Search

Showing posts with label Sosial. Show all posts
Showing posts with label Sosial. Show all posts

Pancasilaisme Dekat Komunisme, Lawan Kapitalisme. Tapi Faktanya?

Posted by Zam on Saturday, December 7, 2013

Manusia memiliki agama dan melakukan praktik keagamaan hampir seusia dengan sejarah manusia itu sendiri. Begitulah hal yang juga menjadi pembahasan Prof. F. Max Muller, ilmuwan abad ke-19 asal Jerman, dalam ilmu yang diperkenalkannya sebagai Science of Religion.

Apa yang dikatakan Muller itu sudah lebih dulu disebutkan dalam seluruh kitab suci agama-agama yang ada di dunia, bahwa manusia dilahirkan sebagai ciptaan Tuhan, atas kehendak Tuhan. Meskipun masing-masing agama mempunyai cerita yang berbeda satu-sama lain.

Ajaran agama-agama di muka bumi yang memandang alam sebagai bagian penting manusia. Alam tidak dimiliki oleh individu-individu manusia, tetapi alam adalah milik Tuhan di mana manusia secara komunal mempunyai kewajiban untuk menjaganya.

Agama juga dijadikan alat untuk menentang tirani kekuasaan para raja di dunia. Contohnya dalam agama Islam terdapat kisah Nabi Ibrahim menentang Raja Namrud, Nabi Musa menentang Raja Ramses II (Firaun), Nabi Daud menentang Raja Jalut, dan lain-lainnya.

Agama pada mulanya melahirkan kebudayaan tinggi dan bermoral, namun penyimpangan ajaran agama menimbulkan masalah kehidupan. Daniel L. Pals, salah seorang ilmuwan Amerika Serikat dalam bukunya Seven Theories of Religionmenuliskan, para penganut Konfusius di Cina boleh jadi tidak kenal Yesus Kristus dan hidup tanpa acuan Bibel, tapi dapat menghasilkan budaya yang sangat beradab, bermoral dan tertata dengan baik, suatu masyarakat yang diidamkan oleh Yesus dan para Apostel. Tetapi di sisi lain para penganut Yesus di Eropa melakukan pertumpahan darah. Gerakan kaum Protestan di Eropa Utara menentang kekuasaan gereja, menolak penafsiran gerejawi terhadap kebenaran yang ada di Bibel, masyarakat terpecah-belah dalam berbagai aliran teologi, antara Katolik dengan Protestan, juga antar berbagai sekte dalam tubuh Kristen.

Konspirasi antara tirani para raja dengan penguasa agama, seperti yang terjadi di Eropa di Abad Pertengahan tersebut, memunculkan perlawanan kaum sipil, melahirkan pemikiran-pemikiran liberal yang menentang tirani tersebut. Muncul gagasan John Locke, Montesquieu, Rosseau, Kant dan lain-lain yang masing-masing mempunyai pendapat tentang negara, hukum, demokrasi dan masyarakat.

Prof. Roberto M. Unger dari Universitas Harvard menjelaskan kemunculan hukum modern Eropa pada waktu yang merupakan kompromi golongan kelas atas (kaum konservatif) dengan golongan kelas menengah berkuasa (kaum borjuis) yang mempunyai kepentingan mewujudkan tujuan mereka. Itulah sejarah kelahiran kapitalisme, yang selanjutnya melahirkan imperialisme di seluruh dunia, bangsa Eropa menguasai dunia.

Sistem ekonomi kapitalisme mendapat kritik dari Karl Marx. Ia adalah anak seorang pengacara Yahudi bernama Heinrich Marx di Trier, bagian wilayah Jerman yang saat itu belum bersatu. Daniel L. Pals menuliskan, pada waktu itu Prusia sedang anti Yahudi, sehingga ayah Karl Marx pindah agama menjadi Kristen “KTP”.

Tahun 1848 Karl Marx bersama dengan Engels menulis karya berjudul Cummunist Manifesto. Maka, yang disebut Bapak Komunis sebenarnya bukan hanya Karl Marx, tapi juga termasuk Friedrich Engels yang dilupakan ini. Engels merupakan anak industrialis tekstil yang sukses. Di kota kelahirannya, Wupper (yang merupakan basis organisasi penginjil di Jerman), Engels melihat kemiskinan di mana-mana yang ia nilai sebagai penindasan. Ia melihat kondisi buruk yang sama di Inggris ketika oleh keluarganya ditugasi memimpin usahanya di situ.

Engels dan Marx sama-sama melihat bukti-bukti konkrit di mana-mana tentang penindasan yang dilakukan para pendeta gereja dan kaum kapitalis di mana-mana. Marx melihat seluruh lahan pertanian dikuasai para pendeta gereja atau tuan-tuan tanah, yang dipertahankan dengan mengandalkan kekuatan para budak. Ia bertanya: Pantaskah kita heran atas kenyataan seluruh aturan moral saat itu yang selalu merujuk pada kesalehan gerejawi dengan harus mengikuti jejak para pahlawan kebajikan yang beriman dan sangat setia kepada para pemimpin yang feodal?

Pemikiran Marx dan Engels tentang agama yang ditentangnya muncul dari latar belakang penindasan kaum feodal dan borjuis yang semena-mena kepada rakyat kecil. Kaum buruh miskin di mana-mana dengan upah rendah, sementara para majikan mereka semakin lama semakin kaya, mendirikan gedung megah di mana-mana. Namun, sebagian besar karya Engels dan Marx adalah kritik terhadap sistem ekonomi kapitalisme dan prediksi sejarah ambruknya kapitalisme akibat revolusi di mana praktik-praktik penghisapan menimbulkan perlawanan guna memutus mata-rantai penderitaan masyarakat tertindas.

Ada sebuah motto menarik yang dipasang Marx dalam disertasinya. Ia menyatakan, “Aku benci semua dewa.” Alasannya, para dewa tidak mengakui bahwa “kesadaran diri manusia adalah derajat ketuhanan tertinggi.” Barangkali ini sebagai sebuah petunjuk bahwa sesungguhnya Karl Marx dalam jiwanya terdalam mengakui apa yang disebutnya sebagai “derajat ketuhanan tertinggi manusia.” Alasan ini mengingatkan pada hadits, “Man ‘arofa nafsahu, faqod ‘arofa robbahu.” (Siapa yang mengetahui dirinya, maka ia mengetahui Tuhannya). Hadits tersebut konon palsu, sebab tidak jelas asalnya. Ada yang mencurigai hadits tersebut berasal dari ajaran Yahudi. Tetapi dalam Quran dinyatakan bahwa Alloh dekat dengan manusia, lebih dekat dari urat nadi leher manusia itu sendiri (Al-Qof: 16). Barangkali dasar tersebut yang kemudian memunculkan pemahaman para sufi yang nyeleneh tentang “manunggaling kawula-Gusti” (wahdayul wujud).

Artinya, sikap Marx yang anti Tuhan adalah bukan sikap jiwanya, tapi kritik terhadap masyarakat yang dianggapnya salah dalam beragama, melihat pengalaman-pengalaman yang ada, meskipun ia mengatakan bahwa kepercayaan kepada Tuhan atau dewa-dewa adalah lambang kekecewaan atas kekalahan dalam perjuangan kelas. Daniel L. Pals sulit memahami penyebab ke-ateis-an Marx, apakah karena faktor sosial, intelektual, ataukah karena ia melihat ayahnya yang mudah berpindah agama dari Yahudi menjadi Kristen karena untuk mempertahankan karirnya sebagai pengacara di Prusia.

Dalam soal ateisme ini, saya jadi ingat rumusan Penjelasan Atas Bab II Angka I Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila TAP MPR No. II/MPR/1978 yang menjelaskan: “Dengan rumusan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa seperti tersebut pada Bab II angka I tidak berarti bahwa negara memaksa atau suatu kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sebab agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa itu berdasarkan keyakinan, hingga tidak dapat dipaksakan dan memang agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa itu sendiri tidak memaksa setiap manusia untuk memeluk dan menganutnya.” Apa artinya? Sistem hukum jaman Orde Baru mengakui ateisme.

Bicara tentang pendirian Bapak Komunis ini mungkin akan menjadikan perdebatan. Namun pemikiran pokok yang cukup humanis adalah: Komunis menentang kapitalisme yang melahirkan penindasan, penghisapan atau eksploitasi, merendahkan manusia lainnya. Marx bukan pula dewa yang mungkin mempunyai kekeliruan dalam gagasan dan teorinya.

Dalam hal tersebut Bung Karno mencoba memahamkan kepada kita atas saling caci-maki ideologis antara kaum nasionalis dan agamis dengan kaum marxis yang telah sama-sama berjuang untuk kemerdekaan Indonesia dari penjajahan kaum kapitalis-imperialis. Bung Karno mengatakan, taktik marxisme baru tidaklah menolak kerjasama dengan nasionalis dan Islamis di Asia. Taktik marxis baru mendukung gerakan-gerakan nasionalis dan Islamis. Marxis yang menolak bekerjasama dengan nasionalis dan Islamis adalah marxis yang tidak mengikuti aliran jaman.

Begitupula kaum nasionalis dan Islamis yang mengolok-olok marxis karena kejadian di Rusia (adanya pembantaian) adalah mereka yang tidak paham dengan terpelesetnya praktik-praktik tersebut. Sebab, tujuan marxisme untuk terwujudnya sosialisme dapat terjadi dengan syarat semua negara di-sosialis-kan. Itulah yang dikemukakan Bung Karno tahun 1926, sebelum Indonesia merdeka.

