Home » Posts filed under Sex Bebas
Posted by
Zam on Tuesday, December 3, 2013
SAAT ini perzinaan merebak di mana-mana. Jika dulu kita mendengar zina terjadi hanya di televisi atau membaca di koran, sekarang kita mendengarnya di sekeliling kita.
Menjelang hari kiamat, setelah manusia melewati zaman keemasan (dengan turunnya Nabi Isa Alaihisalam dan dipimpinnya manusia oleh al-Mahdi), manusia memang akan hidup dalam kondisi yang seburuk-buruknya, layaknya binatang.
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam menceritakan tentang peristiwa itu sebagaimana yang diriwayatkan Abu Hurairah Radhiyyalahu’ Anhu:
“Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, umat ini tidak akan punah, sampai ada laki-laki mendatangi perempuan, lalu menyetubuhinya di jalan. Lantas orang yang terbaik pada saat itu adalah yang mengatakan: ‘Alangkah baiknya jika kamu bersembunyi di balik tembok ini.” (H.R Abu Ya’la)
Inilah puncak kebejatan manusia dalam perzinaan yang akan terulang kembali di akhir zaman, pasca wafatnya Nabi Isa Alaihisalam dan Imam Mahdi. Manusia akan kembali ke zaman jahiliyah, bahkan lebih buruk lagi. Orang-orang yang tidak waras akan melakukan hubungan badan layaknya binatang secara terang-terangan, di jalanan, di jembatan, di tempat terbuka dan banyak ditonton orang.
Parahnya lagi, orang-orang terbaik saat itu tidak mampu berkomentar apa-apa saat menyaksikannya, selain menghimbau agar pelaku zina di tempat itu menyingkir dan melakukannya di di tempat yang agak tertutup.
Bahkan, ada di antara orang terbaik saat itu yang melihatnya juga tertarik untuk melakukan perbuatan bejat tersebut, namun hati nuraninya meminta dirinya untuk melakukannya di tempat yang tersembunyi. Jika demikian adalah manusia terbaik saat itu, bagaimana dengan manusia bejatnya?
Rasulullah Shallallahu’ Alaihi Wassalam bersabda : “Dan yang tersisa adalah seburuk-buruk manusia, mereka melakukan hubungan intim di dalamnya bagaikan keledai, maka pada merekalah kiamat akan terjadi.” (H.R Muslim). []
sumber : http://www.islampos.com/di-akhir-zaman-zina-dilakukan-di-jalanan-88450/, akses tgl 04/12/2013.
More about → Di Akhir Zaman, Zina Dilakukan di Jalanan
Posted by
Zam
 |
| Tri Rismaharini |
Jakarta (Jamban Panyileukan) -- Betapa Surabaya dikenal sebagai kota Pahlawan. Karena, di pusat kota Surabaya, berlangsung pertempuran hebat, melawan sekutu.
Dengan pekik takbir, "Allahu Akbar", yang begitu menggema, meluluhkan pasukan sekutu yang medarat di Surabaya, dan bahkan semangat "arek" itu, berhasil membunuh dua orang jendral sekutu, yaitu Jendral AWS Mallaby dan Hawthorn.
Tetapi, Surabaya sesudah berhasil membebaskan dari penjajahan Sekutu, di era kemerdekaan, Surabaya di jajah oleh serbuan yang tidak kalah dahsyatnya, dibandingkan dengan pasukan sekutu, yaitu : pelacur.
Di Surabaya terkenal dengan komplek pelacuran terbesar di Asia, Dolly. Dolly nama seorang germo berdarah Belanda. Praktek pelacuran di kota Surabaya, terutama di komplek Doly itu sudah berlangsung cukup tua.
Maka, Kota Surabaya saat memperingati Hari Pahlawan 10 November dengan mendeklarasikan diri sebagai kota bebas prostitusi. Deklarasi digelar di Taman Bungkul, Ahad, 16/11/2013.
Meskipun, Kota Surabaya silih berganti pejabat, tak satupun yang memiliki tekad baja, menutup komplek pelacuran Dolly. Mereka seperti menutup mata, tempat maksiat, dan terus menjaga kelestarian tempat mesum itu. Sungguh sangat ironis.
Membiarkan tempat pelacuran yang membiakkan segala penyakit sosial, penyakit penyakit pisik seperti HIV, dan penyakit kotor laiannya, yang mematikan. Bahkan, perbuatan "fahisah" itu, membuat laknat dan tidak turunnya rahmat bagi penduduk sekitar (Surabaya).
Sekarang, hadir pemimpin baru di kota Surabaya yang memiliki hati nurani, dan memiliki komitmen yang teguh, membersihkan kotoran dari kota Surabaya. Bukan hanya sampah, tetapi juga tempat-tempat maksiat.
Tri Rismaharini, Walikota Surabaya, justru melakukan langkah-langkah berani, menutup semua tempat pelacuran, termasuk Dolly. Tri Rismaharini dalam sambutannya mengatakan, orang tua yang tinggal di kawasan lokalisasi di Kota Surabaya harus memperhatikan masa depan anak-anak mereka, ungkapnya.
