan menghancurkan nilai sosial kemasyarakatan.

Sebuah pelajaran dapat diambil dari peristiwa ini, bahwa Pemerintah dibawah Kemenkes belum memiliki program dan roadmap yang jelas dalam usahanya memerangi HIV/Aids, sehingga mudah dimanfaatkan oleh orang-orang tak bertanggungjawab dengan memanfaatkan fasilitas negara. Terlihat betapa kentalnya permainan swasta terutama perusahaan-perusahaan kondom dalam mempengaruhi kebijakan Menkes, yang dalam hal ini dapat dikatakan Kemenkes kecolongan oleh Menterinya sendiri.

Seharusnya Menkes dan jajarannya menggulirkan program-program yang mendidik pada masyarakat. Misalnya dengan mengajari dan memberikan penyuluhan pada masyarakat betapa hina, berdosa dan berbahayanya perilaku sex bebas itu. Bahaya dunia akhirat. Di dunia penyakit HIV/Aids, herpes dll menanti. Di akhirat siksa amat pedih pun menunggu bila tak segera bertobat. Sex bebas juga hal yang amat terlarang dalam agama. Bahkan dalam Islam sanksinya amat berat, dibunuh dengan cara rajam atau dilempar batu sampai mati bagi pelaku yang pernah menikah. Dan dicambuk 100 kali bagi pelaku yang belum pernah menikah. Satu kali cambuk yang sekali mengenai kulit, perlu waktu satu bulan untuk penyembuhan.

Kemenkes bisa datang ke sekolah-sekolah menengah, kampus-kampus, ke lokalisasi, ke pertemuan ibu-ibu PKK, ke perusahaan-perusahaan  dll dengan menggandeng para ulama untuk memberi pemahaman bahwa sex di luar nikah adalah perbuatan keji yang termasuk dosa besar. Sama saja seperti perilaku binatang. Jadi jangan sampai melakukannya. Sekali coba sama saja menjerumuskan diri sendiri dalam lembah kehinaan. Hal ini semoga sekaligus juga bisa meredam kenaikan angka perselingkuhan di Indonesia.

Bila setelah ini Ibu Menkes atau lembaga dan pihak manapun tetap gencar dengan kondomisasi, dengan “baju yang berbeda”, tetap mengabdikan diri pada pemodal kapitalis perusahaan kondom demi eksistensi bisnis mereka, dan mengabaikan nilai-nilai agama dan kemanusiaan, maka jangan salahkan masyarakat jika menganggap mereka pada dasarnya adalah budak perusahaan kondom. Jika tetap tak berubah dan gencar menggulirkan kondomisasi/ perilaku sex bebas secara nasional, bahkan di masa-masa yang akan datang maka tidak berlebihan kiranya jika mereka dijuluki ” Miss Condom Indonesia”.

Khusus untuk ibu Menkes, seandainya di masa mendatang tetap getol memperjuangkan kondomisasi, tetap tak mau mengubah kesalahan paradigma berpikirnya bahwa kondom mampu menanggulangi berkurangnya HIV/Aids, maka jangan salahkan jika ada yang menilai “Menkes Bakul Kondom”.  (arrahmah.com)

Oleh : Nayla Ridla, MSi
( Penggiat CIIA-The Community of Ideological Islamic Analyst Divisi Kajian Sosial Budaya )
- See more at: http://www.arrahmah.com/rubrik/miss-condom-indonesia.html, akses tgl 04/12/2013.
More about → Miss Condom Indonesia

17 Fakta Ungkap Kondom 100 Persen Tidak Aman Cegah AIDS

Posted by Zam on Tuesday, December 3, 2013

JAKARTA (Jamban Panyileukan) -- Prof Dr dr Dadang Hawari, seorang pakar dalam bukunya Global Effect HIV/AIDS, ternyata secara Ilmiah Kondom 100 Persen tidak Aman Cegah AIDS, karena faktnya penyebaran virus HIV/AIDS di Indonesia memang mengkhawatirkan. Data terbaru menunjukkan pada 2012 jumlah orang yang telah terinfeksi HIV sejumlah 10.362 orang, 5.686 terinfensi AIDS dan 1.146 meninggal dunia karenanya.  orang, 5686 terinfensi AIDS dan 1.146 meninggal dunia karenanya.

Lalu, jika kondisinya demikian apakah kampanya pemakaian kondom adalah solusi atas persoalan ini?. Jawabnya adalah tidak. Dari hasil penelitian ilmiah yang sangat banyak terbukti virus HIV/AIDS bisa menembus kondom. Kondom sendiri sebenarnya dirancang untuk Keluarga Berencana. Itupun tetap mengalami kebocoran.

Simak fakta mencengangkan berikut ini, beberapa data ini kiranya dapat menyadarkan kita semua terdapat kontroversi kondom yang selama ini diperdebatkan:

1) Januari hingga Juni 2013, diketahui jumlah orang yang terinfeksi HIV mencapai 10.210 orang. 780 orang terinveksi AIDS dan 105 orang telah meninggal.

Kondom terbuat dari bahan latex (karet), bahan ini merupakan senyawa hidrokarbon dengan polimerisasi yang berati mempunyai serat dan berpori-pori. Disamping itu karena proses pembuatan pabrik kondom juga memiliki lubang cacat mikroskopis atau “pinholes”.

2) Penelitian yang dilakukan oleh Lytle, et. al. (1992) dari Division of Life Sciencies, Rockville, Maryland, USA, membuktikan bahwa penetrasi kondom oleh pertikel sekecil virus HIV/AIDS dapat terdeteksi.