Bung Karno yang kita kenal sebagai salah satu perumus Pancasila itu dalam pemerintahannya pun mengijinkan berdirinya Partai Komunis Indonesia (PKI) yang menjadi partai besar di Indonesia. Barulah kemudian peristiwa pahit tahun 1965 – yang sejarahnya sudah kian terbuka lebar tentang peran CIA sebagai intelejen kapitalisme – maka terjadi trauma sosial karena persitiwa itu diberikan stigma sebagai “kekejaman komunis”. Jika kita mau bandingkan secara adil seandainya adanya kenakalan PKI waktu itu, berapa juta manusia yang dibunuh secara ilegal, yakni mereka yang dituduh sebagai anggota PKI, sesudahnya? Lalu siapa pelakunya dan mengapa kita tidak menganggapnya sebagai “kejahatan yang besar.”? Semua itu jelas karena politik Indonesia terpengaruh oleh politik kapitalisme.

Tulisan ini sekaligus sebagai kritik sistem hukum Indonesia yang mengkriminalisasi penyebaran ajaran Komunisme/Marxisme/Leninisme – dengan UU No. 27 Tahun 1999 - yang dinilai berbahaya dalam praktek kehidupan politik dan kenegaraan karena menjelmakan diri dalam kegiatan-kegiatan yang  bertentangan dengan asas-asas dan sendi-sendi kehidupan bangsa Indonesia yang bertuhan dan beragama serta telah terbukti membahayakan kelangsungan hidup bangsa Indonesia. Penciptaan hukum seperti itu selain tidak memahami pemikiran Bung Karno sebagai pencetus Pancasila, juga sebagai bentuk penjajahan ideologis terhadap ideologi yang selama ini ditoleransi oleh Bung Karno dengan konsep “neo-marxisme yang bekerjasama dengan nasionalis dan agamis menentang imperalialisme.”

Artinya, justru Pancasila itu lebih dekat dengan komunisme, sama-sama menentang kapitalisme dan imperialisme.

Justru Indonesia ini dijajah kekuatan kapitalisme selama ratusan tahun, melihat pula kapitalisme melakukan imperialisme di seluruh dunia, tetapi tidak dilakukan pelarangan penyebaran dan penganutan ideologi kapitalisme tersebut. Mengapa? Sebab dalam praktiknya memang negara Indonesia telah dikuasai kapitalisme. Bangsa ini hanya terima menjadi boneka. Lain dengan contoh perjuangan revolusi sosialisme di Amerika Latin yang tak kenal lelah melawan hegemoni kapitalisme. Padahal kita punya Pancasila dengan konsep sosialisme Pancasila yang menetang penjajahan di muka bumi?

Sebagai orang Islam yang diperintahkan untuk adil (innalloha ya’muru bil ‘adl), tentu saya malu dengan tingkah politik rezim yang tidak adil, tidak mampu memahami maksud pendiri negara ini. Makin lama kita makin didekatkan pada kapitalisme, liberalisme, dengan sistem politik, ekonomi dan hukum yang liberal, yang semua itu ditentang para pendiri negara ini.

Apakah itu bukan pengkhianatan kepada Pancasila?

Penulis Subagyo

ps:Lalu kalo Indonesia mengkhianati Pancasila, paham negara islam tidak, komunis juga tidak.. jadi Indonesia Yahudiisme dong? Karena semua aliran buatan dan hasil campur tangan Yahudi Zionist.Bingung kan negara ini mau jadi apa? #randomcountry alias negara antah berantah.... begitu kata Justin Bieber

- See more at: http://www.voa-islam.com/read/smart-teen/2013/12/07/28001/pancasilaisme-dekat-komunisme-lawan-kapitalisme-tapi-faktanya/#sthash.JT3r4PQJ.dpuf, akses tgl 07/12/2013.
More aboutPancasilaisme Dekat Komunisme, Lawan Kapitalisme. Tapi Faktanya?

Sistem Ekonomi Sosialis

Posted by Zam on Wednesday, December 4, 2013

Sistem ekonomi sosialis merupakan bentuk resistensi dari sistem ekonomi kapitalis yang dituding sebagai penyebab tidak tercapainya kesejahteraan yang merata. Ia adalah kebalikan dari sistem ekonomi kapitalis yang sepenuhnya menyerahkan siklus ekonomi pada mekanisme pasar yang berkembang. Sedangkan dalam sistem ekonomi sosialis, Pemerintah mempunyai andil besar dalam mengatur roda perekonomian di sebuah negara. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai pengawasan terhadap rantai perekonomian masyarakat.

Penganut kedua sistem ini sama-sama mengklaim bahwa salah satu sistem lebih baik dari yang lain, membuat rivalitas antar sistem ini menjalar ke berbagai aspek kehidupan lainnya, mulai dari politik, sosial, budaya sampai pada gilirannya berubah menjadi sebuah ideologi yang menjadi pedoman dan spirit dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Pandangan sosialis mulai nampak pada abad ke sembilan belas, mereka telah mati-matian memerangi pandangan-pandangan ekonomi kapitalis. Munculnya sosialisme adalah akibat kedzaliman yang diderita masyarakat karena sistem ekonomi kapitalis serta beberapa kekeliruan yang terjadi di dalamnya.

Selanjutnya, Sistem ekonomi sosialis mengikuti tiga prinsip yang berbeda dengan sistem ekonomi sebelumnya yaitu :

Pertama, Mewujudkan kesamaan secara riil.

Kedua, Menghapus kepemilikan individu sama sekali atau sebagian saja.

Ketiga, Mengatur produksi dan distribusi secara kolektif.

Sejarah Sistem Ekonomi Sosialis

Eropa baru saja menyelesaikan ‘perang’ antara kapitalisme dan rezim feodalisme. Sebelumnya, sejarah masyarakat eropa lebih didominasi oleh kaum bangsawan dan feodal. Kelas masyarakat inilah yang telah lama menancapkan kuku penjajahannya pada masyarakat bawah. Namun, setelah sekian lama tertindas, akhirnya lahirlah kekuatan baru bernama kaum kapitalis yang berusaha meruntuhkan otoritarianisme kaum feodal. Hal ini ditandai dengan lahirnya Renaisance di eropa. Era ini menandai lepasnya masyarakat eropa dari ‘zaman kegelapan’ yang lebih didominasi oleh kaum feodal.

Era pencerahan dimulai dengan ditemukannya mesin cetak oleh Johan Guttenberg pada abad ke-15 M. Hadirnya mesin cetak ini mampu merubah kondisi sosial-budaya masyarakat eropa saat itu, terutama dalam produksi. Dengan mesin cetak, produksi buku akhirnya bisa dilakukan secara massal, setelah sebelumnya bersifat manual menggunakan tangan atau menulis di atas batu. Pola manual ini jelas sangat melelahkan dan tidak efektif untuk meningkatkan produksi tulisan.

Ditemukannya mesin cetak ini merupakan fenomena revolusioner yang mampu mendobrak kebutuhan bahan produksi selama berabad-abad. Mesin cetak adalah faktor utama terjadinya akselerasi peningkatan produksi buku dan bacaan. Fenomena ini berimplikasi pada lahirnya era komunikasi. Dengan banyaknya kuantitas buku yang dicetak, semua orang terpicu untuk saling tukar ide dan pikiran.

Maraknya diskusi dan pertukaran ide ini ternyata membawa akibat fatal terhadap rezim bangsawan. Budaya kritis masyarakat semakin terasah, sehingga mampu membongkar segala macam kebusukan dan kebobrokan kaum feodal, sekaligus meruntuhkan mitos surgawi yang diwartakan para raja. Revolusi teknologi itulah yang akhirnya menjadi titik tolak terjadinya perubahan-perubahan di masyarakat. Fakta yang lebih jelas sebagai konsekuensi munculnya revolusi teknologi ini melahirkan apa yang dinamakan dengan Engels Revolusi Industri, yaitu terjadinya perubahan mendasar dari sistem pertanian ke sistem perindustrian. Ketika revolusi industri terjadi, selanjutnya diikuti dengan lahirnya revolusi sosial, salah satunya adalah Revolusi Perancis. Penindasan terhadap kaum buruh oleh kaum Borjuis inilah yang mampu mendorong para pemikir untuk berupaya melahirkan sistem baru yang mampu mengangkat keterpurukan kaum proletarian dari penindasan kaum kapital. Salah satu tokoh yang peduli dengan nasib kaum buruh pada waktu itu adalah Karl Marx yang menawarkan konsep sistem ekonomi sosialis.

Sistem masyarakat yang ada pada masa Karl Marx, sebenarnya merupakan akibat dari kondisi ekonomi, dimana perubahan-perubahan yang dialami sistem tersebut semata-mata bisa dikembalikan kepada satu sebab, yaitu perjuangan kelas (class struggle) dalam rangka memperbaiki kondisi kelas tersebut secara materi. Sejarah telah menceritakan kepada kita, bahwa perjuangan ini ketika itu selalu berakhir dengan satu bentuk, yaitu menangnya kelas yang lebih dominan jumlahnya dan lebih jelek kondisinya atas kelas orang-orang kaya dan kelas yang jumlahnya lebih sedikit. Inilah yang kemudian disebut dengan hukum Dialektika Sosial. Dimana, hukum ini masih bisa berlaku untuk masa-masa mendatang, sebagaimana hukum ini sebelumnya pernah terjadi.