"Masa depan anak-anak harus jadi prioritas. Orang tua jangan hanya memikirkan perut saja tetapi merugikan anak-anak," katanya. Kegiatan yang digelar bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan ini juga dihadiri ratusan elemen masyarakat yang mendukung kampanye Surabaya bebas prostitusi.
Pemerintah Kota Surabaya, lanjut Tri Rismaharini, serius melakukan rehabilitasi terhadap wilayah lokalisasi. Sejauh ini, sudah ada tiga lokalisasi yang sudah ditutup, yakni lokalisasi Tambakasri, Klakah Rejo, dan juga Dupak Bangunsari.
Ke depannya, lanjut dia, Pemkot Surabaya berencana menutup lokalisasi Sememi pada Desember 2013 dan akan melakukan rehabilitasi terhadap kawasan lokalisasi Jarak dan Dolly pada 2014.
Wali kota menggarisbawahi bahwa rehabilitasi lokalisasi di Surabaya harus dilakukan khusus untuk rehabilitasi lokalisasi Dolly. Wali kota menyebut sedang melakukan persiapan matang. Bahkan, Walikota Surabaya Tri Rismaharini mempersiapkan dana puluhan miliar yang digunakan menutup lokasi pelacuran di Surabaya. Sungguh mulia langkah yang dilakukan Tri membebaskan Surabaya dari maksiat.
Terkait hendak diapakan kawasan Dolly setelah direhabilitasi nanti, wali kota menegaskan bahwa Pemkot akan menjadikan area lokalisasi yang berada di tengah kota ini sebagai sub- distrik unit pengembangan. Wali kota meyakinkan agar warga yang tinggal di sekitar lokalisasi Dolly, tidak khawatir dengan adanya rencana rehabilitasi yang dilakukan Pemkot Surabaya.
Mantan kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya ini mencontohkan warga di kawasan lokalisasi Dupak Bangunsari yang awalnya sempat tidak setuju dengan penutupan, kini merasakan dampak positifnya.
"Warga di sekitar Dolly tidak usah bingung. Lihat warga di Dupak Bangunsari, sekarang produk UKM mereka sudah sampai luar negeri. Saya juga terkejut. Kalau ada niat baik, Tuhan pasti bantu," katanya.
Sebaliknya, Menteri Kesehatan Nafsiah Mboy, justru berbuat sebaliknya, memberikan ajang bagi para manusia yang sesat dan durjana dengan membagi-bagikan kondom gratis, dan gagasan Nafsiah Mboy yang sangat kontorversi, sudah dia lakukan usai dilantik oleh Presiden SBY menjadi menteri. Sungguh berbeda antara Tri Rismaharini dan Nafsiah Mboy.
Memang, berbeda antara Tri Rismaharini dan Nafsiah Mboy, Tri Rismaharini seorang Muslimah, sedang Nafsiah Mboy seorang murtadin, dan menjadi katolik. Nafsiah sangat berkepentingan menghancurkan Muslim Indonesia dengan cara membagi-bagikan kondom, sebagai simbol kebebasan seks.
Dengan kebebasan seks itu, Muslim pasti akan hancur, bukan hanya terkena penyakit kotor, termasuk HIV, tetapi semakin sedikit nantinya yang menikah dengan jalan yang benar, kemudian di mana-mana terjadi seks bebas, seperti di Barat.
Kemudian pertumbuhan penduduk Muslim menjadi minus, karena yang ada hanyalah seks bebas, tanpa adanya ikakatan pernikahan. Muslim menjadi lemah aqidah, hilang ghirahnya, dan loyo ibadahnya, rusak akhlaknya, dan akan mudah dijajah oleh Barat.
Itulah misi Nafsiah Mboy yang menjadi agen Barat, dan sengaja di pasang menjadi Menteri Kesehatan Indonesia. Tujuan hanyalah untuk merusak Muslim. Dengan seks bebas. Wallahu'alam. *mashadi.
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/opini/2013/12/03/27937/membandingkan-nafsiah-mboy-dan-tri-rismaharini/#sthash.ArnN8nRi.FTPxPkRy.dpbs, akses tgl 04/12/2013.
More about → Membandingkan Nafsiah Mboy dan Tri Rismaharini
Posted by
Zam on Monday, December 2, 2013
KEBIJAKAN Menteri Kesehatan (Nafsiah Mboi), sungguh mengejutkan. Bagaimana tidak? Menkes baru ini mewacanakan membagikan kondom untuk remaja secara gratis bersama KPAN & DKT dari tanggal 1-7 Desember 2013 dalam rangka menekan angka kehamilan tak diinginkan atau menekan angka aborsi yang terus meningkat. Menkes mendorong penggunaan kondom untuk kelompok seks berisiko, tak terkecuali remaja yang terlibat perilaku seks berisiko
Parahnya kebijakan ini didukung oleh MPR. Jelas kebijakan ini menuai pro-kontra di tengah masyarakat. Alih-alih menekan angka aborsi dan kehamilan tak diinginkan, kebijakan ini justru semakin menguatkan pergaulan bebas di kalangan remaja. Pembagian kondom secara gratis menunjukkan pelegalan seks bebas oleh Negara. Data BKKBN tahun 2011 hingga tahun 2012 menunjukkan setiap tahunnya sekitar 600.000 remaja putri kehilangan keperawanannya. Pembagian kondom ini seolah-olah menyiratkan bahwa “tidak masalah hubungan seks asalkan menggunakan kondom yang bisa mencegah kehamilan”. Setujukah Anda wahai kaum perempuan?