3) Penelitian yang dilakukan oleh Cary, et. al (1992) dari Division of Pshysicial Sciences, Rockville, Maryland, USA, menemukan kenyataan bahwa virus HIV/AIDS dapat menembus kondom. Kondom yang beredar di pasaran 30% bocor.

4) Direktur Jenderal WHO, Hiroshi Nakajima (1993) menyatakan bahwa efektifitas kondom diragukan.

5) Pernyataan J. Mann (1995) dari Harvard AIDS Institute yang menyatakan bahwa tingkat keamanan kondom (bebas bocor) hanya 70%.

6) Dalam konferensi AIDS Asia Pasifik di Chiang Mai, Thailand (1995) dilaporkan bahwa pengguna kondom aman tidaklah benar. Pori-pori kondom berdiameter 1/60 mikro dalam keadaan tidak meregang, sedangkan bila dalam keadaaan meregang pori-pori tersebut mencapai 10 kali lebih besar. Sementara kecilnya virus HIV berdiameter 1/250 mikron. Dengan demikian jelas bahwa virus HIV dapat dengan leluasa menembus kondom.

7) Laporan dari majalah Customer Report (1995) menyatakan bahwa pemeriksaan dengan menggunakan elektron mikroskop dapat dilihat pori-pori kondom yang 10 kali lebih besar dari  virus HIV (Rep.1/11/95).

8) Pernyataan dari M. Potts (1995), Presiden Family Health Internasional, salah satu pencipta kondom mengakui antara lain bahwa, “Kami tidak dapat memberitahukan kepada khalayak ramai sejauh mana kondom dapat memberikan perlindungan pada seseorang. Sebab, menyuruh mereka yang telah masuk kedalam kehidupan yang memiliki risiko tinggi (seks bebas dan pelacuran) ini memakai kondom, sama saja artinya menyuruh orang yang mabuk memasang sabuk kelehernya” (Rep. 12/11/95).

9) Pernyataan dari V. Cline (1995), Profesor Psikologi dari Universitas Utah, Amerika Serikat, menegaskan bahwa memberi kepercayaan kepada remaja atas keselamatan berhubungan seksual dengan menggunakan kondom adalah sangat keliru. Jika para remaja percaya bahwa dengan kondom mereka aman dari HIV/AIDS atau penyakit kelamin lainya, berarti mereka telah tersesat (Rep. 12/11/95).

10) Pernyataan pakar AIDS, R. Smith (1995), telah bertahun-tahun mengikuti ancaman AIDS dan pengguna kondom, mengancam mereka yang telah menyebarkan safe sex sama saja dengan mengundang kematian”. Selanjutnya beliau mengetengahkan pendapat agar risiko penularan/penyebaran HIV/AIDS diberantas dengan cara menghindari hubungan seksual diluar nikah (Rep.12/11/95)

11) Di Indonesia pada 1996 yang lalu kondom yang diimpor dari Hongkong ditarik dari peredaran karena 50% bocor.

12) Tingkat keamanan kondom (bebas kebocoran) di negara-negara berkembang rata-rata hanya 70%. Kondom terbuat dari latex yang peka terhadap sinar (matahari dan lampu), oksigen dan kelembaban. Umur pakai kondom hanya 5 tahun. Dikhawatirkan, banyak kondom yang diimpor dari luar negri yang melewati batas waktunya. Penyimpanan yang tidak hati-hati dapat menyebabkan kondom berjamur, robek bahkan copot sama sekali. Kalau diamati penyimpanan kondom diapotik-apotik yang sering diletakkan di bawah lampu neon. Keadaan bertambah gawat kalau penyimpanan di gudangnya kurang hati-hati atau kurang teliti misalnya diletakkan di lantai. Namun terdapat fakta yang lebih memprihatinkan, yaitu orang membeli kondom justru di pinggir jalan. Dari berbagai penelitian di Indonesia menunjukan orang membeli kondom di penjual rokok atau jamu atau kios obat kaki lima. Dari 10 orang orang petualang seks 3 orang kemungkinan tidak aman dari serangan HIV/AIDS karena itu seks yang aman adalah hanya dilakukan dengan pasangan yang sah. (Lubis, F.,1996)

13) Gereja Katolik (Vatikan) menyerukan kepada masyarakat bahwa kondom tidak melindungi seorang dari ketularan virus HIV/AIDS. Selanjutnya sebagaimana dikemukakan oleh Kim Barnes (2003) dari BBC London, menyatakan bahwa cara terbaik agar terhindar dari virus HIV/AIDS adalah abstinentia, yaitu tidak melakukan hubungan seks di luar nikah.

14) Alfonso Lopez Trujillo (2003) seorang kardinal senior dari Vatikan yang menyatakan virus HIV/AIDS dapat menembus dinding kondom, kecilnya virus HIV 1/450 lebih kecil dari sperma saja masih bisa menembus lapisan kondom, apalagi virus HIV.

15) Gordon Wambi (2003) seorang aktivis AIDS menyatakan ketidaksetujuan pemakaian kondom. Hal ini sesuai dengan Vatikan’s Pontifical Council for Familiy yang menyerukan kepada pemerintah agar tidak menganjurkan pemakaian kondom kepada rakyatnya: kampanye kondom sama saja kampanye rokok, bahanya sama.

16) Sejak kondom mudah diperoleh, penyebaran virus HIV/AIDS menjadi semakin melesat dengan pesat, disimpulkan bahwa kondom membantu penularan penyebaran HIV/AIDS, demikian dikemukakan oleh Archbishop of Nairobi (Raphael Ndingi Nzeki, 2003).