Ekonomi sosialis memiliki beberapa prinsip dasar. Diantaranya adalah otoritas suatu negara untuk menguasai semua aset masyarakat. Di sini regulasi seputar ekonomi serta kepemilikan harta dilakukan oleh pemerintah. Prinsip lain adalah keseteraan ekonomi. Maksudnya, masyarakat tidak bekerja untuk pribadi, mereka hanyalah pegawai pemerintah yang gajinya berasal dari keringat mereka sendiri. Prinsip lainnya adalah tentang disiplin politik. Di negara yang menganut sistem ekonomi sosialis, parlemen sebagai lembaga yang berhak membuat konstitusi dan regulasi dikuasai oleh kaum proletarian atau kaum buruh. Mereka ditempatkan oleh partai-partai guna membuat regulasi yang cenderung berpihak pada kaum buruh sebagai representasi kaum sosialis.

Kelebihan dan Kelemahan Sistem Sosialis

Dalam praktiknya, sebuah sistem ekonomi yang diterapkan guna mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat tidak lepas dari dua sisi yang bertolak belakang, yaitu kelebihan dan kekurangannya. Demikian juga dalam sistemekonomi sosialis. Diantara kelebihan sistem ekonomi sosialis adalah disediakannya kebutuhan pokok bagi masyarakat, hal itu didasarkan perencanaan negara, dan semua hasil produksi akan dikelola oleh negara.

Sedangkan kekurangan sistem ekonomi sosialis antara lain; kebebasan ekonomi yang terbatas, hak dan kemampuan individu kurang dihargai, menurunnya semangat dan gairah untuk berkreasi dan berinovasi, pemerintah cenderung bersikap otoriter, dan terabaikannya pendidikan moral masyarakat.


Oleh: Jumal Ahmad
sumber : http://www.fimadani.com/sistem-ekonomi-sosialis/, akses tgl 05/12/2013.
More aboutSistem Ekonomi Sosialis

Membandingkan Nafsiah Mboy dan Tri Rismaharini

Posted by Zam on Tuesday, December 3, 2013

Tri Rismaharini
Jakarta (Jamban Panyileukan) -- Betapa Surabaya dikenal sebagai kota Pahlawan. Karena, di pusat kota Surabaya, berlangsung pertempuran hebat, melawan sekutu.

Dengan pekik takbir, "Allahu Akbar", yang begitu menggema, meluluhkan pasukan sekutu yang medarat di Surabaya, dan bahkan semangat "arek" itu, berhasil membunuh dua orang jendral sekutu, yaitu Jendral AWS Mallaby dan Hawthorn.

Tetapi, Surabaya sesudah berhasil membebaskan dari penjajahan Sekutu, di era kemerdekaan, Surabaya di jajah oleh serbuan yang tidak kalah dahsyatnya, dibandingkan dengan pasukan sekutu, yaitu : pelacur.

Di Surabaya terkenal dengan komplek pelacuran terbesar di Asia, Dolly. Dolly nama seorang germo berdarah Belanda. Praktek pelacuran di kota Surabaya, terutama di komplek Doly itu sudah berlangsung cukup tua.

Maka, Kota Surabaya saat memperingati Hari Pahlawan 10 November dengan mendeklarasikan diri sebagai kota bebas prostitusi. Deklarasi digelar di Taman Bungkul, Ahad, 16/11/2013.

Meskipun, Kota Surabaya silih berganti pejabat, tak satupun yang memiliki tekad baja, menutup komplek pelacuran Dolly. Mereka seperti menutup mata, tempat maksiat, dan terus menjaga kelestarian tempat mesum itu. Sungguh sangat ironis.

Membiarkan tempat pelacuran yang membiakkan segala penyakit sosial, penyakit penyakit pisik seperti HIV, dan penyakit kotor laiannya, yang mematikan. Bahkan, perbuatan "fahisah" itu, membuat laknat dan tidak turunnya rahmat bagi penduduk sekitar (Surabaya).

Sekarang, hadir pemimpin baru di kota Surabaya yang memiliki hati nurani, dan memiliki komitmen yang teguh, membersihkan kotoran dari kota Surabaya. Bukan hanya sampah, tetapi juga tempat-tempat maksiat.

Tri Rismaharini, Walikota Surabaya, justru melakukan langkah-langkah berani, menutup semua tempat pelacuran, termasuk Dolly. Tri Rismaharini dalam sambutannya mengatakan, orang tua yang tinggal di kawasan lokalisasi di Kota Surabaya harus memperhatikan masa depan anak-anak mereka, ungkapnya.

"Masa depan anak-anak harus jadi prioritas. Orang tua jangan hanya memikirkan perut saja tetapi merugikan anak-anak," katanya. Kegiatan yang digelar bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan ini juga dihadiri ratusan elemen masyarakat yang mendukung kampanye Surabaya bebas prostitusi.

Pemerintah Kota Surabaya, lanjut Tri Rismaharini, serius melakukan rehabilitasi terhadap wilayah lokalisasi. Sejauh ini, sudah ada tiga lokalisasi yang sudah ditutup, yakni lokalisasi Tambakasri, Klakah Rejo, dan juga Dupak Bangunsari.

Ke depannya, lanjut dia, Pemkot Surabaya berencana menutup lokalisasi Sememi pada Desember 2013 dan akan melakukan rehabilitasi terhadap kawasan lokalisasi Jarak dan Dolly pada 2014.

Wali kota menggarisbawahi bahwa rehabilitasi lokalisasi di Surabaya harus dilakukan khusus untuk rehabilitasi lokalisasi Dolly. Wali kota menyebut sedang melakukan persiapan matang. Bahkan, Walikota Surabaya Tri Rismaharini mempersiapkan dana puluhan miliar yang digunakan menutup lokasi pelacuran di Surabaya. Sungguh mulia langkah yang dilakukan Tri membebaskan Surabaya dari maksiat.

Terkait hendak diapakan kawasan Dolly setelah direhabilitasi nanti, wali kota menegaskan bahwa Pemkot akan menjadikan area lokalisasi yang berada di tengah kota ini sebagai sub- distrik unit pengembangan. Wali kota meyakinkan agar warga yang tinggal di sekitar lokalisasi Dolly, tidak khawatir dengan adanya rencana rehabilitasi yang dilakukan Pemkot Surabaya.

Mantan kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya ini mencontohkan warga di kawasan lokalisasi Dupak Bangunsari yang awalnya sempat tidak setuju dengan penutupan, kini merasakan dampak positifnya.

"Warga di sekitar Dolly tidak usah bingung. Lihat warga di Dupak Bangunsari, sekarang produk UKM mereka sudah sampai luar negeri. Saya juga terkejut. Kalau ada niat baik, Tuhan pasti bantu," katanya.

Sebaliknya, Menteri Kesehatan Nafsiah Mboy, justru berbuat sebaliknya, memberikan ajang bagi para manusia yang sesat dan durjana dengan membagi-bagikan kondom gratis, dan gagasan Nafsiah Mboy yang sangat kontorversi, sudah dia lakukan usai dilantik oleh Presiden SBY menjadi menteri. Sungguh berbeda antara Tri Rismaharini dan Nafsiah Mboy.

Memang, berbeda antara Tri Rismaharini dan Nafsiah Mboy, Tri Rismaharini seorang Muslimah, sedang Nafsiah Mboy seorang murtadin, dan menjadi katolik. Nafsiah sangat berkepentingan menghancurkan Muslim Indonesia dengan cara membagi-bagikan kondom, sebagai simbol kebebasan seks.

Dengan kebebasan seks itu, Muslim pasti akan hancur, bukan hanya terkena penyakit kotor, termasuk HIV, tetapi semakin sedikit nantinya yang menikah dengan jalan yang benar, kemudian di mana-mana terjadi seks bebas, seperti di Barat.

Kemudian pertumbuhan penduduk Muslim menjadi minus, karena yang ada hanyalah seks bebas, tanpa adanya ikakatan pernikahan. Muslim menjadi lemah aqidah, hilang ghirahnya, dan  loyo ibadahnya, rusak akhlaknya, dan akan mudah dijajah oleh Barat.

Itulah misi Nafsiah Mboy yang menjadi agen Barat, dan sengaja di pasang menjadi Menteri Kesehatan Indonesia. Tujuan hanyalah untuk merusak Muslim. Dengan seks bebas. Wallahu'alam. *mashadi.

- See more at: http://www.voa-islam.com/read/opini/2013/12/03/27937/membandingkan-nafsiah-mboy-dan-tri-rismaharini/#sthash.ArnN8nRi.FTPxPkRy.dpbs, akses tgl 04/12/2013.

More aboutMembandingkan Nafsiah Mboy dan Tri Rismaharini

Tiga Celah Kapitalisme Masuk Indonesia Melalui Agen Neo Liberal

Posted by Zam on Monday, December 2, 2013

JAKARTA (Jamban Panyileukan) -- Ada tiga misi luhur ketika Indonesia merdeka 68 tahun silam, yaitu kemandirian di bidang ekonomi, berdaulat di bidang politik, dan berkepribadian di bidang budaya. Namun semboyan yang di kenal sebagai Trisakti kemerdekaan ini kini sudah dilupakan oleh pemimpin Indonesia.

Menurut pengamat ekonomi politik, Hatta Taliwang, cengkraman asing terhadap Indonesia kini telah menuju pada titik sempurna. Hal itu karena oleh adanya pintu-pintu masuk utama bagi kapitalisme global yang akhirnya mencengkram kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Termasuk karena karena lemahnya implementasi Trisakti. 