Fakta seks bebas
Fenomena seks bebas di kalangan remaja ibarat gunung es, Fakta yang nampak belum seberapa jika dibandingkan dengan fakta yang sebenarnya. Sebenarnya banyak upaya yang dilakukan pemerintah untuk menuntaskan masalah seks bebas ini, tapi justru kebijakannya malah kotradiktif. Angka freesex semakin meningkat dan tidak pernah tuntas sampai ke akar-akarnya. Program KRR yang digulirkan ke sekolah-sekolah sejatinya malah menginspirasi para remaja untuk melakukan seks bebas. Mereka merasa penasaran dengan organ reproduksi dan sebagainya sehingga mencoba untuk mempraktikkannya dengan dalih “cinta dan kebebasan” Na’udzubillah. Terlebih saat MenKes mempropagandakan hal itu, pastinya angka freesex akan bertambah lagi. Bisa dibayangkan saat remaja menerima kondom itu, kemudian terdorong untuk
menggunakannya dengan dalih pemanfaatan, dan itu dilakukannya pada teman atau pacarnya yang belum halal baginya. Kondomisasi ini tujuannya hanya menguntungkan para kapitalis (pemilik modal) tanpa menghiraukan kemuliaan perempuan, atau dapat dikatakan bahwa kondom adalah alat pemancing penjualan kaum perempuan. Sebab promosi kondom ini akan menaikkan tingkat penjualan kedepannya. Ini sungguh menyedihkan dan mengerikan. Berapa banyak lagi remaja yang akan terinspirasi melakukan seks bebas?
Sungguh ironis negeri ini! ingin mengurangi angka aborsi maupun HIV/AIDS justru menawarkan solusi “kondomisasi”, yang notabene malah membuka lebar-lebar jalur seks bebas yang akhirnya akan membawa pada kerusakan generasinya. Padahal Negeri tercinta ini dikenal dengan mayoritas kaum muslim. Dimana kaum muslim adalah diwajibkan terikat pada aqidahnya. Islam mengharamkan perzinahan. Jangankan perzinahan, berdua-duaan (berkhalwat) dengan non mahrom saja islam melarang, sebab Islam adalah agama sekaligus ideologi yang berasal dari Pencipta manusia. Allah SWT telah memberikan Islam sebagai petunjuk dalam menjalankan kehidupan. Sedangkan saat ini bukanlah Islam yang terterapkan hukumnya, melainkan Sistem Demokrasi-kapitalisme liberal. Liberal dengan dalih “kebebasannya”, demokrasi dengan dalih “dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat” sejatinya menafikkan adanya Tuhan dalam mengatur kehidupan. Ditambah lagi kapitalisme dengan dalihnya memisahkan agama dengan kehidupan telah berhasil menjadikan ummat muslim jauh dari aturan Islam, jauh dari agamanya. Maka tak heran Indonesia saat ini terus disuguhkan dengan berbagai bencana, maupun masalah yang tak kunjung selesai seperti aborsi, korupsi, sex bebas, kemiskinan, dll. Dalam surah Al-A’raf: 96 Allah berfirman “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.
Solusi tuntas
Oleh karena itu, sungguh tak layak bagi kita mempertahankan aturan yang bisa merusak generasi ini. Sejatinya, kita semua harus kembali kepada aturan Allah. Aturan Yang Maha Sempurna, Yang Maha Mengetahui mana yang terbaik untuk manusia dan tentunya aturan yang membawa manusia pada kesejahteraan dunia dan keselamatan akhirat. Itulah aturan Islam, dengan penegakkan Khilafah Islamiyah. Mengapa harus dengan Khilafah? Ya, sebab hanya Khilafah lah satu-satunya negara yang bisa menerapkan Islam secara kaffah (menyeluruh).
Pertama, Aqidah Islam menjadi dasar negara. Artinya warga Negara dalam Khilafah akan dipastikan menjadikan Aqidah Islam sebagai landasan melakukan perbuatan. Setiap muslim akan selalu merasa diawasi oleh ALLAH, sehingga dia akan takut jika melakukan maksiat terlebih zina yang merupakan dosa besar. Allah berfirman: “Sesungguhnya ALLAH mengetahui apa yang ghaib di langit dan di bumi. Dan Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Hujurat: 18). Banyak ayat yang menjelaskan hal ini, sehingga negara akan mengkondisikan bahwa warga negaranya takut kepada ALLAH didasari keimanan yang kuat.
Kedua, keluarga menerapkan pendidkan berdasarkan aqidah Islam dan ahlaqul karimah. Keluarga merupakan benteng untuk menjaga pondasi keimanan generasi agar tetap kokoh. Anak-anak yang terlahir akan dididik berdasar aqidah Islam dan senantiasa dikondisikan dengan nilai-nilai Islam.