17) Selanjutnya gereja Katolik menganjurkan kepada salah satu pasangan suami istri yang terinfeksi untuk tidak menggunakan kondom, sebab virus HIV bisa menembus pada pasangan yang lain. Dewasa ini dunia sedang menghadapi global pandemic HIV/AIDS yang telah menewaskan lebih dari 20 juta orang dan menginfeksi 42 juta orang.

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah meluncurkan program Pekan Kondom Nasional 2013. Kegiatan ini digelar dalam rangka peringatan hari AIDS se-Dunia 1 Desember 2013. Tujuannya untuk menekan angka penyebaran virus HIV/AIDS di Indonesia.

Sumber : Prof Dr dr Dadang Hawari, Psikiater (Global Effect HIV/AIDS; Dimensi Psikoreligi,2012/antiliberal/voa-islam.com) 

- See more at: http://www.voa-islam.com/read/muslimah/2013/12/03/27927/17-fakta-ungkap-kondom-100-persen-tidak-aman-cegah-aids/#sthash.5xgBokSv.dpbs, akses tgl 04/12/2013.
More about → 17 Fakta Ungkap Kondom 100 Persen Tidak Aman Cegah AIDS

Siapa Diuntungkan Pekan Kondom Nasional?

Posted by Zam on Monday, December 2, 2013

KEBIJAKAN Menteri Kesehatan (Nafsiah Mboi), sungguh mengejutkan. Bagaimana tidak? Menkes baru ini mewacanakan membagikan kondom untuk remaja secara gratis bersama KPAN & DKT dari tanggal 1-7 Desember 2013 dalam rangka menekan angka kehamilan tak diinginkan atau menekan angka aborsi yang terus meningkat. Menkes mendorong penggunaan kondom untuk kelompok seks berisiko, tak terkecuali remaja yang terlibat perilaku seks berisiko

Parahnya kebijakan ini didukung oleh MPR. Jelas kebijakan ini menuai pro-kontra di tengah masyarakat. Alih-alih menekan angka aborsi dan kehamilan tak diinginkan, kebijakan ini justru semakin menguatkan pergaulan bebas di kalangan remaja. Pembagian kondom secara gratis menunjukkan pelegalan seks bebas oleh Negara. Data BKKBN tahun 2011 hingga tahun 2012 menunjukkan setiap tahunnya sekitar 600.000 remaja putri kehilangan keperawanannya. Pembagian kondom ini seolah-olah menyiratkan bahwa “tidak masalah hubungan seks asalkan menggunakan kondom yang bisa mencegah kehamilan”. Setujukah Anda wahai kaum perempuan?

Fakta seks bebas

Fenomena seks bebas di kalangan remaja ibarat gunung es, Fakta yang nampak belum seberapa jika dibandingkan dengan fakta yang sebenarnya. Sebenarnya banyak upaya yang dilakukan pemerintah untuk menuntaskan masalah seks bebas ini, tapi justru kebijakannya malah kotradiktif. Angka freesex semakin meningkat dan tidak pernah tuntas sampai ke akar-akarnya. Program KRR yang digulirkan ke sekolah-sekolah sejatinya malah menginspirasi para remaja untuk melakukan seks bebas. Mereka merasa penasaran dengan organ reproduksi dan sebagainya sehingga mencoba untuk mempraktikkannya dengan dalih “cinta dan kebebasan” Na’udzubillah. Terlebih saat MenKes mempropagandakan hal itu, pastinya angka freesex akan bertambah lagi. Bisa dibayangkan saat remaja menerima kondom itu, kemudian terdorong untuk

menggunakannya dengan dalih pemanfaatan, dan itu dilakukannya pada teman atau pacarnya yang belum halal baginya. Kondomisasi ini tujuannya hanya menguntungkan para kapitalis (pemilik modal) tanpa menghiraukan kemuliaan perempuan, atau dapat dikatakan bahwa kondom adalah alat pemancing penjualan kaum perempuan. Sebab promosi kondom ini akan menaikkan tingkat penjualan kedepannya. Ini sungguh menyedihkan dan mengerikan. Berapa banyak lagi remaja yang akan terinspirasi melakukan seks bebas?

Sungguh ironis negeri ini! ingin mengurangi angka aborsi maupun HIV/AIDS justru menawarkan solusi “kondomisasi”, yang notabene malah membuka lebar-lebar jalur seks bebas yang akhirnya akan membawa pada kerusakan generasinya. Padahal Negeri tercinta ini dikenal dengan mayoritas kaum muslim. Dimana kaum muslim adalah diwajibkan terikat pada aqidahnya. Islam mengharamkan perzinahan. Jangankan perzinahan, berdua-duaan (berkhalwat) dengan non mahrom saja islam melarang, sebab Islam adalah agama sekaligus ideologi yang berasal dari Pencipta manusia. Allah SWT telah memberikan Islam sebagai petunjuk dalam menjalankan kehidupan. Sedangkan saat ini bukanlah Islam yang terterapkan hukumnya, melainkan Sistem Demokrasi-kapitalisme liberal. Liberal dengan dalih “kebebasannya”, demokrasi dengan dalih “dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat” sejatinya menafikkan adanya Tuhan dalam mengatur kehidupan. Ditambah lagi kapitalisme dengan dalihnya memisahkan agama dengan kehidupan telah berhasil menjadikan ummat muslim jauh dari aturan Islam, jauh dari agamanya. Maka tak heran Indonesia saat ini terus disuguhkan dengan berbagai bencana, maupun masalah yang tak kunjung selesai seperti aborsi, korupsi, sex bebas, kemiskinan, dll. Dalam surah Al-A’raf: 96 Allah berfirman “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.