Kerja keras Umat Islam terdahulu, para Ulama & muhajid  bahu membahu hingga tetes darah menegakkan izzah yang sepantasnyalah sebagai pemilik saham kemerdekaan Indonesia dari para penjajah. Namun pengkhianatan demi pengkhianatan terus terjadi hingga kini, sejak di batalkannya piagam Jakarta dan menghapus 7 Kata tentang kewajiban menegakkan syariat Islam bagi pemeluknya, kini Polwan berjilbab cuma berumur sepekan dari pernyataan Kapolri Jend Pol Sutarman.

Sejarah mencatat, sekitar dua bulan sebelum proklamasi, atau Mei 1945, para pendiri negara mempersiapkan perangkat-perangkat yang dibutuhkan sebuah negara yang berdaulat. Dan pada 28 Mei  dibentuklah suatu badan yang diberi nama BPUPKI, yang diketuai Dr. Radjiman Wediodiningrat.

Badan yang punya anggota sebanyak 62 orang ini, pada sidang pertama (29 Mei 1945) membahas apa dasar negara yang akan terbentuk nanti. Dari 62 anggota, 35 orang yang berlatar belakang Islam menghendaki Islam sebagai dasar negara. Selebihnya, kaum nasionalis atau kebangsaan tidak menginginkan peran agama dalam negara.

Setelah melalui perdebatan yang seru dan panjang, dan dicapainya kompromi politik, pada 22 Juni  1945 akhirnya panitia ini berhasil merumuskan suatu konsensus politik yang mencerminkan dan mewadahi aspirasi semua golongan. Konsensus para  founding father  tesebut kini kita kenal dengan nama Piagam Jakarta.      

Pada 18 Agustus 1945, atau sehari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Bung Hatta, mengusulkan agar tujuh kata dalam Piagam Jakarta, yakni: “dengan kewajiban  syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”, dihilangkan dari teks Piagam Jakarta itu. Hal ini karena ada keberatan dari tokoh-tokoh Indonesia dari bagian timur yang tidak menghendaki adanya kata-kata yang kesannya hanya menyangkut satu golongan saja dari masyarakat Indonesia, kendati pun golongan itu mayoritas.

Konon tokoh-tokoh dari bagian timur negeri ini mengancam memisahkan diri dari negara yang akan dibentuk itu apabila ketujuh kata tersebut  tidak dicabut dari Piagam Jakarta yang merupakan Pembukaan UUD 45. Di samping itu ada kekhawatiran bahwa pihak Belanda yang berusaha untuk menguasai Indonesia kembali, akan memanfaatkan kelompok yang tidak menghendaki ketujuh kata tersebut. Jika demikian, maka persatuan dan kesatuan Indonesia bisa pecah (Silalahi, 2001).

Tiga Celah Kapitalisme Masuk Indonesia Melalui Agen Neo Liberal

"Ada tiga pintu. Pertama, lewat kebijakan ekonomi via LOI, World Bank, IMF, ADB, dan lain-lain. Dengan agen utama mafia Barkeley dan pendukung neolibnya," ujar Hatta dalam diskusi bertajuk 'Fakta Liberalisasi Bertentangan dengan Pembukaan UUD 1945' di Kampus Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta.

Revolusi fisik dan hukum dari rakyat wajib di kedepankan, karena semua pintu masuk utama bagi kapitalisme global yang mencengkram melalui ini sudah berjalan, berikut indikasinya :

1) Yang pertama melalui kebijakan ekonomi via LOI, World Bank, IMF, ADB, dan lain-lain. Para aktor dan agen utama tak lain berasal dari mafia Barkeley dan pendukung neoliberalnya.  output itu semua adalah mayoritas rakyat terlempar jadi miskin. Sumber daya alam Indonesia dikuras habis untuk memperkaya negara tertentu dan memakmurkan sebagian antek serta aktor aktor dalam dunia bisnis di tanah air. Sebaliknya rakyat Indonesia terjajah secara ekonomi terutama umat Islam.

2) Lalu yang kedua melalui kebijakan politik yaitu amandemen UUD 1945, UU yang dibiayai asing, agen-agen asing berkeliaran di hampir semua instansi. Semua LSM yang ditunjuk diperbantukan untuk mempengaruhi opini publik, kebijakan pemerintah dan merangsek ke lembaga negara. Contohnya saja

"Melaui KPU (Komisi Pemilihan Umum) yang bekerjasama dengan asing yang melakukan screening terhadap partai, tokoh, dan lainnya yang boleh lolos untuk kontestasi pemilu. Outputnya, yang masuk ke DPR atau DPRD mayoritas ideologinya tidak jelas, tidak punya visi kenegarawanan, transaksional, dan bermental karyawan politik. Ini menyebabkan kita terjajah secara politik, karena aktor-aktor politik yang tidak bermutu hingga Indonesia dikendalikan penguasa global," jelas Hatta Taliwang.

3) Terakhir, cengkraman asing menyusup melalui kebijakan sosial, agama, budaya, dan pendidikan yang semakin liberal. 

Masalah kegelisahan umat Islam pada lembaga UIN yang condong kepada Sepilis (Sekularisme, Pluralisme, Liberalisme) belum tuntas adanya. Bahkan kini semakin berani, buktinya bible bebas berkeliaran di lembaga pendidikan Islam yang seharusnya menjadi benteng terakhir dalam memperkuat aqidah umat. Ini sama saja 'gol bunuh diri' di kandang sendiri! 

Contoh saja, di UIN Jakarta Fakultas Ushuludin yang esensinya menjadi fakultas pengemban dakwah Islam ini malah menjebol gawang sendiri dengan mengundang agama - agama lain yang telah jelas kesesatan dan permusuhannya kepada Islam dan mencoba mendakwahkan agama mereka kepada para mahasiswa UIN. 

Pada salah satu stand agama Kristen tanpa sungkan membagi-bagikan paket berupa Al Kitab (Injil), Komik Kristen, Mazmur, dan buku Kristen kepada para mahasiswa yang mengunjungi stand tersebut dengan terlebih dahulu didakwahi agama Kristen.

Ditopang siaran televisi, alat telekomunikasi yang makin canggih dan dikuasai mafia cina 80% rasanya menjadi tidak sulit. Hasilnya memang ada yang positif tapi banyak juga yang negatif. Manusia-manusia pintar makin banyak tapi nuraninya kering, hedonis, korup, exibishionist, serakah, mudah diadu domba, fanatik sempit, sukuisme, dan egois. Secara sosial budaya, kita tidak berkepribadian, kita mental terjajah. [ak/imam/voa-islam.com]

- See more at: http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2013/11/30/27877/tiga-celah-kapitalisme-masuk-indonesia-melalui-agen-neo-liberal/#sthash.LLXgOxic.dpbs, akses tgl 03/12/2013.
More aboutTiga Celah Kapitalisme Masuk Indonesia Melalui Agen Neo Liberal

9 Dosa Tempo dalam Kasus Sitok Srengenge

Posted by Zam

Tempo, media yang dekat dengan Sitok Srengenge, aktivis Salihara, rupanya menggunakan beragam cara untuk membela penjahat. Sitok yang menurut BEM FIB UI, telah melakukan pemerkosaan seorang mahasiswi UI ingin dicitrakan sebagai sosok yang baik dan juga bertanggungjawab.  Terkiat dengan kasus Sitok Srengenge, kalau kita cermati berita-berita Tempo, kita akan menemukan dosa-dosa Tempo dalam jurnalisme. Diantaranya:

Pertama, menjadi humas (PR) Sitok Srengenge. Dalam Ilmu Komunikasi ada dua studi yang cukup popular, jurnalistik dan Humas (PR). Dalam jurnalistik, “hadist” nya adalah “Katakan yang benar walau pahit”, dalam humas (PR), “hadist”nya adalah “Katakan yang baik atau diam”. Nah, dalam kasus ini, kita bisa lihat bagaimana Tempo justru menjadi corong Sitok Srengenge dan keluarganya. Menampilkan berita-berita yang baik, misalnya Sitok melakukan perbuatan atas dasar suka sama suka, tidak benar menawarkan miras, siap bertanggungjawab, ditambah digambarkan bagaimana istrinya yang tetap setia. Ini dosa Tempo. Kita perlu bertanya, Tempo itu media atau perusahaan PR (humas)?

Kedua, berpihak pada penjahat. Dalam kasus Sitok Srengenge, begitu kuat pembelaan Tempo terhadapnya. Tempo, kerap dikenal “Menyuarakan yang bisu”. Tapi kali ini tidak, tak ada suara korban dalam berita-berita yang ditampilkan. Dalam prinsip jurnalistik yang kita kenal, wartawan memiliki kewajiban utama terhadap suara hatinya. Dan Tempo tidak melakukannya, malah membabi-buta membela Sitok. Menyedihkan.

Ketiga, tidak mencari kebenaran. Tempo tidak berusaha mencari kebenaran tentang sebuah kasus atau peristiwa. Dalam kasus Sitok, yang terjadi adalah pemberitaan yang melulu menguntungkan Sitok Srengenge. Tidak ada upaya bagaimana wartawan melakukan usaha serius untuk membuka kedok, membuka tabir kisah yang sebenarnya.

Keempat, tidak melayani masyarakat. Padahal, loyalitas pertama jurnalistik adalah melayani masyarakat. Yang ada, Tempo hanya melayani satu pihak, membela satu orang yang dekat dengan mereka yaitu Sitok Srengenge, sebagai penyair yang diagung-agungkan komunitas Salihara, sebuah komunitas yang dekat dengan Tempo.