Ketiga, masyarakat menjalankan fungsinya untuk amar ma’ruf nahi munkar. Setiap ada gejala pelaku seks bebas seperti berdua-duaan atau pacaran, maka masyarakat akan mengingatkannya Karena kasih saying pada saudaranya karena masing-masing memahami bahwa kaum mukmin bersaudara sehinga takkan rela saudaranya tercebur pada lembah maksiat.
Keempat, negara menerapkan sanksi yang tegas pada pelaku seks bebas. Bagi yang belum menikah, maka akan dikenakan cambuk 100 kali sebagaimana firman ALLAH dalam QS. An-Nur ayat 2: “Perempuan yang berzina dengan laki-laki yang berzina, hendaklah kamu dera tiap-tiap satu dari keduanya itu dengan seratus kali deraan. Dan janganlah kamu dipengaruhi oleh perasaan kasihan kepada keduanya di dalam menjalankannya (ketentuan) agama ALLAH yaitu jika kamu sebenarnya beriman kepada ALLAH dan hari akhir. Dan hendaklah hukuman keduanya itu disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman”. Sementara itu, bagi yang sudah menikah maka akan dikenakan sanksi rajam. Sanksi yang tegas ini akan mencegah siapapun melakukan seks bebas dan membuat jera para pelakunya. Sekaligus menjadi penebus dosanya di akhirat kelak. Sehingga generasinya menjadi terlindungi kemuliaannya. Inilah gambaran Khilafah menuntaskan permasalah seks bebas.
Wahai Generasi Muda!
Kondomisasi merupakan program buruk, menguntungkan para kapitalis (pemilik modal) sekaligus menghancurkan masa depan generasi bangsa. Kini, sudah sangat jelas bahwa satu-satunya solusi untuk mencegah seks bebas, kehamilan tak diinginkan dan aborsi adalah dengan menerapkan Islam kaffah dalam wadah Khilafah Islamiyah bukan dengan kondomisasi yang justru menyuburkan seks bebas tersebut. Saatnya kita cerdas menyikapi setiap fakta yang terjadi di sekitar kita dan turut andil dalam perubahan. Sebab perubahan itu ada di tangan kita, apalagi mahasiswa dikatakan sebagai The Agent Of Change ( Agen Perubahan ) Tentunya perubahan yang lebih baik yaitu dengan turut memperjuangkan tegaknya Khilafah Islamiyah, yang akan melindungi kemuliaan perempuan dan kesejahteraan ummat.
Wallâh a’lam bi ash-shawâb. []
Oleh: Zahra Qonita Al Maisaroh, Mahasiswi Pendidikan Kimia FKIP Universitas Halu Oleo & Anggota Media Nisa MHTI Sultra.sumber : http://www.islampos.com/siapa-diuntungkan-pekan-kondom-nasional-88620/, akses tgl 03/12/2013.
More about → Siapa Diuntungkan Pekan Kondom Nasional?
Posted by
Zam
Tepat 01 Desember 2013 kemarin, sebagai peringatan Hari AIDS Sedunia, Menkes RI yakni Dr. Nafsiyah Mboi membuat sebuah program bertajuk “Pekan Kondom Nasional”.
Pekan, artinya 7 hari,maka selama 7 hari, sejak 1 Desember akan ada pembagian kondom secara gratis di beberapa tempat. Tujuan dari kegiatan ini untuk mengurangi penularan kasus HIV/AIDS di Indonesia. Menurutnya, Kemenkes punya kewajiban untuk mengurangi penularan HIV. Pada perilaku seks berisiko, penularan HIV bisa dicegah dengan menggunakan kondom. Tentunya, menghindari perilaku seks berisiko jauh lebih dianjurkan.
Kondomisasi ini sendiri dilakukan setelah mereka berkesimpulan bahwa fakta tentang penularan virus HIV AIDS naik menjadi 60%, sedangkan penularan melalui jarum suntik menurun.
Kalau kita perhatikan, sesungguhnya program Pekan Kondom Nasional itu sendiri merupakan penerapan kebijakan yang mengaplikasian program ABDC oleh UNAIDS (United Nation Acquired Immune Deficiency Syndrome) dan WHO melalui PBB. Ringkasnya, A=Abstinence alias jangan berhubungan seks; B=Be faithfull alias setialah pada pasangan, C=Condom alias pakailah kondom, atau D=no use Drugs atau hindari obat-obatan narkotika.
Program ABCD sebenarnya cukup bagus, namun itu secara teori, kalau secara praktik maka akan sulit. Kenapa?
Karena, pertama, program A, alias Abstinence alias jangan berhubungan seks, itu hanya sebuah himbaun yang sifatnya adalah nasehat. Bukan sebuah peringatan yang disertai dengan adanya sanksi kepada pihak yang melanggar peringatan tersebut.
Kedua, program B, alias Be faithfull alias setialah pada pasangan, maka ini multitafsir. Apakah yang dimaksud itu adalah setia pada pasangan yang halal (suami-isteri) atau bisa juga setia pada pasangan yang tidak halal, yang artinya mereka bisa disebut pasangan yang berzina. Sedangkan zina adalah salah satu penyebab terjadinya penyakit-penyakit yang mengerikan.