Solusi tuntas

Oleh karena itu, sungguh tak layak bagi kita mempertahankan aturan yang bisa merusak generasi ini. Sejatinya, kita semua harus kembali kepada aturan Allah. Aturan Yang Maha Sempurna, Yang Maha Mengetahui mana yang terbaik untuk manusia dan tentunya aturan yang membawa manusia pada kesejahteraan dunia dan keselamatan akhirat. Itulah aturan Islam, dengan penegakkan Khilafah Islamiyah. Mengapa harus dengan Khilafah? Ya, sebab hanya Khilafah lah satu-satunya negara yang bisa menerapkan Islam secara kaffah (menyeluruh).

Pertama, Aqidah Islam menjadi dasar negara. Artinya warga Negara dalam Khilafah akan dipastikan menjadikan Aqidah Islam sebagai landasan melakukan perbuatan. Setiap muslim akan selalu merasa diawasi oleh ALLAH, sehingga dia akan takut jika melakukan maksiat terlebih zina yang merupakan dosa besar. Allah berfirman: “Sesungguhnya ALLAH mengetahui apa yang ghaib di langit dan di bumi. Dan Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Hujurat: 18). Banyak ayat yang menjelaskan hal ini, sehingga negara akan mengkondisikan bahwa warga negaranya takut kepada ALLAH didasari keimanan yang kuat.

Kedua, keluarga menerapkan pendidkan berdasarkan aqidah Islam dan ahlaqul karimah. Keluarga merupakan benteng untuk menjaga pondasi keimanan generasi agar tetap kokoh. Anak-anak yang terlahir akan dididik berdasar aqidah Islam dan senantiasa dikondisikan dengan nilai-nilai Islam.

Ketiga, masyarakat menjalankan fungsinya untuk amar ma’ruf nahi munkar. Setiap ada gejala pelaku seks bebas seperti berdua-duaan atau pacaran, maka masyarakat akan mengingatkannya Karena kasih saying pada saudaranya karena masing-masing memahami bahwa kaum mukmin bersaudara sehinga takkan rela saudaranya tercebur pada lembah maksiat.

Keempat, negara menerapkan sanksi yang tegas pada pelaku seks bebas. Bagi yang belum menikah, maka akan dikenakan cambuk 100 kali sebagaimana firman ALLAH dalam QS. An-Nur ayat 2: “Perempuan yang berzina dengan laki-laki yang berzina, hendaklah kamu dera tiap-tiap satu dari keduanya itu dengan seratus kali deraan. Dan janganlah kamu dipengaruhi oleh perasaan kasihan kepada keduanya di dalam menjalankannya (ketentuan) agama ALLAH yaitu jika kamu sebenarnya beriman kepada ALLAH dan hari akhir. Dan hendaklah hukuman keduanya itu disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman”. Sementara itu, bagi yang sudah menikah maka akan dikenakan sanksi rajam. Sanksi yang tegas ini akan mencegah siapapun melakukan seks bebas dan membuat jera para pelakunya. Sekaligus menjadi penebus dosanya di akhirat kelak. Sehingga generasinya menjadi terlindungi kemuliaannya. Inilah gambaran Khilafah menuntaskan permasalah seks bebas.

Wahai Generasi Muda!

Kondomisasi merupakan program buruk, menguntungkan para kapitalis (pemilik modal) sekaligus menghancurkan masa depan generasi bangsa. Kini, sudah sangat jelas bahwa satu-satunya solusi untuk mencegah seks bebas, kehamilan tak diinginkan dan aborsi adalah dengan menerapkan Islam kaffah dalam wadah Khilafah Islamiyah bukan dengan kondomisasi yang justru menyuburkan seks bebas tersebut. Saatnya kita cerdas menyikapi setiap fakta yang terjadi di sekitar kita dan turut andil dalam perubahan. Sebab perubahan itu ada di tangan kita, apalagi mahasiswa dikatakan sebagai The Agent Of Change ( Agen Perubahan ) Tentunya perubahan yang lebih baik yaitu dengan turut memperjuangkan tegaknya Khilafah Islamiyah, yang akan melindungi kemuliaan perempuan dan kesejahteraan ummat.

Wallâh a’lam bi ash-shawâb. []

Oleh: Zahra Qonita Al Maisaroh, Mahasiswi Pendidikan Kimia FKIP Universitas Halu Oleo & Anggota Media Nisa MHTI Sultra.
sumber : http://www.islampos.com/siapa-diuntungkan-pekan-kondom-nasional-88620/, akses tgl 03/12/2013.
More about → Siapa Diuntungkan Pekan Kondom Nasional?

Dusta, kondom dapat cegah AIDS, virus HIV dapat menembus pori-porinya

Posted by Zam

JAKARTA (Jamban Panyileukan) - Menteri kesehatan yang pola pikir dan pola tindaknya liberal dan cabul, Nafasiah Mboi menyatakan, bahwa kondom sekarang tidak berpori jadi akan aman digunakan untuk mencegah kehamilan dan virus HIV/AIDS.  

“Bila dipakai dengan tepat, benar dan konsisten, sangat efektif, hampir 100%. (Karena, red) sekarang yang dipakai adalah kondom dari latex yang tidak berpori, dan makin banyak bukti-bukti yang menunjukkan efektivitas kondom untuk pencegahan penyakit maupun kehamilan yang tidak direncanakan,” ujarnya, lansir mediaumat.com Ahad (1/12/2013).