Kelima, tidak disiplin verifikasi. Dalam kasus Sitok Srengenge, tidak ada upaya Tempo untuk menggali lebih jauh tentang saksi-saksi yang kemungkinan juga menjadi korban “rayuan” Sitok. Juga tidak melakukan misalnya menyingkap kasus dengan menggali beragam sumber. Yang ada hanyalah klarifikasi Sitok Srengenge untuk membersihkan namanya.

Keenam, tidak independen. Jelas, kalau kita baca berita-berita Tempo tentang kasus Sitok Srengenge, yang ada adalah sumber-sumber dari Sitok Srengenge sendiri. Sitok yang selalu melakukan bantahan, termasuk  pernyataan sikap BEM FIB UI yang dikatakannnya sebagai “Tidak Benar”

Ketujuh, ungkap fakta yang tak relevan. Dalam kasus Sitok, Tempo begitu bernafsu mengutip istri Sitok yang akan tetap setia mendampingi suaminya. Dalam kasus ini, bertentangan dengan prinsip jurnalistik yaitu membuat sesuatu yang penting menjadi menarik dan relevan. Usaha Tempo itu hanya menguntungkan Sitok. Tapi dramatisasi keluarga itu sangat tidak relevan dengan kasus pemerkosaan yang dituduhkannya.

Kedelapan, tidak proporsional. Artinya, berita yang dominan hanya menempatkan sosok Sitok yang bertanggungjawab, baik, juga didukung oleh istrinya yang setia. Lantas, mana suara korban? Mana fakta dimana korban mendapatkan terror yang membuatnya trauma, terror yang menjadikan korban pemerkosaan sempat melakukan percobaan bunuh diri.

Kesembilan, tak berani melawan penguasa. Dalam industri media, penguasa bisa diartikan penguasa (pemerintah) maupun penguasa media itu sendiri. Nah, Sitok adalah sekongkol Goenawan Mohammad. Jelas wartawan Tempo dalam kasus ini benar-benar tak punya daya (loyo) untuk mengungkap kasus yang sebenarnya. Termasuk, sebenarnya akan menjadi fakta yang asyik jika desas-desus yang mengatakan GM juga melakukan hal yang sama (hanya tidak ketahuan) juga diungkap ke publik. Tempo berani? Pasti tak punya nyali.

Begitulah, dosa-dosa Tempo. Wartawan dan pegiat Tempo telah melakukan pilihan yang keliru itu. Apa boleh buat, Tempo mungkin bisa sesumbar sebagai media yang besar. Tapi, apakah mampu melawan jurnalisme warga yang menjadikannya musuh bersama? Kita tunggu saja.(Yons Achmad/wasathon)

Ditulis : Yons Achmad
sumber : http://wasathon.com/humaniora/view/2013/12/02/9-dosa-tempo-dalam-kasus-sitok-srengenge, akses tgl 02/12/2013.
More about9 Dosa Tempo dalam Kasus Sitok Srengenge

Mulai 1 Januari 2014, KTP, KK, dan Akte Kelahiran Gratis

Posted by Zam on Sunday, December 1, 2013

Jakarta – Jamban Panyileukan: Terhitung mulai 1 Januari 2014, pemerintah akan membebaskan biaya administrasi untuk pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK), akta kelahiran, dan akta kematian. Pemerintah mengingatkan aparat yang masih memungut biaya diancam dengan pidana 2 tahun penjara atau denda seberat-beratnya Rp25 juta.

“Kalau masih ada yang memungut biaya, maka itu pungli (pungutan liar),” tegas Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Gamawan Fauzi usai melantik Dirjen Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri Djohermansyah Djohan menjadi Penjabat Gubernur Riau, di Gedung Sasana Bakti, Kemendagri, Jakarta, Kamis (21/12013) pagi.

Mendagri menjelaskan semua penerbitan dokumen kependudukan dikeluarkan oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) di seluruh kabupaten/kota di Indonesia. Karena itu, warga tidak perlu lagi ke pengadilan hanya untuk mendapatkan Akta Kelahiran.

“Akta Kelahiran yang menerbitkan Dinas Dukcapil. Jadi, tidak perlu lagi ke pengadilan yang membutuhkan waktu satu tahun untuk pembuatannya,” kata Gamawan.

Menurut Mendagri, pihaknya juga telah memberikan pelatihan kepada seluruh pegawai Disdukcapil tentang bagaimana mempergunakan mesin pencetakan e-KTP.

Adapun mengenai masa berlaku KTP yang semula 5 (lima) tahun, dengan berlakunya KTP Elektronik (e-KTP), lanjut Gamawan, mulai 1 Januari 2014, diperpanjang sampai seumur hidup. “Syaratnya, tidak ada perubahan elemen data dalam KTP tersebut,” ungkap Mendagri Gamawan Fauzi.

Mendagri menjelaskan pembebasan biaya administrasi kependudukan ini merupakan hasil dari revisi Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan (Adminduk), yang telah disepakati baik oleh Komisi II DPR maupun Mendagri. [KbrNet/SetKab/Inilah.com/adl]

by KabarNet
sumber : http://kabarnet.wordpress.com/2013/11/21/mulai-1-januari-2014-ktp-kk-dan-akta-kelahiran-, akses tgl 02/12/2013.
More aboutMulai 1 Januari 2014, KTP, KK, dan Akte Kelahiran Gratis

Modus `Nyentrik` Pengemis di Arab, Pemuda Nyamar Jadi Emak-emak!

Posted by Zam on Thursday, November 28, 2013

Jamban Panyileukan, Jeddah : Gara-gara Walang bin Kilon (54) dan Sa`aran (60), pengemis kini jadi sorotan. Bagaimana tidak, saat terjaring razia di bawah jalan layang Pancoran, Jakarta Selatan, Petugas Dinas Sosial Jakarta Selatan menemukan uang Rp 25.448.600 di dalam gerobak mereka. Dibungkus plastik kumal. Tajir benar!

Walang mengaku, sebagian uang itu hasil mengemis. Untuk biaya naik haji. Pria paro baya itu juga masih memendam cita-cita: pengin punya mobil. "Ya, habis naik haji mau punya mobil. Gengsi, masa sudah haji nggak punya mobil," kata pria asal Subang itu. 

Tak berniat mengeneralisasi, tapi kasus duo Walang-Sa`aran membuktikan tak semua pengemis menengadahkan tangan karena terdesak kebutuhan. Sebagian menganggap menjadi peminta-minta adalah profesi. Dan ternyata, ini fenomena internasional.

Masalah pengemis juga bikin mumet pemerintah Arab Saudi. Tahun lalu, misalnya, Pemerintah Jeddah menangkap hampir 11 ribu pengemis. Penangkapan juga dilakukan di sejumlah kota lain di Negara Bagian Petrodollar itu. "Sangat disesalkan jumlah pengemis di Jeddah terus meningkat dari hari ke hari. Kami menangkap 5 sampai 10 pengemis sehari di satu lokasi. Kami tahu mengemis adalah fenomena internasional yang tak bisa dihapus, namun setidaknya itu bisa diminimalisasi," demikian Liputan6.com kutip dari Arab News.

Hal unik terjadi di Kota Kharj, yang berjarak 80 kilometer sebelah selatan ibukota Riyadh. Modus pengemis ternyata tak hanya tampang lusuh, cerita menyedihkan, atau pura-pura cacat. Aparat menahan seorang pemuda yang menyaru sebagai perempuan, mengemis di dekat lampu merah.

Petugas yang curiga dengan gerak-gerik pengemis itu lalu memeriksa identitasnya. Maka, terbongkarlah kedoknya. Rupanya pemuda itu menyamar sebagai perempuan tua lusuh agar para pengemudi kasihan dan memberinya uang.

Kasus serupa terjadi di Arab Saudi, seorang pria mengemis selama 5 bulan, menyamar sebagai perempuan dan memakai abaya -- jubah panjang lengkap dengan cadar. Menyaru sebagai ibu-ibu.

Seperti dikutip dari Gulf News, kepada polisi, ia mengaku mendapatkan uang sebesar 200 riyal atau Rp 636 ribu per hari. Hasil mengemis akan melonjak tajam pada hari Jumat, saat para jemaah pria melaksanakan Salat Jumat.

Tak hanya di Saudi, kejadian mirip juga ada di Kuwait City. Pada tahun 2012 aparat menangkap ekspatriat yang menyaru sebagai perempuan. Untuk mengais recehan.

Pelaku menipu orang-orang yang berada di kawasan makmur Salmiya. Penyamarannya terbongkar saat seorang perempuan yang memberinya uang merasa 'ada yang tak beres' dengan pengemis itu. Suami si perempuan langsung melapor ke polisi dan menahan pengemis itu. Pelaku mengaku mendapatkan uang 25 dinar Kuwait atau lebih dari Rp 1 juta.

Aktor Terkenal Dikira Pengemis


Salah sangka terhadap pengemis juga terjadi di Melbourne, Australia. Bedanya, yang dikira pengemis ternyata aktor terkenal. Seorang pengguna jalan memberi uang 1 dolar ke pria bertampang awut-awutan berjongkok di depan Comedy Theatre pada tahun 2010.

Padahal pria bertampang memelas itu adalah Sir Ian McKellen, aktor Inggris yang punya reputasi internasional. McKellen ada di Melbourne berlatih pementasan karya klasik Samuel Beckett, "Waiting For Godot".

"Saat gladi resik "Godot" aku berjongkok di depan Comedy Theatre, mencari udara segar, topiku dalam kondisi terbuka di pangkuanku," kicau McKellen di Twitter, seperti dimuat Huffington Post, 13 November 2013.