Dalam riwayat Ibnu Majah dan al-Hakim dan riwayat ini shahih dengan salah satu lafadz, Rasulullah Sallallahu ‘Alahi Wasallam bersabda :' “Tidaklah perzinahan tampak pada sebuah kaum hingga mereka melakukannya secara terang-terangan, kecuali penyakit-penyakit yang belum pernah ada pada para pendahulu mereka yang telah lalu akan mewabah pada mereka”
Sesuatu yang diberitakan oleh Rasulullah Sallallahu ‘Alahi Wasallam telah tampak pada masa ini. Ini memberikan bukti bagi dunia bahwa ajaran Islam adalah yang terbaik bagi manusia.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan jumlah pengidap penyakit kencing nanah (Gonorrhea) setiap tahunnya lebih dari 250 juta orang. Sebagaimana diperkirakan jumlah pengidap penyakit spilis setiap tahunnya mencapai 50 juta orang. Majalah Amerika, The Times tanggal 4 juli 1983 menyebutkan 20 juta warga Amerika mengidap penyakit Herpes, dan mengumumkan bahwa di Afrika saja 30 juta orang mati setiap tahun dengan sebab penyakit AIDS yang muncul akibat hubungan seks bebas (zina). Di samping itu juga muncul penyakit-penyakit lain yang bermacam-macam akibat tersebarnya perzinahan.
Ketiga, program C alias alias pakailah kondom. Ini sama artinya mengatakan “silahkan anda berzina, asal pakai kondom” . apalagi ketika kondom tersebut dibagikan secara gratis, serta ditempat-tempat yang menyuburkan perzinahan seperti di tempat pelacuran, Hotel, dan tempat hiburan yang sarat akan terjadinya perilaku seks. Maka apa namanya kalau membagikan kondom secara gratis bukan mau menyuburkan seks?
Selain itu, banyak penelitian menunjukan bahwa kondom tidak efektif untuk mencegah penularan virus HIV AIDS. Pada Konferensi AIDS se-Dunia di Chiangmai, Thailand tahun 1995, diumumkan hasil penelitian ilmiah, bahwa kondom tidak dapat mencegah penularan HIV/AIDS . Sebab ukuran pori-pori kondom jauh lebih besar dari ukuran virus HIV. Ukuran pori-pori kondom sebesar 1/60 mikron dalam kondisi normal dan membesar menjadi 1/6 mikron saat dipakai. Sedangkan ukuran virus HIV hanya 1/250 mikron. Jelas virus HIV sangat mudah bebas keluar masuk melalui pori-pori kondom. Maka, jika dikatakan kondomisasi dapat menangkal penularan virus HIV/AIDS, itu jelas menyesatkan dan membodohi masyarakat.
Kondom juga tidak ampuh menangkal penyakit lainnya. Dr. Ricki Pollycove, pakar kesehatan dari California Pacific Medical Center San Francisco, mengatakan bahwa didapatkan sejumlah temuan, kondom tidak bisa mencegah penyakit herpes. Sejumlah orang tetap terinfeksi herpes meski mereka sudah menggunakan kondom dengan benar (sfgate.com, 21/1/2013).
Apalagi, peluang terjadinya cacat pada kondom yang beredar tetap ada. Di AS saja, 2 dari 100 kondom ditemukan rusak.
Keempat, program D alias no use Drugs atau hindari obat-obatan narkotika. Untuk mencegah penggunaan narkoba, para pecandunya diberi solusi dengan substitusi metadon. Metadon adalah turunan dari narkoba (morfin, heroin dkk) yang mempunyai efek adiktif (nyandu) dan menyebabkan “loss control” (tidak mampu mengendalikan diri). Dengan dalih agar tidak menggunakan narkoba suntik metadon pun ditempuh karena metadon melalui mulut. Padahal, “loss control” dapat menyebabkan perilaku seks bebas sebagai transmisi utama penularan virus HIV/AIDS.
Lebih ironis lagi adalah legalisasi penggunaan jarum suntik pada pecandu narkoba, dengan dalih agar tidak terjadi penggunaan jarum suntik secara bersama-sama. Padahal, langkah ini justru akan melestarikan penggunaan narkoba suntik. Siapa yang bisa menjamin jarum suntik akan digunakan sendiri? Sebab, fakta menunjukkan pengguna narkoba biasanya hidup berkelompok.
5 why? Atau Analisis Lima Mengapa
Analisis 5 mengapa adalah teknik tanya-jawab sederhana untuk menyelidiki hubungan sebab akibat yang menjadi akar dari suatu permasalahan. Tehnin ini biasanya digunakan untuk menemukan root cause atau akar penyebab kenapa masalah itu terjadi. Saya melihat, sepertinya 5 why ini bisa diterapkan terhadap masalah penyebaran virus HIV AIDS.
Dimulai dengan pertanyaan kenapa terjadi penyakit AIDS? Jawabannya karena adanya virus HIV.