Kontan pernyataan itu dibantah Psikiater kondang Prof. DR.dr. Dadang Hawari. Adalah dusta bahwa kondom dapat mencegah HIV/AIDS. Secara ilmiah dapat dibuktikan, virus HIV dapat menembus pori-pori lapisan kondom.

 ”Saya bisa pastikan salah besar! Karena kondom dibuat dari latex, berarti berserat berpori-pori. Kalau tidak berserat dan tidak berpori-pori itu dari plastik. Ukuran pori-porinya 1/60 mikron, kecil sekali. Kondom dirancang untuk Keluarga Berencana, untuk mencegah sperma. Ukuran virus di banding sperma 1/450 kali lipat. Jadi virus HIV sangat kecil sekali di banding sperma yang bentuknya seperti kecebong itu.”

Prof. DR.dr. Dadang Hawari
Dadang pun menyatakan penelitian di Indonesia lima tahun yang lalu untuk KB dengan kondom gagal 20 persen. “Apalagi untuk HIV/AIDS! Sekarang kenyataannya, dengan menggunakan kondom ternyata semakin banyak pula yang terkena HIV/AIDS, padahal kampanye sudah bertahun-tahun, pengidap HIV/AIDS semakin banyak bukannya menurun.”

Ia juga menyebutkan hasil penelitian lain. “Di Amerika, 1/3 jumlah kondom yang  beredar di pasar bocor. Kesimpulan dari penelitian dari Badan POM di Amerika tahun 2005, tidak dikampanyekan lagi kondom karena mulai gagal. Kondom untuk sperma bukan untuk virus HIV yang sangat kecil,” pungkasnya. 

Aksi liberal dan cabul, kondomisasi dalam rangkaian Pekan Kondom Nasional dilaksanakan sejak tanggal 1 hingga 7 Desember 2013 sebagai rangkaian peringatan Hari AIDS se-Dunia di Indonesia. Aksi ini digagas Kementerian Kesehatan dan dilaksanakan oleh Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) serta salah satu produsen kondom. (azm/arrahmah.com)

A. Z. Muttaqin
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2013/12/02/dusta-kondom-cegah-aids-virus-hiv-menembus-pori-porinya.html, akses tgl 03/12/2013.

More about → Dusta, kondom dapat cegah AIDS, virus HIV dapat menembus pori-porinya

Program Pekan Kondom Nasional = Program Legalisasi Zina

Posted by Zam

Tepat 01 Desember 2013 kemarin, sebagai peringatan Hari AIDS Sedunia, Menkes RI yakni Dr. Nafsiyah Mboi membuat sebuah program bertajuk “Pekan Kondom Nasional”.

Pekan, artinya 7 hari,maka selama 7 hari, sejak 1 Desember akan ada pembagian kondom secara gratis di beberapa tempat. Tujuan dari kegiatan ini untuk mengurangi penularan kasus HIV/AIDS di Indonesia. Menurutnya, Kemenkes punya kewajiban untuk mengurangi penularan HIV. Pada perilaku seks berisiko, penularan HIV bisa dicegah dengan menggunakan kondom. Tentunya, menghindari perilaku seks berisiko jauh lebih dianjurkan.

Kondomisasi ini sendiri dilakukan setelah mereka berkesimpulan bahwa fakta tentang penularan virus HIV AIDS naik menjadi 60%, sedangkan penularan melalui jarum suntik menurun.

Kalau kita perhatikan, sesungguhnya program Pekan Kondom Nasional itu sendiri merupakan penerapan kebijakan yang mengaplikasian program ABDC oleh UNAIDS (United Nation Acquired Immune Deficiency Syndrome) dan WHO melalui PBB. Ringkasnya, A=Abstinence alias jangan berhubungan seks; B=Be faithfull alias setialah pada pasangan, C=Condom alias pakailah kondom, atau D=no use Drugs atau hindari obat-obatan narkotika.

Program ABCD sebenarnya cukup bagus, namun itu secara teori, kalau secara praktik maka akan sulit. Kenapa?

Karena, pertama, program A, alias Abstinence alias jangan berhubungan seks, itu hanya sebuah himbaun yang sifatnya adalah nasehat. Bukan sebuah peringatan yang disertai dengan adanya sanksi kepada pihak yang melanggar peringatan tersebut.

Kedua, program B, alias Be faithfull alias setialah pada pasangan, maka ini multitafsir. Apakah yang dimaksud itu adalah setia pada pasangan yang halal (suami-isteri) atau bisa juga setia pada pasangan yang tidak halal, yang artinya mereka bisa disebut pasangan yang berzina. Sedangkan zina adalah salah satu penyebab terjadinya penyakit-penyakit yang mengerikan.

Dalam riwayat Ibnu Majah dan al-Hakim dan riwayat ini shahih dengan salah satu lafadz, Rasulullah Sallallahu ‘Alahi Wasallam bersabda :' “Tidaklah perzinahan tampak pada sebuah kaum hingga mereka melakukannya secara terang-terangan, kecuali penyakit-penyakit yang belum pernah ada pada para pendahulu mereka yang telah lalu akan mewabah pada mereka”

Sesuatu yang diberitakan oleh Rasulullah Sallallahu ‘Alahi Wasallam telah tampak pada masa ini. Ini memberikan bukti bagi dunia bahwa ajaran Islam adalah yang terbaik bagi manusia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan jumlah pengidap penyakit kencing nanah (Gonorrhea) setiap tahunnya lebih dari 250 juta orang. Sebagaimana diperkirakan jumlah pengidap penyakit spilis setiap tahunnya mencapai 50 juta orang. Majalah Amerika, The Times tanggal 4 juli 1983 menyebutkan 20 juta warga Amerika mengidap penyakit Herpes, dan mengumumkan bahwa di Afrika saja 30 juta orang mati setiap tahun dengan sebab penyakit AIDS yang muncul akibat hubungan seks bebas (zina). Di samping itu juga muncul penyakit-penyakit lain yang bermacam-macam akibat tersebarnya perzinahan.