"Melihat pria tua tak beruntung, seorang pejalan kaki berkata, 'butuh bantuan, Saudara? Ia meletakkan uang 1 dolar di topiku."

Penasaran, McKellen kembali mengulang apa yang ia lakukan. Menjelma menjadi karakternya yang kasihan di "Waiting for Godot", duduk di bangku di depan gedung teater. Wow! Hanya dalam sekejap, uang 2 dolar ada di tangan.

Bagikan Uang Dikira Mengemis


Apa yang dilakukan bapak 3 anak asal Aylesbury, Inggris juga disalahartikan. Dickon Johnstone namanya, duduk di depan Cafe Nero, dekat pintu masuk pusat perbelanjaan Friars Square. Sambil bawa papan kardus.

Orang-orang mengiranya sebagai pengemis dan memberinya uang. Padahal ini yang tertulis di papan kardusnya: "Aku punya pekerjaan, rumah, mobil, dan kesehatan yang baik. Maukah Anda menerima beberapa poundsterling dari saya untuk membeli kopi?"

Hari itu, ia membagikan 36 poundsterling pada orang-orang yang melintas. "Setelah melakukan ini aku memutuskan untuk memberikan uang dengan jumlah yang sama pada yayasan Children in Need," kata dia seperti dikutip dari The Bucks Herald. (Ein)

Oleh Elin Yunita Kristanti
sumber : http://news.liputan6.com/read/759616/modus-nyentrik-pengemis-di-arab-pemuda-nyamar-jadi-emak-emak, akses tgl 29/11/2013.
More aboutModus `Nyentrik` Pengemis di Arab, Pemuda Nyamar Jadi Emak-emak!

Pengemis Hasilkan Rp 754 Juta/Tahun, Tinggal di Flat Rp 4,5 M

Posted by Zam

Jamban Panyileukan, London : Penampilan Simon Wright memelas, pakaiannya compang-camping dan lusuh. Ia duduk di trotoar depan Bank NatWest di Putney High Street, London. Di sampingnya ada anjingnya yang kurus, juga kantung tidur yang kotor. Tangan pria paro baya ini memegang kertas yang ditulis tangan "tunawisma". Mengharap belas kasihan.

Namun, para pejalan yang kasihan, yang memberikannya "sekadar" uang receh tak tahu, dari mengemis, Simon menghasilkan uang lebih dari 50.000 poundsterling atau Rp 754 juta tiap tahun.

Simon juga bukan gelandangan. Ia tinggal di sebuah flat mahal dan nyaman berharga 300 ribu poundsterling atau Rp 4,5 miliar di London Barat.

Mengemis bagi dia bukan keterpaksaan, tapi pekerjaan. Saat hari berakhir, jelang malam, ia akan mengambil kertas yang ditulis tangan "tunawisma" dan kembali ke rumahnya yang nyaman.

Penduduk lokal mengatakan, Simon kerap menukarkan uang receh ke penjual lotre taruhan atau toko permainan. Sekali tukar, yang ia dapat sangat lumayan, antara 200 sampai 300 poundsterling atau Rp 3 juta sampai 4,5 juta.

Saat kedoknya terbongkar, pengadilan melarang Simon mengemis di mana pun di Kota London selama 2 tahun.

Jaksa publik, Oliver Strebel, yang membawa kasusnya ke pengadilan mengatakan, "Simon mendapatkan banyak uang saat mengemis."

"Ia menggunakan kertas yang mengatakan bahwa dia tunawisma. Orang-orang, yang tertipu, memberinya uang. Simon lalu mengambil uang dari gelas plastiknya dan menukarnya di penjual lotre dan tempat permainan," kata dia seperti dimuat Daily Mail, Kamis (6/6/2013).

Jaksa Oliver Strebel menambahkan, Simon hampir tiap hari mengemis. Dan itu dilakukannya selama 3 tahun belakangan.

Putney High Street di barat daya London, tempat Simon beroperasi, memang tempat menarik bagi pengemis. Ada 9 peminta-minta yang biasa menodongkan tangan di sana. Tapi, setelah penangkapan Simon, semua menghilang.

Terancam Bui

Selain larangan mengemis, Pengadilan Magistrates Wimbledon pada 14 Mei lalu juga memerintahkan Simon mengandangkan anjingnya, setelah peliharaannya dilaporkan mengingit setidaknya 1 orang.

Simon dikenakan Anti Social Behaviour Order (ASBO) hingga Mei 2015, semacam hukuman percobaan. Namun, sekali saja melanggar hukum, ia akan dikirim ke penjara, maksimal 5 tahun dan denda yang jumlahnya tak terbatas.

Juru bicara dewan keamanan masyarakat, Jonathan Cook mengatakan, semua orang yang bekerja, tinggal, atau berbelanja di Putney High Street akan lega mendengar sanksi yang dikenakan pada Simon.

"Ia biasa menargetkan orang yang baru mengambil uang di ATM. Jika targetnya tak memberikan uang, ia akan berlaku agresif dan kasar," tambah dia.

Perilaku Simon benar-benar tercela. "Apalagi nyatanya ia tinggal di flat nyaman di Fulham, sesuatu yang hanya bisa diimpi-impikan para korbannya, sangat menyakitkan."

Para korbannya yang akhirnya tahu siapa Simon, mengaku menyesal telah memberinya uang. "Aku sering memberinya uang selama bertahun-tahun. Mungkin jumlahnya sampai 20 poundsterling (Rp 300 ribu). Bisakah aku memintanya kembali?" kata Chris Faversham. (Ein/Sss)

Oleh Elin Yunita Kristanti
sumber : http://news.liputan6.com/read/605883/pengemis-hasilkan-rp-754-juta-tahun-tinggal-di-flat-rp-45-m, akses tgl 29/11/2013.
More aboutPengemis Hasilkan Rp 754 Juta/Tahun, Tinggal di Flat Rp 4,5 M

Para Pengemis `Tajir`: Flat Mewah, Duit Berlimpah, Ganteng!

Posted by Zam

Jamban Panyileukan, London : Sejumlah orang menjadi pengemis karena membutuhkan uang, tapi ada juga yang menjadikannya sebagai profesi. Seperti duo Walang bin Kilon (54) dan Sa`aran (60).

Dengan muka memelas dan dalih butuh biaya berobat, keduanya bisa mengumpukan recehan yang jumlahnya lebih banyak dari rata-rata gaji pegawai kantoran lulusan universitas -- yang minimal bekerja selama 8 jam sehari bahkan lebih.

Saat tertangkap di bawah jalan layang Pancoran, Jakarta Selatan, petugas menemukan uang dalam jumlah besar, lebih dari Rp 25 juta, yang disimpan dalam plastik kumal. Duit sebanyak itu diduga hasil mengemis hanya selama 15 hari!

Usut punya usut, Walang dan Sa'aran ternyata punya usaha ternak kambing di kampung halaman mereka di Subang. Kok masih mengemis, ya?

Ternyata, fenomena pengemis tajir tak cuma di Indonesia. Di sejumlah negara ditemukan hal serupa. Ini di antaranya:

1. Pengemis Inggris Punya Flat Mahal

Sehari-hari, Simon Wright mengenakan pakaian compang-camping yang dipadu dengan wajahnya yang menerbitkan belas kasihan. Tak disangka, pengemis yang mangkal di Bank NatWest di Putney High Street, London itu ternyata kaya raya.

Simon menghasilkan uang lebih dari 50.000 poundsterling atau lebih dari Rp 754 juta tiap tahun.

Simon juga bukan gelandangan. Ia tinggal di sebuah flat mahal dan nyaman berharga 300 ribu poundsterling atau lebih dari Rp 4,5 miliar di London Barat.

Mengemis bagi dia bukan keterpaksaan, tapi pekerjaan. Saat hari berakhir, jelang malam, ia akan mencopot kertas yang ditulis tangan "tunawisma" yang ia pajang. Kembali ke rumahnya yang nyaman.

Saat kedoknya terbongkar, pengadilan melarang Simon mengemis di mana pun di Kota London selama 2 tahun. [Baca juga: Pengemis Hasilkan Rp 754 Juta/Tahun, Tinggal di Flat Rp 4,5 M]

2. Pengemis Ganteng Anak Orang Kaya

Situs Asia One, September 2011, memberitakan tentang pengemis ganteng yang minta belas kasihan warga di kawasan Bedok Reservoir, Singapura.

Dengan mengemis, dia bisa mengumpulkan uang 50 dolar Singapura atau jika dikonversikan dengan kurs saat ini mencapai Rp 470 ribu. Hanya dalam setengah hari!

Sejumlah warga mendeskripsikan pengemis itu berusia sekitar 30 tahun, masih muda, dan bertubuh sehat. Ia punya tato di lengan, sering menggunakan topi. Tampangnya pun lumayan sampai-sampai mendapat julukan 'si tampan'.

Suatu hari seorang pembaca koran Shin Min Daily News mengaku mengenali pengemis misterius sebagai 'Ah Qing' yang kerap dipenjara karena kebiasaannya menghirup lem.

Kata pembaca itu, Ah Qing berasal dari keluarga relatif kaya yang punya bisnis grosir roti.

Dari penampakannya, Ah Qing juga terlihat terdidik. Dia bahkan bisa bicara Bahasa Inggris dengan lancar.

3. Nyawa Melayang Saat 'Kaya Raya'

Sesosok jasad pengemis tak dikenal terbaring di Panigram Chowk, India. Saat petugas mencari identitasnya, mereka menemukan uang di kantongnya. Total 198 ribu rupee atau sekitar Rp 37,6 juta.