Kenapa virus HIV bisa ada? Yakni karena terjadi perilaku seks yang menyimpang (zina)
Kenapa Zina terjadi? Jawabannya karena adanya pemahaman kebebasan melakukan hubungan seks, asal suka sama suka.
Kenapa bisa terjadi adegan seks suka sama suka? Jawabannya karena ada kebebasan yang menjamin itu, yakni ide demokrasi yang memberikan pemahaman kebebasan berperilakusalah satunya adalah melakukan perbuatan zina asal suka sama suka.
Maka jelas penyebab nya adalah karena adanya perbuatan zina itu sendiri. Maka sebenarnya cara yang harus dilakukan adalah mencabut akar persoalan, yakni perbuatan zina itu sendiri, bukan malah mencari solusi yang lain.
Tapi karena negara ini mengadopsi ideologi Kapitalisme yang berbasis pada aqidah sekulerisme maka akan sulit untuk mengambil solusi tersebut. Ini dikarenakan demokrasi yang menjadi penyebab munculnya ide kebebasan tersebut merupakan anak kandung dari sekulerisme itu sendiri.
Setiap individu berhak dan bebas melakukannya dengan siapa saja, asalkan atas dasar suka sama suka. Negara tidak boleh campur tangan kecuali ada pihak yang merasa terganggu dan dirugikan. Selama itu tidak ada, seks bebas tidak boleh dilarang. Bahkan, jika dianggap bermanfaat secara ekonomi, seks bisa menjadi komoditas yang bernilai komersial. Dan tentu hal ini juga akan mendongkrak penjualan kondom.
Jadi, karena seks bebas tidak boleh dilarang, maka yang dilakukan adalah meminimalisir risiko. Pilihannya, yaitu, kampanyekan kondom. Inilah solusi sekulerisme-kapitalisme.
Program Pekan Kondom Nasional tidak akan efektif untuk mencegah atau menanggulangi penyebaran virus HIV dan penyakit AIDS, namun malah akan mengundang adzab dari Allah swt.
Dalam hadits riwayat Al Thabarani dan AlHakim, disebutkan: Apabila zina dan riba telah terang-terangan dilakukan di suatu negeri, maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan diri mereka dari azab Allah.
Solusi Islam
Islam adalah agama yang sempurna. Kesempurnaan Islam adalah sebagai sistem juga sebagai sumber hukum. Salah satunya adalah bagaimana Islam menyelesaikan masalah penularan virus HIV AIDS itu sendiri.
Maka pertama adalah membuat sebuah sistem agar perzinaan tersebut tidak terjadi. Yakni dengan menutup semua sarana yang bisa menghantarkan kepada perzinaan itu sendiri, seperti larangan khalwat, ikhtilath, kewajiban menutup aurat bagi muslimah yang sudah baligh. Dimana jika larangan tersebut di langgar maka mereka akan mendapatkan sanksi yang tegas. Sehingga bisa membuat efek jera.
Kedua, penangangan kepada orang yang sudah tertular. Maka hal ini dilihat dari dua segi. Pertama, jika si penderita tertular karena kemaksiyatanya, semisal berzina, dan statusnya dalah muhsan (sudah menikah) maka ia akan dihukum mati. Kedua, adapun jika yang tertular adalah berstatus ghairu muhsan (belum menikah) maka setelah di cambuk 100 kali mak akan di karangtina. Apakah ini diskriminasi? Tidak!. Tindakan ini dilakukan untuk menyetop perluasan penyebaran virus HIV itu sendiri.
Dalam hadits riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim dan An-Nasa’i, Rasulullah SAW memerintahkan apabila ada sebuah daerah terserang wabah thâ’ûn, orang yang berada di luar daerah itu tidak boleh masuk. Sebaliknya, orang yang ada di dalamnya tidak boleh keluar. Ini bukan untuk mendiskriminasi atau mengisolasi, namun mencegah agar penyakit menular itu tidak menyebar luas.
Dan tentu hal ini akan bisa dilakukan efektif jika negara yang melakukannya, bukan masyakarat yang tergabung ke dalam kelompok, apalagi hanya indvidu saja.
Dari masalah ini saja, kita bisa melihat betapa urgent nya sistem Islam yakni Khilafah untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Karena ketiadaan khilafah, sulit atau boleh dibilang mustahil dapat menerapkan syariat Islam secara kaffah. Wallahu a’lam[].
Oleh : Adi VictoriaPenulis Buku & Aktivis Hizbut Tahrir Indonesia Kota Samarinda
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2013/12/02/27914/program-pekan-kondom-nasional-legalisasi-zina/#sthash.cRI4l8mv.dpbs, akses tgl 03/12/2013.
More about → Program Pekan Kondom Nasional = Program Legalisasi Zina
Posted by
Zam on Sunday, December 1, 2013
BERSAMAAN dengan peringatan hari AIDS Sedunia , mulai hari ini, 1 Desember hingga 7 Desember 2013 pemerintah memulai kampanye Pekan Kondom Nasional. Acara ini akan digelar di 12 kota di Indonesia.