Ketiga, program C alias alias pakailah kondom. Ini sama artinya mengatakan “silahkan anda berzina, asal pakai kondom” . apalagi ketika kondom tersebut dibagikan secara gratis, serta ditempat-tempat yang menyuburkan perzinahan seperti di tempat pelacuran, Hotel, dan tempat hiburan yang sarat akan terjadinya perilaku seks. Maka apa namanya kalau membagikan kondom secara gratis bukan mau menyuburkan seks?

Selain itu, banyak penelitian menunjukan bahwa kondom tidak efektif untuk mencegah penularan virus HIV AIDS.  Pada Konferensi AIDS se-Dunia di Chiangmai, Thailand tahun 1995, diumumkan hasil penelitian ilmiah, bahwa kondom tidak dapat mencegah penularan HIV/AIDS . Sebab ukuran pori-pori kondom jauh lebih besar dari ukuran virus HIV. Ukuran pori-pori kondom sebesar 1/60 mikron dalam kondisi normal dan membesar menjadi 1/6 mikron saat dipakai. Sedangkan ukuran virus HIV hanya 1/250 mikron. Jelas virus HIV sangat mudah bebas keluar masuk melalui pori-pori kondom. Maka, jika dikatakan kondomisasi dapat menangkal penularan virus HIV/AIDS, itu jelas menyesatkan dan membodohi masyarakat.

Kondom juga tidak ampuh menangkal penyakit lainnya. Dr. Ricki Pollycove, pakar kesehatan dari California Pacific Medical Center San Francisco, mengatakan bahwa didapatkan sejumlah temuan, kondom tidak bisa mencegah penyakit herpes. Sejumlah orang tetap terinfeksi herpes meski mereka sudah menggunakan kondom dengan benar (sfgate.com, 21/1/2013).

Apalagi, peluang terjadinya cacat pada kondom yang beredar tetap ada. Di AS saja, 2 dari 100 kondom ditemukan rusak.

Keempat, program D alias no use Drugs atau hindari obat-obatan narkotika. Untuk mencegah penggunaan narkoba, para pecandunya diberi solusi dengan substitusi metadon. Metadon adalah turunan dari narkoba (morfin, heroin dkk) yang mempunyai efek adiktif (nyandu) dan menyebabkan “loss control” (tidak mampu mengendalikan diri). Dengan dalih agar tidak menggunakan narkoba suntik  metadon pun ditempuh karena metadon melalui mulut.  Padahal, “loss control” dapat menyebabkan perilaku seks bebas sebagai transmisi utama penularan virus HIV/AIDS.

Lebih ironis lagi adalah legalisasi penggunaan jarum suntik pada pecandu narkoba, dengan dalih agar tidak terjadi penggunaan jarum suntik secara bersama-sama. Padahal, langkah ini justru akan melestarikan penggunaan narkoba suntik. Siapa yang bisa menjamin jarum suntik akan digunakan sendiri? Sebab, fakta menunjukkan pengguna narkoba biasanya hidup berkelompok.

5 why? Atau Analisis Lima Mengapa

Analisis 5 mengapa adalah teknik tanya-jawab sederhana untuk menyelidiki hubungan sebab akibat yang menjadi akar dari suatu permasalahan. Tehnin ini biasanya digunakan untuk menemukan root cause atau akar penyebab kenapa masalah itu terjadi. Saya melihat, sepertinya 5 why ini bisa diterapkan terhadap masalah penyebaran virus HIV AIDS.

Dimulai dengan pertanyaan kenapa terjadi penyakit AIDS? Jawabannya karena adanya virus HIV.

Kenapa virus HIV bisa ada? Yakni karena terjadi perilaku seks yang menyimpang (zina)

Kenapa Zina terjadi? Jawabannya karena adanya pemahaman kebebasan melakukan hubungan seks, asal suka sama suka.

Kenapa bisa terjadi adegan seks suka sama suka? Jawabannya karena ada kebebasan yang menjamin itu, yakni ide demokrasi yang memberikan pemahaman kebebasan berperilakusalah satunya adalah melakukan perbuatan zina asal suka sama suka.

Maka jelas penyebab nya adalah karena adanya perbuatan zina itu sendiri. Maka sebenarnya cara yang harus dilakukan adalah mencabut akar persoalan, yakni perbuatan zina itu sendiri, bukan malah mencari solusi yang lain.

Tapi karena negara ini mengadopsi ideologi Kapitalisme yang berbasis pada aqidah sekulerisme maka akan sulit untuk mengambil solusi tersebut. Ini dikarenakan demokrasi yang menjadi penyebab munculnya ide kebebasan tersebut merupakan anak kandung dari sekulerisme itu sendiri.

Setiap individu berhak dan bebas melakukannya dengan siapa saja, asalkan atas dasar suka sama suka. Negara tidak boleh campur tangan kecuali ada pihak yang merasa terganggu dan dirugikan. Selama itu tidak ada, seks bebas tidak boleh dilarang. Bahkan, jika dianggap bermanfaat secara ekonomi, seks bisa menjadi komoditas yang bernilai komersial. Dan tentu hal ini juga akan mendongkrak penjualan kondom.