"Dia berusia sekitar 60 tahun, pakaian robek, tas lusuh. Kami menggeledah tubuhnya untuk menemukan identitas dan menemukan uang di kantung celananya," kata petugas polisi yang menangani jasad pengemis itu, seperti dikutip dari Times of India.

"Total 198 ribu rupee. Belakangan kami tahu dia kerap menukarkan koin-koinnya ke uang kertas 1000 dan 500 rupee ke penjaga toko."

Hasil otopsi menyebut, pria tersebut meninggal karena tak mendapat perawatan semestinya untuk penyakit yang ia derita. Tragis.

4. Pengemis Palsu, Rp 1 M/Tahun

Seorang pria asal Texas, Amerika Serikat pura-pura mengalami gangguan jiwa dan cacat fisik hingga bergantung dengan kursi roda. Ternyata, itu modalnya menjadi pengemis. Gary Thompson, namanya, berhasil membuat orang kasihan.

Berkat aktingnya yang meyakinkan, ia bisa mengumpulkan uang US$ 100 ribu atau sekitar Rp 1 miliar setahun.

Padahal, ia pernah memenangkan gugatan senilai US$ 2,4 juta terkait kecelakaan motor pada 1993. Namun, pada para pemakai jalan, ia mengobral kisah sedih, saat terbaring lumpuh uang itu dihabiskan keluarganya.

Kebohongannya itu terkuak berkat investigasi stasiun televisi LEX 18 pada Februari 2013 lalu. Kendati demikian, Gary tak kapok juga. Ia masih sanggup tertawa saat kedoknya terbongkar.

"Aku menghargai kalian yang berhasil membuka rahasiaku," kata dia. "Yah, aku melakukannya dengan baik. Dalam setahun aku bisa menghasilkan US$ 100 ribu dengan melakukan ini," kata dia. (Ein/Yus)

Oleh Elin Yunita Kristanti
sumber : http://news.liputan6.com/read/758703/para-pengemis-tajir-flat-mewah-duit-berlimpah-ganteng, akses tgl 29/11/2013.
More aboutPara Pengemis `Tajir`: Flat Mewah, Duit Berlimpah, Ganteng!

Geliat Fantastis Pengemis Jutawan Ibukota

Posted by Zam

Jamban Panyileukan, Jakarta : Kantong plastik kumal berwarna hitam dan gerobak penyimpan uang menjadi saksi betapa jutawannya para pengemis di Ibukota. Lembaran demi lembaran yang mereka kumpulkan setiap hari dari mengemis. Tak disangka hasil geliat mereka bisa mencapai jumlah yang fantastis.

Rp 25 juta. Itulah angka yang diperoleh geliat duo pengemis bernama Walang bin Kilon (54) dan Sa'aran (60) dalam 15 hari di Ibukota. Jumlah itu tentunya menohok para karyawan yang berpenghasilan tak sebesar duo pengemis tajir itu dalam waktu sebulan.

Penangkapan Walang dan Sa'aran yang merupakan kerabat dekat saat mengemis di Pancoran, menyibak tabir di balik praktik mengemis di Ibukota. Hanya dengan meminta belas kasihan masyarakat, mereka bisa mengantongi puluhan juta rupiah dalam kurun waktu 2 mingguan.

Bagaimana tidak, sebab dalam sehari saja keduanya mampu meraup ratusan ribu rupiah. Uang itu kemudian dibagi rata berdua.

"Sehari paling Rp 100-150 ribu. Itu juga dibagi dua," kata Walang di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2, Cipayung, Jakarta Timur, Kamis 28 November 2013.

Pengakuan yang cukup mencengangkan, duo pengemis itu sempat menyogok petugas Rp 600 ribu agar tak jadi ditangkap. Namun petugas tak terpedaya dan tetap mengangkut keduanya ke Kantor Walikota Jakarta Selatan dan menyerahkan duo pengemis itu ke Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2, Cipayung, Jakarta Timur.

Walang juga mengaku ke Jakarta karena terbelit utang untuk membayar cicilan haji. Yang uang mukanya didapat dari hasil judi di kampung halaman terkait kepala Desa Ranca Asih sebesar Rp 20 juta. "Kepepet, kan kudu bayar Rp 1 juta sebulan. Buat cicilan haji," ucapnya.

Setelah haji, bahkan Walang bercita-cita ingin membeli mobil hanya karena gengsi. "Ya, habis naik haji mau punya mobil. Gengsi, masa sudah haji nggak punya mobil," tambah dia.

Meski terbilang sukses mengemis, Walang membantah menggunakan jampi-jampi khusus. "Cuma bismillahirrohmanirrohim aja sudah," tuturnya.

Bapak 2 anak itu mengaku hanya melakukan 3 hal untuk memperlancar aksi mengemisnya: menyapa warga, menengadahkan tangan, dan mendoakan tiap penyumbang. "Assalamualaikum, terima kasih Pak, semoga diberikan rezeki yang berlimpah," urai pria bertubuh kurus itu.

Menepis kabar penggunaan jampi-jampi, Walang justru menuding rekan kerjanya, Sa'aran. Menurut dia, Sa'aran punya banyak jampi-jampi. "Sa'aran tuh yang punya jampi-jampi. Dia punya banyak jampi-jampi," ujar Walang sambil menunjuk Sa'aran yang duduk di kursi roda.

Saat dikonfirmasi soal jampi-jampi, Sa'aran terdiam sebentar. Kemudian dia menjelaskan hal yang dilakukannya saat mengemis.

"Pegang kaleng. Colek-colek pakai kaleng, terus cikum (assalamualaikum). Dikasih, jalan," tutur Sa'aran yang sudah mengalami gangguan pendengaran itu.

Setelah terjaring, kini pria yang kerap dipanggil haji meski belum berangkat haji itu pun mengaku kapok. Setelah bebas nanti, ia pun akan hengkang dari Ibukota bersama kerabatnya itu.

"Ya malu, masa Pak Haji tapi ngemis," tukas Walang.

Cari Jurus

Geliat duo pengemis jutawan ini pun membuat tokoh nomor 1 di DKI Jakarta yakni Jokowi angkat suara. Namun, Gubernur DKI Jakarta itu mengaku belum punya jurus untuk melibas para pengemis dari Ibukota.

"Belum punya jurus. Kamu punya usulan apa?" tanya pria bernama lengkap Joko Widodo itu di Diorama Monas, Jakarta Pusat.

Sejauh ini Jokowi mengaku hanya melakukan razia dan pembinaan di panti sosial saja.

Aksi duo pengemis jutawan yang mengaku memiliki usaha ternak di kampung halamannya, juga sebagai bukti tak semua pengemis merupakan orang tak mampu.

Menurut Kepala Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2 Purwono, mereka membalut diri dengan apik. Mereka berpura-pura sakit dan cacat. Dengan itu, mereka menarik perhatian masyarakat.

"Jangan percaya kalau ada pengemis pura-pura sakit atau pura-pura pincang. Ini buktinya," jelas Purwono.

Fenomena pengemis jutawan ternyata tak hanya terjadi di Ibukota. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo pun turut buka suara.

Ganjar mengakui di daerahnya banyak terjadi fenomena seperti itu. Lantaran banyak orang yang mengadu nasib di kota-kota besar. Mereka berdatangan dari daerah-daaerah lain dan menjadi pengemis.

"Ada fenomena itu sama, karena mereka juga datang dari banyak daerah. Di Jateng juga terjadi," kata Ganjar sebelum menghadiri rapat dengan Badan Legislasi (Baleg) DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta.

Kini, uang Rp 25 juta yang Rp 21 juta dibawa Walang dari kampung halaman karena takut diambil anak tirinya telah dikembalikan kepadanya. Sementara duo pengemis itu sedang menjalani pembinaan.

Denda Sumbang Pengemis

Menanggapi penangkapan duo pengemis berpenghasilan fantastis itu, Wakil Gubernur DKI pun Basuki Tjahaja Purnama menyatakan pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan terus menggalakkan Jakarta bebas pengemis. Ia pun menargetkan 2014 mendatang Ibukota bebas pengemis layaknya kebijakan 'Jakarta Bebas Topeng Monyet 2014'.

Sementar guna mengantisipasi agar masyarakat tidak lagi memberi uang kepada pengemis, mantan Bupati Belitung Timur itu menegaskan, pihaknya akan segera menegakkan Perda DKI Jakarta Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum Pasal 40, yang selama ini masih sebatas aturan. Yang nantinya akan menjatuhkan denda bagi para pemberi sumbangan kepada pengemis.

Ahok menjelaskan, pelanggaran tersebut diatur dalam Pasal 67 dengan ancaman pidana kurungan paling singkat 10 hari dan paling lama 60 hari atau denda paling sedikit Rp 100 ribu dan paling banyak Rp 20 juta. Bahkan, Ahok menginginkan sanksi denda dinaikkan menjadi minimal Rp 500 ribu.

"Kita akan tegakkan lagi. Kan udah ada perdanya. Kalau Anda kasih uang kepada pengemis juga didenda. Kita akan perluas. Bisa Rp 500 ribu mungkin," tukas Ahok. (Tnt/Sss)

Oleh Tanti Yulianingsih dan Ahmad Romadhoni
sumber : http://news.liputan6.com/read/759618/geliat-fantastis-pengemis-jutawan-ibukota, akses tgl 29/11/2013.
More aboutGeliat Fantastis Pengemis Jutawan Ibukota

"Pengemis Rp 25 Juta" Sudah DP Haji Rp 30 Juta

Posted by Zam

JAKARTA, Jamban Panyileukan — Walang bin Kilon (54), pengemis asal Subang yang dalam 15 hari mengantongi Rp 25 juta, berencana pergi haji pada 2019. Bahkan, dia telah menyetor uang muka (down payment/DP) Rp 30 juta.