Berbeda dengan peringatan Hari AIDS Sedunia atau World AIDS Day Tahun 2012 yang bertema “Lindungi Perempuan dan Anak dari HIV dan AIDS”. Untuk tahun 2013, tema yang diangkat yaitu “Cegah HIV dan AIDS! Lindungi Pekerja, Keluarga dan Bangsa” dengan Sub tema yaitu; Pencegahan HIV & AIDS di Lingkungan Kerja, Meningkatkan kinerja dunia usaha, masyarakat dan pemerintah serta melindungi kesehatan keluarga menuju kesejahteraan bangsa, Perlindungan terhadap hak untuk mendapatkan akses, serta menciptakan lingkungan yang kondusif, bebas stigma dan diskriminasi.
Maraknya perilaku seks bebas, khususnya di kalangan remaja, berbanding lurus dengan infeksi HIV/AIDS. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, pada 2012 ditemukan kasus HIV sebanyak 21.511 orang dan AIDS sebanyak 5.686 orang. Berdasarkan presentase kasus AIDS menurut faktor risiko pada 1987 hingga Desember, secara komulatif, faktor risiko penularan HIV terbanyak pada heteroseksual (58,7 persen); Injecting drug users (IDU) sebanyak 17,5 persen; penularan perinatal 2,7 persen dan homoseksual sebanyak 2,3 persen. Sampai sekarang, AIDS masih menempati peringkat keempat penyebab kematian terbesar di dunia.
Menurut WHO (2009) jumlah penderita HIV/AIDS sebanyak 33,4 juta jiwa di seluruh dunia. Di Indonesia, kasus HIV/AIDS ditemukan pertama kali tahun 1986 di Bali. Kementerian Kesehatan RI memperkirakan, 19 juta orang pada 2010 berada pada risiko terinfeksi HIV. Adapun berdasarkan data Yayasan AIDS Indonesia (YAI), jumlah penderita HIV/AIDS di seluruh Indonesia per Maret 2009, mencapai 23.632 orang. Dari jumlah itu, sekitar 53 persen terjadi pada kelompok usia 20-29 tahun, disusul dengan kelompok usia 30-39 tahun sekitar 27 persen.
Fakta menarik tentang HIV/AIDS. Di antaranya:
Pertama, HIV tidak pandang bulu. Sejak epidemi HIV dimulai 20 tahun lalu, stereotipe yang beredar di masyarakat tentang penderita HIV yaitu para gay, pemakai narkoba dan para pekerja seks komersial-lah yang mendapat label tersebut. Faktanya, semua orang bisa terkena HIV, dari usia tua, muda, kaya, miskin, wanita, pria, maupun anak- anak dan dari berbagai macam profesi.
Kedua, seks oral tak seaman yang dipikir. Oral seks sering kali dianggap sebagai cara “aman” melakukan hubungan seksual. Faktanya, berdasar penelitian, cairan tubuh yang terinfeksi seperti semen dan sekresi vagina yang mengandung konsentrasi virus HIV tinggi bisa memasuki aliran darah melalui membran mukosa mulut.
Ketiga, jangan cuma khawatir hamil. Banyak remaja percaya, satu-satunya risiko berhubungan seks tanpa proteksi adalah kehamilan. Karena itu dipakailah pil KB, oral seks dan ejakulasi di luar demi mencegah kehamilan. Padahal, banyak hal yang harus dikhawatirkan selain kehamilan yakni adanya penyakit menular seksual (PMS) seperti sifilis, herpes, termasuk HIV yang bisa mengancam kehidupan.
Keempat, belum ada obat untuk si pembunuh. Meski orang dengan HIV/AIDS (ODHA) bisa hidup lebih lama berkat obat antiretroviral, obat ini tidak menyembuhkan. Kalau pun obat-obat ini melindungi dari infeksi opportunistik ini bukanlah “jalan pintas” dari infeksi HIV. Ot ini bahkan menyebabkan efek samping seperti diare, kelelahan berlebihan, kemerahan, mual dan muntah.
Penanggulangan yang Salah Kaprah
Selama ini, penanggulangan HIV/AIDS di dunia maupun di Indonesia secara umum mengadopsi strategi yang digunakan oleh UNAIDS dan WHO. Karena penyakit ini hingga sekarang belum ada obat untuk menyembuhkannya, area pencegahan adalah salah satu prioritas yang harus dilakukan. Di antara program yang masuk dalam area pencegahan pada Strategi Nasional Penanggulangan HIV-AIDS adalah: Kondomisasi ataupun dan Pembagian Jarum Suntik Steril. Upaya penanggulangan HIV/AIDS versi UNAIDS ini telah menjadi kebijakan nasional yang berada di bawah koordinasi KPAN (Komisi Penanggulangan AIDS Nasional).
Bagi-bagi kondom (kondomisasi) sebagai salah satu butir dari strategi nasional telah ditetapkan sejak tahun 1994 hingga sekarang. Saat ini kampanye penggunaan kondom semakin gencar dilakukan melalui berbagai media, dengan berbagai macam slogan yang mendorong penggunaan kondom untuk ‘safe sex’ (seks yang aman) dengan ‘dual protection’ (melindungi dari kehamilan tak diinginkan sekaligus melindungi dari infeksi menular seksual).