Jadi, karena seks bebas tidak boleh dilarang, maka yang dilakukan adalah meminimalisir risiko. Pilihannya, yaitu, kampanyekan kondom. Inilah solusi sekulerisme-kapitalisme.

Program Pekan Kondom Nasional tidak akan efektif untuk mencegah atau menanggulangi penyebaran virus HIV dan penyakit AIDS, namun malah akan mengundang adzab dari Allah swt.

Dalam hadits riwayat Al Thabarani dan AlHakim, disebutkan: Apabila zina dan riba telah terang-terangan dilakukan di suatu negeri, maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan diri mereka dari azab Allah.

Solusi Islam

Islam adalah agama yang sempurna. Kesempurnaan Islam adalah sebagai sistem juga sebagai sumber hukum. Salah satunya adalah bagaimana Islam menyelesaikan masalah penularan virus HIV AIDS itu sendiri.

Maka pertama adalah membuat sebuah sistem agar perzinaan tersebut tidak terjadi. Yakni dengan menutup semua sarana yang bisa menghantarkan kepada perzinaan itu sendiri, seperti larangan khalwat, ikhtilath, kewajiban menutup aurat bagi muslimah yang sudah baligh. Dimana jika larangan tersebut di langgar maka mereka akan mendapatkan sanksi yang tegas. Sehingga bisa membuat efek jera.

Kedua, penangangan kepada orang yang sudah tertular. Maka hal ini dilihat dari dua segi. Pertama, jika si penderita tertular karena kemaksiyatanya, semisal berzina, dan statusnya dalah muhsan (sudah menikah) maka ia akan dihukum mati. Kedua, adapun jika yang tertular adalah berstatus ghairu muhsan (belum menikah) maka setelah di cambuk 100 kali mak akan di karangtina. Apakah ini diskriminasi? Tidak!. Tindakan ini dilakukan untuk menyetop perluasan penyebaran virus HIV itu sendiri.

Dalam hadits riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim dan An-Nasa’i, Rasulullah SAW memerintahkan apabila ada sebuah daerah terserang wabah thâ’ûn, orang yang berada di luar daerah itu tidak boleh masuk. Sebaliknya, orang yang ada di dalamnya tidak boleh keluar. Ini bukan untuk mendiskriminasi atau mengisolasi, namun mencegah agar penyakit menular itu tidak menyebar luas.

Dan tentu hal ini akan bisa dilakukan efektif jika negara yang melakukannya, bukan masyakarat yang tergabung ke dalam kelompok, apalagi hanya indvidu saja.

Dari masalah ini saja, kita bisa melihat betapa urgent nya sistem Islam yakni Khilafah untuk menyelesaikan persoalan tersebut.  Karena ketiadaan khilafah, sulit atau boleh dibilang mustahil dapat menerapkan syariat Islam secara kaffah. Wallahu a’lam[].

Oleh : Adi Victoria
Penulis Buku & Aktivis Hizbut Tahrir Indonesia Kota Samarinda

- See more at: http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2013/12/02/27914/program-pekan-kondom-nasional-legalisasi-zina/#sthash.cRI4l8mv.dpbs, akses tgl 03/12/2013.
More about → Program Pekan Kondom Nasional = Program Legalisasi Zina

Mustofa: Habiskan Dana 50 Milyar, Kondomisasi Harus Ditolak!

Posted by Zam

Rilis Terkait Rencana Kondomisasi :

KONDOMISASI HARUS DITOLAK!

Assalamu'alaikum, dalam rangka merespon Pemerintah yang berencana akan membagikan kondom diduga senilai lebih dari Rp 50 Milyar, mari nyatakan sikap!

ADA INFORMASI RENCANA kondomisasi dalam rangka peringatan Hari AIDS sedunia 1 Desember 2013, dan juga Informasi adanya rencana Pekan Kondom Nasional (PKN) 1-7 Desember 2013 di Indonesia. Untuk itu, terhadap rencana-rencana ini harus disikapi bersama.

Pertama, Segenap elemen masyarakat harus menolak ide gila itu, dan menuntut penghentian segala kegiatan yang terkait dengannya, kepada siapapun yang berani menggelar acara-acara yang merusak mental dan kesehatan generasi muda kita melalui kemasan-kemasan yang seolah-olah adalah aksi sosialisasi pencegahan AIDS, padahal itu cenderung sosialisasi penyebaran AIDS.

Kedua, Patut disesalkan apabila kedua rencana tersebut benar-benar terlaksana di akhir tahun ini. Sudah banyak persoalan yang dihadapi Bangsa Indonesia dan belum terpecahkan hingga kini, namun masih ditambahi dengan banyak masalah baru yang tak ada manfaatnya. Untuk itu, perlu dihemat tenaga, anggaran, pemikiran dan peluang agar bisa dimanfaatkan sebesar-besar untuk kepentingan bangsa.

Ketiga, Presiden harus tegas menolak rencana-rencana yang boleh saya bilang "kebablasan" itu. Tak ada alasan bagi Presiden untuk membiarkan rencana tersebut berlangsung di tengah-tengah rakyat yang mayoritas memeluk Islam. Sebagaimana ajaran Islam, berzina adalah haram, maka tidak boleh ada pihak yang mencoba memaksakan diri menciptakan situasi kurang bersahabat dengan masyarakat Indonesia yang masih memegang adat ketimuran serta memiliki agama yang menentang zina.

Keempat, Kepada pemeluk agama lain, mari bersama-sama turut mendukung penolakan ini, sebagai wujud menjaga anak-anak kita dan juga keluarga kita dari lingkungan yang tidak sehat. Insya Allah dengan menolak perbuatan nista, negara ini akan mendapatkan rahmat, dan berkah.