"Kalau haji, saya sudah bayar DP Rp 30 juta. Katanya 2019 nanti berangkat," kata Walang ditemui di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2, Jalan Bina Marga No 48, Kelurahan Ceger, Cipayung, Jakarta Timur, Kamis (28/11/2013).

Uang sebesar itu, kata Walang, didapatnya dari hasil mengemis di Jakarta dan berbisnis sapi di kampungnya.

Walang merupakan pengemis yang ditertibkan oleh Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan pada Senin (25/11/2013), di Pancoran, Jakarta Selatan, dengan penghasilan Rp 150.000 per hari. Ia diamankan saat mengemis di lokasi tersebut bersama rekannya, Sa'aran (70). Kini mereka berada di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2.

Sementara uang Rp 25.448.600 milik Walang dan Sa'aran diamankan pengelola Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2. Menurut petugas panti sosial, Abdul Khair, uang itu telah diambil Walang Rp 48.600 untuk membeli pulsa telepon seluler sehingga uangnya tinggal Rp 25.400.000.

Editor : Ana Shofiana Syatiri
Sumber : 
- Warta Kota
- http://megapolitan.kompas.com/read/2013/11/28/1636290/.Pengemis.Rp.25.Juta.Sudah.DP.Haji.Rp.30.Juta, akses tgl 29/11/2013.

More about"Pengemis Rp 25 Juta" Sudah DP Haji Rp 30 Juta

Asal Mula Uang Rp 25 Juta Si Pengemis Tajir

Posted by Zam

Jamban Panyileukan, JAKARTA -- Masyarakat kaget dengan berita adanya pengemis yang membawa uang Rp 25 juta yang disimpan rapi menggunakan sejumlah plastik hitam. Walang, si pengemis tajir itu, mengakui bahwa uang yang terjaring razia di kolong flyover Pancoran itu adalah miliknya.

Lantas, dari manakah Walang mendapatkan uang sebesar Rp 25 juta itu? Warga Kampung Waladin, RT 24/06 Kelurahan Pasir Bungur, Kecamatan Purwodadi ini mengaku, uang sebanyak itu dihasilkan dari tabungan miliknya. Ia terpaksa membawa uang itu lantaran khawatir jika ditinggal di rumah, diambil oleh anak tirinya. Terlebih, Walang punya pengalaman pahit sebelumnya yakni kehilangan uang Rp 8 juta yang diduga dicuri oleh anak tirinya. 

Walang pun mengaku enggan menyimpan uang tersebut di bank lantaran tak ingin repot. "Repot kalau disimpan di bank. Mending dibawa-bawa, tapi jujur khawatir juga sih," ujar Walang di PSBI Bangun Daya II, Cipayung, Jakarta Timur, seperti dilansir situs beritajakarta. 

Dikatakan Walang, uang sebanyak itu didapat dari usaha penjualan kambing dan sapi di kampung halamannya. Uang sebesar itu, sambungnya, akan digunakan dirinya berangkat ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Sejauh ini, Walang mengaku sudah menyetorkan uang sebesar Rp 15 juta kepada salah satu biro perjalanan haji di Subang sebagai biaya pendaftaran. Walang sendiri mengaku akan berangkat haji pada tahun 2019 mendatang. 

Mantan pengayuh becak selama 21 tahun di Bekasi ini mengaku, setiap bulan harus menyetorkan cicilan biaya haji sebesar Rp 1,4 juta. Lantaran usaha penjualan kambing dan sapinya tidak diteruskan lagi, ia pun akhirnya nekat datang ke Jakarta untuk menjadi pengemis dengan mengharap belas kasihan warga ibu kota. 

Dalam sehari mengemis, keduanya bisa meraup Rp 100-200 ribu. Bahkan, saat Hari Raya Idul Fitri lalu, masing-masing memperoleh uang sebesar Rp 1 juta. "Jadi, uang Rp 25 juta itu terdiri dari Rp 20 juta hasil dari penjualan kambing dan sapi. Sedangkan sisanya ya hasil dari mengemis," kata Walang.

Redaktur : Endah Hapsari
sumber : http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/13/11/29/mwzv3z-asal-mula-uang-rp-25-juta-si-pengemis-tajir, akses tgl 29/11/2013.
More aboutAsal Mula Uang Rp 25 Juta Si Pengemis Tajir

Berakhirnya Petualangan Si Pengemis Tajir

Posted by Zam

Jamban Panyileukan, JAKARTA -- Berakhir sudah petualangan Walang bin Kilon (54), menjadi pengemis saat terjaring razia di kolong flyover Pancoran, Selasa (26/11) malam. Sebelumnya, selama sekitar enam bulan, bersama tetangga di kampung halamannya, Sa`aran bin Satiman (70), keduanya melanglang buana sebagai pengemis di wilayah Bekasi dan Jakarta.

Sepintas tak ada yang membedakan penampilan Walang dengan rekan-rekannya sesama pengemis. Hanya saja, publik dikagetkan ketika terjaring razia di kolong flyover Pancoran, ditemukan uang sebesar Rp 25 juta milik Walang yang disimpan rapi menggunakan sejumlah plastik hitam.  

Di Jakarta, bersama rekannya Sa`aran, Walang hanya bermodalkan gerobak. Jl Raya Inspeksi Kali Malang menjadi salah satu lokasi favoritnya untuk mengemis. Sedangkan untuk tidur dan beristirahat, Walang Sa`aran terpaksa tidur di masjid, atau di emperan toko serta SPBU seperti dilansir situs beritajakarta.

Kini petualangan keduanya sebagai pengemis berakhir sudah. Walang dan Sa`aran terjaring razia yang digelar Sudin Sosial Jakarta Selatan di kolong flyover Pancoran. Akibat perbuatannya itu, kini keduanya harus mendekam di PSBI Bangun Daya II, Cipayung, Jakarta Timur sebagai warga binaan. 

Redaktur : Endah Hapsari
sumber : http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/13/11/29/mwzuw6-berakhirnya-petualangan-si-pengemis-tajir, akses tgl 29/11/2013.
More aboutBerakhirnya Petualangan Si Pengemis Tajir

Ini Motif Walang, Si Pengemis Tajir

Posted by Zam

Sa'aran (kanan) dan Walang (kiri)
di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya II, Cipayung, Jakarta, (28/11).
Sa'aran mengatakan bahwa ia hanya menurut Walang saja,
disuruh berpura-pura sakit agar orang kasihan dan memberi uang.
TEMPO/Eko Siswono Toyudho
Jamban Panyileukan, Jakarta - Kepala Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2, Purwono, mengatakan setidaknya ada dua motif yang mendasari Walang, 54 tahun, dan Sa'aran, 70 tahun, untuk mengemis di Jakarta. Pertama, yang bersangkutan memang tak memiliki pekerjaan tetap di kampung halamannnya. Akhirnya, mereka ke Jakarta untuk mendapatkan uang dengan cara instan (mengemis).

Kedua, ia menambahkan, mereka tak punya keterampilan yang memadai di kampung. Selain itu, pengaruh lingkungan pun turut andil sehingga mereka mengemis. "Orang lain bisa, kenapa saya tidak," ujar Purwono, Kamis, 28 November 2013.

Sebelumnya, Walang dan Sa'aran terkena penertiban oleh Suku Dinas Jakarta Selatan pada 25 November 2013 di daerah Pancoran. Dari hasil pemeriksaan ditemukan uang sebesar 25 juta di gerobaknya.

Walang mengatakan dirinya hanya bekerja sebagai penjual sapi dan kambing di kampung. Tak hanya itu, Walang mengaku bekerja sebagai petani penggarap di kampungnya. Ia menyewa lahan di kampung untuk menanam kedelai.

Ia berdalih panen yang belum kunjung datang membuatnya mengemis di Jakarta. Di Jakarta, Walang mengaku sudah mengemis selama enam bulan. "Setiap dua minggu pulang ke kampung dengan membawa hasil dari mengemis. Hasilnya tergantung, biasanya Rp 100-200 ribu per hari."

Hasil tersebut, ia berujar kembali, dibagi dua dengan Sa'aran--yang didorong di gerobak. Menurut Sa'aran, pembagian hasil sama rata tergantung dari pendapatan hari itu. Sa'aran mengaku diajak Walang ke Jakarta untuk mengemis. Pria asal Subang itu menyatakan tak dipaksa pergi ke Jakarta oleh Walang. "Sa'aran itu tetangga saya, yang kemudian saya ajak ke Jakarta untuk mengemis," ujar Walang.

Purwono mengatakan pihaknya akan segera memulangkan kedua pengemis itu ke Subang. Kendati demikian, pihaknya masih menunggu beberapa surat yang mesti dipenuhi. Semisal surat keterangan dari RT dan lurah tempat mereka tinggal. Dari Sudin yang menertibkan dan dari Suku Dinas DKI Jakarta. "Nanti biar lurah dan RT-nya tahu bahwa ada warganya yang mengemis sehingga pemerintah setempat melakukan pemberdayaan," ujar Purwono.

ERWAN HERMAWAN
sumber : http://www.tempo.co/read/news/2013/11/28/064533117/Ini-Motif-Walang-Si-Pengemis-Tajir, akses tgl 29/11/2013.
More aboutIni Motif Walang, Si Pengemis Tajir