Kampanye kondom juga dilakukan dengan membagi-bagikan kondom secara gratis di tengah-tengah masyarakat seperti mal-mal dan supermarket. Terakhir, demi memperluas cakupan sasaran penggunaan kondom (utamanya para ABG/remaja yang masih segan kalau harus membeli di apotik) , telah lama diluncurkan program ATM (Anjungan Tunai Mandiri) kondom. Cukup dengan memasukkan 3 koin lima ratus perak, maka akan keluar 3 boks kondom dengan 3 rasa. Bagaimana hasilnya? Kenyataan berbicara, kondomisasi ini bukan hanya terbukti gagal mencegah penyebaran HIV/AIDS, namun malah menumbuhsuburkan wabah penyakit HIV/AIDS.
Di AS, kampanye kondomisasi yang dilaksanakan sejak tahun 1982 terbukti menjadi bumerang. Hal ini dikutip oleh Dadang Hawari (2006) dari pernyataan H. Jaffe (1995), dari Pusat Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (USCDC: United State Center of Diseases Control). Evaluasi yang dilakukan pada tahun 1995 amat mengejutkan, karena ternyata kematian akibat penyakit AIDS malah menjadi peringkat no. 1 di AS, bukan lagi penyakit jantung dan kanker.
Prof. Dr. Dadang Hawari (2002) pernah menuliskan hasil rangkuman beberapa pernyataan dari sejumlah pakar tentang kondom sebagai pencegah penyebaran HIV/AIDS antara lain sebagai berikut:
1. Efektivitas kondom diragukan (Direktur Jenderal WHO Hiroshi Nakajima, 1993).
2. Virus HIV dapat menembus kondom (Penelitian Carey [1992] dari Division of Pshysical Sciences, Rockville, Maryland, USA).
3. Penggunaan kondom aman tidaklah benar. Pada kondom (yang terbuat dari bahan latex) terdapat pori-pori dengan diameter 1/60 mikron dalam keadaan tidak meregang; dalam keadaan meregang lebar pori-pori tersebut mencapai 10 kali. Virus HIV sendiri berdiameter 1/250 mikron. Dengan demikian, virus HIV jelas dengan leluasa dapat menembus pori-pori kondom (Laporan dari Konferensi AIDS Asia Pacific di Chiang Mai, Thailand (1995). · Jika para remaja percaya bahwa dengan kondom mereka aman dari HIV/AIDS atau penyakit kelamin lainnya, berarti mereka telah tersesatkan (V Cline [1995], profesor psikologi dan Universitas Utah, Amerika Serikat).
Prof. Dadang Hawari meyakini, dari data-data tersebut di atas jelaslah bahwa kelompok yang menyatakan kondom 100 persen aman merupakan pernyataan yang menyesatkan dan bohong (Republika, 13/12/2002).
Adapun pemberian jarum suntik steril kepada pengguna narkoba jarum suntik agar terhindar dari penularan HIV/AIDS juga merupakan strategi yang sangat tidak jelas. Memberikan jarum suntik meskipun steril, di tengah- tengah jeratan mafia narkoba sama saja menjerumuskan anggota masyarakat kepada penyalahgunaan narkoba. Apalagi para pengguna narkoba ini tetap berisiko terjerumus pada perilaku seks bebas akibat kehilangan kontrol, meskipun mereka telah menggunakan jarum suntik steril.
Seks Bebas
Jika sudah jelas penggunaan kondom tetap mengundang bahaya, lalu mengapa orang masih terus mengkampanyekan kondom? Tidak lain karena di balik kampanye kondom ada semacam pesan tersembunyi: “Bolehlah Anda melakukan hubungan seks bebas dengan siapa saja, asal memakai kondom.” Kira-kira begitulah pesan dari kampanye penggunaan kondom. Akibatnya, kampanye kondom bakal semakin meningkatkan pergaulan seks bebas. Hal ini pernah diungkapkan oleh Mark Schuster dari Rand, sebuah lembaga penelitian nirlaba, dan seorang pediatri di University of California. Berdasarkan penelitian mereka, setelah kampanye kondomisasi, aktivitas seks bebas di kalangan pelajar pria meningkat dari 37% menjadi 50% dan di kalangan pelajar wanita meningkat dari 27% menjadi 32% (USA Today , 14/4/1998).
Maka dengan dalih apapun, pemberantasan HIV/AIDS bukanlah tepat dengan cara bagi-bagi kondom. Karena itu dengan alasan apapun kampanye kondomisasi ini harus dihentikan dan kita harus berganti dengan cara lebih baik dan dengan cara lebih diridhoi.Wallâhu a’lam bi ash-shawâb.*
Oleh: Liana Setiayati, S.SAktivis MHTI tinggal di Bandung
Rep: AnonymousEditor: Cholis Akbarsumber : http://www.hidayatullah.com/read/2013/12/01/7567/pekan-kondom-pintu-masuk-seks-bebas.html, akses tgl 01/12/2013.
More about → Pekan Kondom = Pintu Masuk Seks Bebas