Kelima, Kepada produsen, distributor, dan juga mitra pemerintah yang terkait usaha-usaha dan bisnis kondom, mohon maaf yang sebesar-besarnya, seruan penghentian ide dan gagasan soal kondomisasi adalah bukan menghambat investasi, melainkan sekedar mengingatkan bahwa ide tersebut bukanlah ide kreatif, melainkan ide sampah yang hanya membuang energi bangsa. Untuk itu segera harus diakhiri secepatnya.

Jakarta, 30 Nopember 2013

Salam

Mustofa B. Nahrawardaya

@MustofaNahra

- See more at: http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2013/12/01/27883/mustofa-habiskan-dana-50-milyar-kondomisasi-harus-ditolak/#sthash.jLpBtRC9.dpbs, akses tgl 03/12/2013.
More about → Mustofa: Habiskan Dana 50 Milyar, Kondomisasi Harus Ditolak!

Menteri Kondom Antek Liberal, Perusak Moral Bangsa!

Posted by Zam

Jakarta – Jamban Panyileukan : Dalam rangka memperingati hari AIDS sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember 2013, negeri ini kembali disuguhi ide sesat dan menyesatkan hasil kerjasama Kemenkes dengan KPAN serta perusahaan kondom dalam kampanye pembagian kondom gratis, yang dibungkus dengan judul “Pekan Kondom Nasional”.

Melihat judul yang disematkan pada acara pelegalan seks bebas ini, semakin tampak jelas kebobrokan negeri ini yang tiada habisnya. Sehalus apa pun bahasa yang disematkan pada acara kampanye seks bebas yang disponsori perusahaan kondom ini, tetap saja tidak memberi pengaruh signifikan terhadap penurunan jumlah penderita AIDS maupun menekan laju jumlah penderita, karena pemakaian kondom telah terbukti tidak mampu mengatasi penularan AIDS. Solusi macam apa yang diberikan oleh Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi, dalam penanggulangan AIDS?? Menggelontorkan dana sekitar 25 Milyar demi kampanye seks bebas? Luar biasa..

Alasan kampanye ini adalah harapan akan adanya perubahan perilaku seks bebas dan resikonya, seperti penularan penyakit seksual dan AIDS. Padahal tidak pernah ada bukti bahwa kondom dapat menyelesaikan masalah AIDS. Kalau itu terbukti, pengidap AIDS di dunia ini harusnya berkurang. Namun ternyata malah naik terus. Justru dengan adanya kondomisasi, seks bebas akan semakin menjadi-jadi. Bila kondom tidak mampu mengatasi persoalan AIDS, mengapa pemerintah masih saja memilih metode sesat menyesatkan ini untuk mengatasi persoalan perilaku seks bebas dan solusi masalah AIDS. Bagaimana mungkin perilaku seks bebas bisa berubah dengan memfasilitasi pelaku dengan kondom gratis? Ada misi liberal dalam hal ini?..Sudah tentu.

Arus liberalisasi yang menyerang negeri ini sudah sedemikian hebat sampai merasuk ke dalam jajaran pemerintah, hingga tak heran bila kemudian bisa timbul ide absurd seperti kampanye kondom ini. Sudah tak malu-malu lagi, kampanye ini kurang lebih berpesan, silahkan melakukan seks bebas asal memakai kondom. Makin hancur sajalah tatanan moral kita dengan himbauan seks bebas ini. Bila negara barat saja sudah tidak berhasil menekan laju penyebaran AIDS dengan metode konyol ini, mengapa kita masih saja membebek dan tetap menjalankan hal yang tak ada manfaatnya? Jangan jadikan momen tahunan “HARI AIDS SEDUNIA” sebagai tameng berjualan kondom dan legalisasi perzinaan yang dibungkus dengan kampanye seks bebas.

Liberalisme adalah salah satu bagian dari Westernisasi, yakni sebuah proyek ideologi yang telah memprovokasi anak-anak muda Indonesia untuk melawan institusi dan aturan keagamaan. Anehnya, proyek ini didukung oleh pemerintah yang kini memang bukan lagi membawa nilai-nilai Pancasila, tetapi liberal. Pemberian kondom yang digagas oleh Menkes, Nafsiah Mboi, yang telah murtad ini merupakan salah satu proyek liberalisasi.

Perlu diketahui!.Setiap kondom itu mempunyai serat. Memang, jika kondom dimasukkan air, seakan-akan air tidak keluar. Namun sesungguhnya, kondom itu memiliki pori-pori yang besarnya seperenampuluh mikron ketika masih baru dan belum digunakan. Sedangkan ukuran pori-pori kondom saat digunakan (meregang) akan membesar menjadi 1/6 mikron. Sementara virus HIV/AIDS mempunyai ukuran 1/250 mikron sehingga sangat jauh lebih kecil dari pori-pori kondom, oleh karenanya tentu dapat menembus. Jadi, seandainya ada anak-anak remaja berzina menggunakan 10 lapis kondom pun, virus-virus HIV/AIDS masih tetap bisa bebas menembus keluar dari pori-pori kondom itu. Pantaskah KONDOM menjadi solusi??.. [KbrNet/Slm]

by KabarNet
sumber : http://kabarnet.wordpress.com/2013/12/02/menteri-kondom-antek-liberal-perusak-moral-bangsa/, akses tgl 03/12/2013.
More about → Menteri Kondom Antek Liberal, Perusak Moral Bangsa!